Memuat

Terjemahan [21]

Pembalikan

“Para bhikkhu, ada empat pembalikan persepsi, pembalikan pikiran, dan pembalikan pandangan. Apakah empat ini? (1) Pembalikan persepsi, pikiran, dan pandangan yang menganggap apa yang tidak kekal sebagai kekal; (2) pembalikan persepsi, pikiran, dan pandangan yang menganggap apa yang merupakan penderitaan sebagai menyenangkan; (3) pembalikan persepsi, pikiran, dan pandangan yang menganggap apa yang bukan-diri sebagai diri; (4) pembalikan persepsi, pikiran, dan pandangan yang menganggap apa yang tidak menarik sebagai menarik. Ini adalah empat pembalikan persepsi, pembalikan pikiran, dan pembalikan pandangan itu.

“Ada, para bhikkhu, empat bukan-pembalikan persepsi, bukan-pembalikan pikiran, dan bukan-pembalikan pandangan. Apakah empat ini? (1) Bukan-pembalikan persepsi, bukan-pembalikan pikiran, dan bukan-pembalikan pandangan yang menganggap apa yang tidak kekal sebagai tidak kekal; (2) bukan-pembalikan persepsi, bukan-pembalikan pikiran, dan bukan-pembalikan pandangan yang menganggap apa yang merupakan penderitaan sebagai penderitaan; (3) bukan-pembalikan persepsi, bukan-pembalikan pikiran, dan bukan-pembalikan pandangan yang menganggap apa yang bukan-diri sebagai bukan-diri; (4) bukan-pembalikan persepsi, bukan-pembalikan pikiran, dan bukan-pembalikan pandangan yang menganggap apa yang tidak menarik sebagai tidak menarik. Ini adalah keempat bukan-pembalikan persepsi, bukan-pembalikan pikiran, dan bukan-pembalikan pandangan itu.”

Melihat ketidak-kekalan sebagai kekekalan,
melihat kenikmatan di dalam apa yang merupakan penderitaan,
melihat diri di dalam apa yang bukan-diri,
dan melihat kemenarikan di dalam apa yang tidak menarik,
makhluk-makhluk mendatangi pandangan salah,
pikiran mereka kacau, persepsi mereka terpelintir.

Orang-orang demikian terikat oleh kuk Māra,
dan tidak mencapai keamanan dari belenggu.
Makhluk-makhluk berlanjut dalam saṁsāra,
menuju kelahiran dan kematian.

Tetapi ketika para Buddha muncul di dunia,
memancarkan cahaya cemerlang,
mereka mengungkapkan Dhamma ini yang menuntun
menuju ditenangkannya penderitaan.

Setelah mendengarnya, orang-orang bijaksana
telah tersadarkan kembali.
Mereka telah melihat ketidak-kekalan sebagai ketidak-kekalan
dan apa yang merupakan penderitaan sebagai penderitaan.

Mereka telah melihat apa yang bukan-diri sebagai bukan-diri
Dan yang tidak menarik sebagai tidak menarik.
Dengan memperoleh pandangan benar,
Mereka telah mengatasi segala penderitaan.

Komentar [0]