Memuat

The Middle Āgama

MA101 Kotbah tentang Keadaan Pikiran yang Lebih Tinggi

Terjemahan [4]

Kotbah tentang Keadaan Pikiran yang Lebih Tinggi

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī, di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu:

‘Jika seorang bhikkhu berharap untuk mencapai keadaan pikiran yang lebih tinggi (adhicitta) maka ia seharusnya berulang-ulang memperhatikan lima tanda. Melalui perhatian berulang-ulang pada lima tanda ini, pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat yang muncul akan dengan cepat dipadamkan, pikiran akan terus-menerus berkembang dalam ketenangan internal; ia akan menjadi terpusat dan mencapai konsentrasi.

‘Apakah lima tanda itu? Jika pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat muncul ketika seorang bhikkhu memberikan perhatian pada suatu tanda yang berhubungan dengan apa yang bermanfaat, maka karena tanda yang mendahului ini telah membawa pada munculnya pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat, ia seharusnya alih-alih memperhatikan tanda yang berbeda yang berhubungan dengan apa yang bermanfaat sehingga pemikiran-pemikiran jahat dan tidak bermanfaat tidak akan muncul kembali.

‘Jika, karena tanda yang mendahului telah membawa pada munculnya pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat, ia alih-alih memperhatikan tanda yang berbeda yang berhubungan dengan apa yang bermanfaat, maka pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat yang telah muncul akan dengan cepat dipadamkan. Dengan pemikiran-pemikiran jahat yang telah dipadamkan, pikirannya akan terus-menerus berkembang dalam ketenangan internal; ia akan menjadi terpusat dan mencapai konsentrasi.

‘Seperti halnya seorang tukang kayu atau murid tukang kayu dapat menerapkan seutas benang bertinta pada sepotong kayu untuk menandai garis lurus, dan kemudian memotong kayu itu dengan sebuah kapak yang tajam untuk membuatnya lurus. Dengan cara yang sama, karena tanda yang mendahului telah membawa pada munculnya pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat, bhikkhu itu alih-alih memperhatikan tanda yang berbeda yang berhubungan dengan apa yang bermanfaat sehingga pemikiran-pemikiran jahat dan tidak bermanfaat tidak akan muncul kembali.

‘Jika, karena tanda yang mendahului telah membawa pada munculnya pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat, ia alih-alih memperhatikan tanda yang berbeda yang berhubungan apa yang bermanfaat, maka pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat yang telah muncul akan dengan cepat dipadamkan. Dengan pemikiran-pemikiran jahat yang telah dipadamkan, pikirannya akan terus-menerus berkembang dalam ketenangan internal; ia akan menjadi terpusat dan mencapai konsentrasi.

‘Jika seorang bhikkhu berharap untuk mencapai keadaan pikiran yang lebih tinggi, ia seharusnya berulang-ulang memperhatikan tanda pertama yang berbeda ini. Melalui perhatian pada tanda ini, pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat yang muncul akan dengan cepat dipadamkan. Dengan pemikiran-pemikiran jahat yang telah dipadamkan, pikirannya akan terus-menerus berkembang dalam ketenangan internal; ia akan menjadi terpusat dan mencapai konsentrasi.

‘Selanjutnya, jika pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat muncul ketika seorang bhikkhu memberikan perhatian pada suatu tanda yang berhubungan dengan apa yang bermanfaat, maka ia seharusnya merenungkan pemikiran-pemikiran ini sebagai jahat dan diliputi oleh bahaya demikian: “Pemikiran-pemikiran ini adalah tidak bermanfaat, pemikiran-pemikiran ini adalah jahat, pemikiran-pemikiran ini dicela oleh para bijaksana. Seseorang yang dipenuhi oleh pemikiran-pemikiran ini tidak akan mencapai penembusan, tidak akan mencapai jalan menuju pencerahan, tidak akan mencapai nirvana, karena mereka akan menyebabkan munculnya pemikiran-pemikiran jahat dan tidak bermanfaat yang lebih jauh.”

‘Jika ia merenungkannya dengan cara ini sebagai jahat, maka pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat yang telah muncul akan dengan cepat dipadamkan. Dengan pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat yang telah dipadamkan, pikirannya akan terus-menerus berkembang dalam ketenangan internal; ia akan menjadi terpusat dan mencapai konsentrasi.

‘Seperti halnya seseorang pemuda yang sangat tampan dapat mandi dan membersihkan dirinya sendiri, berpakaian dalam pakaian yang bersih, menggunakan wewangian pada tubuhnya, dan menyisir janggut dan rambutnya, agar bersih tanpa noda. Jika seseorang mengambil bangkai ular, bangkai anjing, atau mayat manusia yang telah setengah dimakan oleh hewan, atau berwarna kebiruan, bengkak dan membusuk, dengan ketidakmurnian mengalir keluar, dan meletakkan bangkai hewan atau mayat itu di sekeliling leher pemuda itu, maka orang itu akan jijik terhadap kotoran itu, mereka tidak akan menikmati atau menyukainya. Dengan cara yang sama, seorang bhikkhu seharusnya merenungkan pemikiran-pemikiran yang muncul ini sebagai jahat dan diliputi oleh bahaya demikian: “Pemikiran-pemikiran ini adalah tidak bermanfaat, pemikiran-pemikiran ini adalah jahat, pemikiran-pemikiran ini dicela oleh para bijaksana. Seseorang yang dipenuhi oleh pemikiran-pemikiran ini tidak akan mencapai penembusan, tidak akan mencapai jalan menuju pencerahan, tidak akan mencapai nirvana, karena mereka akan menyebabkan munculnya pemikiran-pemikiran jahat dan tidak bermanfaat yang lebih jauh.”

‘Jika ia merenungkannya dengan cara ini sebagai jahat, maka pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat yang telah muncul akan dengan cepat dipadamkan. Dengan pemikiran-pemikiran jahat yang telah dipadamkan, pikirannya akan terus-menerus berkembang dalam ketenangan internal; ia akan menjadi terpusat dan mencapai konsentrasi.

‘Jika seorang bhikkhu berharap untuk mencapai keadaan pikiran yang lebih tinggi, maka ia seharusnya berulang-ulang memperhatikan tanda kedua ini. Melalui perhatian pada tanda ini, pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat yang muncul akan dengan cepat dipadamkan. Dengan pemikiran-pemikiran jahat yang telah dipadamkan, pikirannya akan terus-menerus berkembang dalam ketenangan internal; ia akan menjadi terpusat dan mencapai konsentrasi.

‘Selanjutnya, jika pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat muncul ketika seorang bhikkhu memberikan perhatian pada suatu tanda yang berhubungan dengan apa yang bermanfaat, dan jika ketika ia merenungkan pemikiran-pemikiran ini sebagai pemikiran-pemikiran jahat dan tidak bermanfaat yang berbahaya muncul kembali, maka bhikkhu itu seharusnya tidak memperhatikan pemikiran-pemikiran tersebut, karena mereka akan menyebabkan munculnya pemikiran-pemikiran jahat dan tidak bermanfaat yang lebih jauh.

‘Jika ia tidak memperhatikan pemikiran-pemikiran ini, maka pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat yang telah muncul akan dengan cepat dipadamkan. Dengan pemikiran-pemikiran jahat yang telah dipadamkan, pikirannya akan terus-menerus berkembang dalam ketenangan internal; ia akan menjadi terpusat dan mencapai konsentrasi.

‘Seperti halnya ketika terdapat bentuk-bentuk terlihat di suatu tempat yang cukup terang dan seseorang dengan penglihatan baik yang tidak memiliki keinginan untuk melihatnya menutup matanya atau berbalik dan pergi. Apakah yang kalian pikirkan? Bentuk-bentuk terlihat tersebut yang berada di suatu tempat yang cukup terang, apakah orang itu dapat menerima gambaran bentuk tersebut?’

Para bhikkhu menjawab, “Ia tidak akan menerima gambaran tersebut.”

Sang Buddha berkata:

‘Dengan cara yang sama, seorang bhikkhu seharusnya tidak memperhatikan pemikiran-pemikiran ini, karena mereka akan menyebabkan munculnya pemikiran-pemikiran jahat dan tidak bermanfaat yang lebih jauh. Jika ia tidak memperhatikan pemikiran-pemikiran ini, maka pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat yang telah muncul akan dengan cepat dipadamkan. Dengan pemikiran-pemikiran jahat yang telah dipadamkan, pikirannya akan terus-menerus berkembang dalam ketenangan internal; ia akan menjadi terpusat dan mencapai konsentrasi.

‘Jika seorang bhikkhu berharap untuk mencapai keadaan pikiran yang lebih tinggi, maka ia seharusnya berulang-ulang memperhatikan tanda ketiga ini. Melalui perhatian pada tanda ini, pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat yang muncul akan dengan cepat dipadamkan. Dengan pemikiran-pemikiran jahat yang telah dipadamkan, pikirannya akan terus-menerus berkembang dalam ketenangan internal; ia akan menjadi terpusat dan mencapai konsentrasi.

‘Selanjutnya, jika pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat muncul ketika bhikkhu itu memberikan perhatian pada suatu tanda yang berhubungan dengan apa yang bermanfaat; dan jika, ketika ia merenungkan pemikiran-pemikiran ini sebagai jahat dan berbahaya, pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat muncul kembali; dan jika, ketika ia tidak memperhatikan pemikiran-pemikiran tersebut, pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat yang lebih jauh; maka, sehubungan dengan pemikiran-pemikiran ini, bhikkhu itu seharusnya menggerakkan kehendaknya untuk mengurangi pemikiran-pemikiran tersebut secara bertahap sehingga pemikiran-pemikiran jahat dan tidak bermanfaat tidak muncul kembali.

‘Jika sehubungan dengan pemikiran-pemikiran ini ia menggerakkan kehendaknya untuk mengurangi pemikiran-pemikiran itu secara bertahap, maka pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat yang telah muncul akan dengan cepat dipadamkan. Dengan pemikiran-pemikiran jahat yang telah dipadamkan, pikirannya akan terus-menerus berkembang dalam ketenangan internal; ia akan menjadi terpusat dan mencapai konsentrasi.

‘Seperti halnya seseorang yang berjalan dengan cepat, terburu-buru, dapat merenungkan, “Mengapakah aku terburu-buru? Tidakkah lebih baik aku berjalan lebih perlahan sekarang?” dan demikianlah ia berjalan dengan perlahan. Kemudian ia merenungkan lagi, “Mengapakah aku berjalan dengan perlahan? Tidakkah lebih baik aku berdiri diam?” dan demikianlah ia berdiri diam. Kemudian ia merenungkan lagi, “Mengapakah aku berdiri? Tidakkah lebih baik aku duduk?” dan demikianlah ia duduk. Kemudian ia merenungkan lagi, “Mengapakah aku duduk? Tidakkah lebih baik aku berbaring?” dan demikianlah ia berbaring. Dengan cara ini orang itu secara bertahap menenangkan aktivitas jasmani kasarnya.

‘Seharusnya dipahami bahwa bhikkhu itu juga seperti ini bahwa ketika, sehubungan dengan pemikiran-pemikiran ini, ia menggerakkan kehendaknya untuk mengurangi pemikiran-pemikiran tersebut secara bertahap sehingga pemikiran-pemikiran jahat dan tidak bermanfaat tidak muncul kembali.

‘Jika, sehubungan dengan pemikiran-pemikiran ini, ia menggerakkan kehendaknya untuk mengurangi pemikiran-pemikiran itu secara bertahap, maka pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat yang telah muncul akan dengan cepat dipadamkan. Dengan pemikiran-pemikiran jahat yang telah dipadamkan, pikirannya akan terus-menerus berkembang dalam ketenangan internal; ia akan menjadi terpusat dan mencapai konsentrasi.

‘Jika seorang bhikkhu berharap untuk mencapai keadaan pikiran yang lebih tinggi, maka ia seharusnya berulang-ulang memperhatikan tanda keempat ini. Melalui perhatian pada tanda ini, pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat yang telah muncul akan dengan cepat dipadamkan. Dengan pemikiran-pemikiran jahat yang telah dipadamkan, pikirannya akan terus-menerus berkembang dalam ketenangan internal; ia akan menjadi terpusat dan mencapai konsentrasi.

‘Selanjutnya, jika pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat muncul ketika seorang bhikkhu memberikan perhatian pada suatu tanda yang berhubungan dengan apa yang bermanfaat; dan jika, ketika ia merenungkan pemikiran-pemikiran ini sebagai jahat dan berbahaya, pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat juga muncul; dan jika, ketiak ia tidak memperhatikan pemikiran-pemikiran tersebut, pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat yang lebih lanjut muncul; dan jika ketika ia menggerakkan kehendaknya untuk mengurangi pemikiran-pemikiran tersebut secara bertahap, pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat muncul kembali; maka bhikkhu itu seharusnya merenungkan demikian: “Jika, karena pemikiran-pemikiran ini, pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat ini muncul dalam diri seorang bhikkhu, maka bhikkhu itu seharusnya, dengan gigi yang digertakkan dan lidah yang ditekan terhadap langit-langit mulutnya, menggunakan pikiran untuk mengendalikan pikiran, dengan menggenggamnya dan menundukkannya, sehingga pemikiran-pemikiran jahat dan tidak bermanfaat tidak muncul kembali.”

‘Jika ia menggunakan pikiran untuk menggendalikan pikiran, dengan menggenggamnya dan menundukkannya, maka pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat yang telah muncul akan dengan cepat dipadamkan. Dengan pemikiran-pemikiran jahat yang telah dipadamkan, pikirannya akan terus-menerus berkembang dalam ketenangan internal; ia akan menjadi terpusat dan mencapai konsentrasi.

‘Seperti halnya dua orang yang kuat dapat mencengkeram seorang yang lemah, dengan menggenggamnya dan menundukkannya. Dengan cara yang sama seorang bhikkhu, dengan gigi yang digertakkan dan lidah yang ditekan terhadap langit-langit mulutnya, menggunakan pikiran untuk mengendalikan pikiran, dengan menggenggamnya dan menundukkannya sehingga pemikiran-pemikiran jahat dan tidak bermanfaat tidak muncul kembali.

‘Jika ia menggunakan pikiran untuk mengendalikan pikiran, menggenggamnya dan menundukkannya, maka pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat yang telah muncul akan dengan cepat dipadamkan. Dengan pemikiran-pemikiran jahat yang telah dipadamkan, pikirannya akan terus-menerus berkembang dalam ketenangan internal; ia akan menjadi terpusat dan mencapai konsentrasi.

‘Jika seorang bhikkhu berharap untuk mencapai keadaan pikiran yang lebih tinggi, maka ia seharusnya berulang-ulang memperhatikan tanda kelima ini. Melalui perhatian pada tanda ini, pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat yang telah muncul akan dengan cepat dipadamkan. Dengan pemikiran-pemikiran jahat yang telah dipadamkan, pikirannya akan terus-menerus berkembang dalam ketenangan internal; ia akan menjadi terpusat dan mencapai konsentrasi.

‘Jika seorang bhikkhu berharap untuk mencapai keadaan pikiran yang lebih tinggi, ia seharusnya berulang-ulang memperhatikan lima tanda ini. Melalui perhatian berulang-berulang pada lima tanda ini, pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat yang telah muncul akan dengan cepat dipadamkan. Dengan pemikiran-pemikiran jahat yang telah dipadamkan, pikirannya akan terus-menerus berkembang dalam ketenangan internal; ia akan menjadi terpusat dan mencapai konsentrasi.

‘Jika ketika seorang bhikkhu memberikan perhatian pada suatu tanda yang berhubungan pada apa yang bermanfaat, pemikiran-pemikiran jahat tidak muncul kembali; jika ketika ia merenungkan pemikiran-pemikiran jahat sebagai jahat dan berbahaya, pemikiran-pemikiran jahat juga tidak muncul kembali; jika ketika ia tidak memperhatikan pemikiran-pemikiran jahat, pemikiran-pemikiran jahat juga tidak muncul kembali; jika ketika ia menggerakkan kehendaknya untuk mengurangi pemikiran-pemikiran jahat secara bertahap, pemikiran-pemikiran jahat juga tidak muncul kembali; dan jika ketika ia menggunakan pikiran untuk mengendalikan pikiran, dengan menggenggamnya dan menundukkannya, pemikiran-pemikiran jahat juga tidak muncul kembali – maka ia telah mencapai penguasaan diri. Ia berpikir apa yang ingin ia pikirkan dan tidak berpikir apa yang tidak ia ingin pikirkan.

‘Jika seorang bhikkhu berpikir apa yang ingin ia pikirkan dan tidak berpikir apa yang tidak ingin ia pikirkan, maka ia disebut sebagai seorang bhikkhu yang berpikir menurut keinginannya, yang memiliki penguasaan atas jalan pikiran.’

Demikianlah yang diucapkan Sang Buddha. Setelah mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.

Komentar [0]