Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika, Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī, di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.
Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu:
‘Jika seorang bhikkhu tidak dapat dengan terampil menyelidiki pikiran orang lain, maka ia seharusnya dengan terampil menyelidiki pikirannya sendiri; ia seharusnya melatih dirinya sendiri seperti ini.
‘Bagaimanakah seorang bhikkhu dengan terampil menyelidiki pikirannya sendiri? Seorang bhikkhu pasti akan memastikan banyak manfaat bagi dirinya sendiri jika ia merenunungkan seperti ini: “Apakah aku telah mencapai ketenangan internal sementara belum mencapai kebijaksanaan tertinggi dari pandangan terang ke dalam fenomena? Apakah aku telah mencapai kebijaksaan tertinggi dari pandangan terang ke dalam fenomena sementara belum mencapai ketenangan internal? Apakah aku belum mencapai baik ketenangan internal maupun kebijaksanaan tertinggi dari pandangan terang ke dalam fenomena? Apakah aku telah mencapai baik ketenangan internal dan kebijaksanaan tertinggi dari pandangan terang ke dalam fenomena?”
‘Jika seorang bhikkhu, setelah menyelidiki dirinya sendiri, mengetahui: “Aku telah mencapai ketenangan internal sementara belum mencapai kebijaksanaan tertinggi dari pandangan terang ke dalam fenomena,” maka bhikkhu ini, setelah mencapai ketenangan internal, seharusnya mengerahkan usaha untuk mencapai kebijaksanaan tertinggi dari pandangan terang ke dalam fenomena. Kemudian, setelah mencapai ketenangan internal, ia juga mencapai kebijaksanaan tertinggi dari pandangan terang ke dalam fenomena.
‘Jika seorang bhikkhu, setelah menyelidiki dirinya sendiri, mengetahui: “Aku telah mencapai kebijaksanaan tertinggi dari pandangan terang ke dalam fenomena sementara belum mencapai ketenangan internal,” maka bhikkhu itu, setelah mencapai kebijaksanaan tertinggi dari pandangan terang ke dalam fenomena, seharusnya mengerahkan usaha untuk mencapai ketenangan internal. Kemudian, setelah mencapai kebijaksanaan tertinggi dari pandangan terang ke dalam fenomena, ia juga mencapai ketenangan internal.
‘Jika seorang bhikkhu, setelah menyelidiki dirinya sendiri, mengetahui: “Aku belum mencapai baik ketenangan internal maupun kebijaksanaan tertinggi dari pandangan terang ke dalam fenomena,” maka seorang bhikkhu demikian, yang belum mencapai kondisi-kondisi bermanfaat ini, karena ingin mencapainya, seharusnya mengerahkan usaha dengan cepat dengan segala cara, berlatih dengan ketekunan sepenuhnya, tanpa henti, dengan perhatian benar dan pemahaman benar.
‘Seperti halnya seseorang yang kepalanya terbakar atau pakaiannya terbakar akan dengan cepat mencari cara untuk menyelamatkan kepalanya dan menyelamatkan pakaiannya. Dengan cara yang sama, seorang bhikkhu yang belum mencapai kondisi-kondisi bermanfaat ini, karena ingin mencapainya, seharusnya mengerahkan usaha dengan cepat dengan segala cara, berlatih dengan ketekunan sepenuhnya, tanpa henti, dengan perhatian benar dan pemahaman benar. Kemudian, setelah mencapai ketenangan internal, ia juga mencapai kebijaksanaan tertinggi dari pandangan terang ke dalam fenomena.
‘Jika seorang bhikkhu, setelah menyelidiki dirinya sendiri, mengetahui: “Aku telah mencapai ketenangan internal dan juga mencapai kebijaksanaan tertinggi dari pandangan terang ke dalam fenomena,” maka bhikkhu itu, yang berkembang dalam kondisi-kondisi bermanfaat ini, seharusnya mengerahkan usaha untuk merealisasikan pengetahuan lebih tinggi atas hancurnya noda-noda. Mengapakah demikian?
‘Aku mengatakan tentang jubah yang tidak dapat disimpan semua orang dari mereka, tetapi aku juga mengatakan tentang jubah yang dapat disimpan semua orang dari mereka. Apakah jenis jubah yang kukatakan tidak dapat disimpan? Jika dengan menyimpan sehelai jubah tertentu kondisi-kondisi jahat dan tidak bermanfaat meningkat dan kondisi-kondisi bermanfaat berkurang, maka aku katakan jenis jubah itu tidak dapat disimpan. Apakah jenis jubah yang kukatakan dapat disimpan? Jika dengan menyimpan sehelai jubah tertentu kondisi-kondisi bermanfaat meningkat dan kondisi-kondisi jahat dan tidak bermanfaat berkurang, maka aku katakan jenis jubah itu dapat disimpan.
‘Seperti halnya dengan jubah, dengan cara yang sama juga untuk makanan dan minuman, tempat tidur dan seprai, serta desa dan kota kecil.
‘Aku mengatakan lebih lanjut bahwa seseorang tidak dapat bergaul dengan semua orang, tetapi aku juga mengatakan bahwa seseorang dapat bergaul dengan semua orang. Apakah jenis orang yang kukatakan tidak dapat dipergauli? Jika melalui pergaulan dengan seseorang kondisi-kondisi jahat dan tidak bermanfaat meningkat dan kondisi-kondisi bermanfaat berkurang, maka aku katakan jenis orang itu tidak seharusnya dipergauli. Apakah jenis orang yang kukatakan dapat dipergauli? Jika melalui pergaulan dengan seseorang kondisi-kondisi bermanfaat meningkat dan kondisi-kondisi jahat dan tidak bermanfaat berkurang, maka aku katakan jenis orang itu dapat dipergauli.
‘Demikianlah seseorang mengetahui kualitas-kualitas yang seharusnya dikembangkan sebagaimana adanya, dan seseorang mengetahui kualitas-kualitas yang tidak seharusnya dikembangkan sebagaimana adanya. Mengetahui kualitas-kualitas yang seharusnya dikembangkan dan kualitas-kualitas yang tidak seharusnya dikembangkan sebagaimana adanya, seseorang tidak mengembangkan kualitas-kualitas yang tidak seharusnya dikembangkan dan ia mengembangkan kualitas-kualitas yang seharusnya dikembangkan. Ketika seseorang tidak mengembangkan kualitas-kualitas yang tidak seharusnya dikembangkan, dan mengembangkan kualitas-kualitas yang seharusnya dikembangkan, kualitas-kualitas bermanfaat meningkat dan kualitas-kualitas jahat dan tidak bermanfaat berkurang. Ini adalah bagaimana seorang bhikkhu dengan terampil menyelidiki pikirannya sendiri, dengan terampil mengetahui pikirannya sendiri, dengan terampil mengambil beberapa kualitas dan dengan terampil meninggalkan kualitas-kualitas lainnya.’
Demikianlah yang diucapkan Sang Buddha. Setelah mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.
Komentar [0]