Memuat

The Middle Āgama

MA117 Kotbah tentang Pengasuhan Menyenangkan

Terjemahan [3]

Kotbah tentang Pengasuhan Menyenangkan

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī, di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu:

‘Pada masa lampau, sebelum aku meninggalkan kehidupan berumah tangga untuk berlatih sang jalan. Aku hidup dalam keleluasaan, kenyamanan, dan kebahagiaan, dengan dibesarkan dalam suatu cara yang sangat menyenangkan. Ketika aku masih tinggal dalam rumah ayahku, Suddhodana, ia membangun berbagai istana untukku: istana musim semi, istana musim panas, dan istana musim dingin.

‘Untuk menyediakan bagi hiburanku, ia memerintahkan berbagai jenis kolam bunga dibangun tak jauh dari istana-istanaku: kolam bunga untuk seroja biru, untuk seroja merah muda, untuk seroja merah, dan untuk seroja putih. Dalam kolam-kolam ini ia memerintahkan berbagai bunga air ditanam: seroja biru, seroja merah muda, seroja merah, dan seroja putih. Ia memerintahkan agar kolam-kolam itu diberi air dan bunga-bunga; dan ia memerintahkan agar kolam-kolam itu dijaga, sehingga tidak ada seorang pun yang dapat menjangkaunya.

‘Untuk menyediakan bagi hiburanku, ia memerintahkan berbagai jenis bunga yang tumbuh di darat ditanam pada tepi kolam-kolam itu: melati berbunga besar, melati Arab, champak, lili harum, bunga beraroma madu, bunga mawar, dan teratai.

‘Untuk menyediakan bagi hiburanku, ia menugaskan empat orang untuk memandikanku. Setelah memandikanku, mereka akan mengoleskan pasta kayu cendana merah pada tubuhku. Setelah mengoleskan pasta kayu cendana pada tubuhku, mereka memakaikan padaku pakaian sutera baru, sama sekali baru dari atas sampai bawah, luar dan dalamnya. Siang dan malam mereka terus-menerus memegang payung penahan matahari di atasku, sang Putera Mahkota, sehingga aku tidak lembab oleh embun pada malam hari atau terbakar oleh matahari selama siang hari.

‘Sedangkan di rumah tangga lain yang biasa biji-bijian kasar, gandum, sup kacang, dan ginseng adalah makanan utama, dalam rumah tangga ayahku, Suddhodana, bahkan para pelayan yang paling rendah memiliki nasi dan hidangan mewah sebagai makanan utama mereka.

‘Selanjutnya, makanan terus-menerus dipersiapkan untukku dari burung dan binatang buruan, burung dan binatang yang paling cantik – burung pegar atau ayam hutan, dan rusa atau kijang – burung dan binatang buruan demikian, burung dan binatang yang paling cantik.

‘Aku ingat bagaimana, telah lama berlalu, ketika aku masih tinggal dalam rumah ayahku, Suddhodana, aku akan pergi ke istana utama untuk menghabiskan empat bulan musim panas. Di sana tidak ada laki-laki lain di sana, hanya para wanita untuk penghiburanku. Ketika berada di sana, aku tidak memiliki pemikiran untuk kembali. Ketika aku ingin mengunjungi taman-taman, tiga puluh orang anggota pasukan berkuda yang terbaik dipilih untuk memberikan pengawalan seremonial, baik di depan dan belakang aku, untuk menungguku dan memanduku – tidak mengatakan para pelayan-ku yang lain. Demikianlah kehormatan dan kekuasaanku. Demikianlah sangat menyenangkannya pengasuhanku.

‘Aku juga ingat bagaimana, telah lama berlalu, aku melihat para petani yang beristirahat di sawah mereka, aku pergi ke bawah sebatang pohon jambu dan duduk bersila. Terasing dari kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi jahat dan tidak bermanfaat, aku memasuki dan berdiam dalam jhāna pertama, yang disertai kesadaran terarah dan perenungan berkelanjutan, dengan sukacita dan kebagiaan yang lahir dari keterasingan.

‘Aku berpikir, “Orang-orang duniawi yang bodoh dan tidak terpelajar itu sendiri tunduk pada penyakit, tidak terbebas dari penyakit. Ketika melihat orang lain jatuh sakit, mereka merasa jijik dan merendahkan mereka sebagai yang tidak diinginkan dan tidak menyenangkan, tidak mengamati kondisi mereka sendiri.”

‘Selanjutnya, aku berpikir, “Aku sendiri tunduk pada penyakit, tidak terbebas dari penyakit. Jika ketika melihat orang lain jatuh sakit aku merasa jijik dan merendahkan mereka sebagai yang tidak diinginkan dan tidak menyenangkan, maka itu akan tidak pantas bagiku, karena aku juga tunduk pada kondisi ini.” Ketika aku telah mengamati dengan cara ini, keangkuhan yang disebabkan oleh tidak berpenyakit secara alamiah lenyap.

‘Selanjutnya, aku berpikir, “Orang-orang duniawi yang bodoh dan tidak terpelajar itu sendiri tunduk pada usia tua, tidak terbebas dari usia tua. Ketika melihat orang lain menjadi tua, mereka merasa jijik dan merendahkan mereka sebagai yang tidak diinginkan dan tidak menyenangkan, tidak mengamati kondisi mereka sendiri.”

‘Selanjutnya, aku berpikir, “Aku sendiri tunduk pada usia tua, tidak terbebaskan dari usia tua. Jika ketika melihat orang lain menjadi tua aku merasa jijik dan merendahkan mereka sebagai yang tidak diinginkan dan tidak menyenangkan, itu akan tidak pantas bagiku, karena aku juga tunduk pada kondisi ini.” Ketika aku telah merenung dengan cara ini, keangkuhan yang disebabkan oleh usia muda secara alamiah lenyap.

‘Orang-orang duniawi yang bodoh dan tidak terpelajar adalah angkuh, sombong, dan menjadi lalai karena tidak berpenyakit. Karena keinginan indria ketidaktahuan mereka tumbuh dan mereka tidak menjalankan kehidupan suci. Orang-orang duniawi yang bodoh dan tidak terpelajar adalah angkuh, sombong, dan menjadi lalai karena masih muda. Karena keinginan indria ketidaktahuan mereka tumbuh dan mereka tidak menjalankan kehidupan suci.’

Kemudian Sang Bhagavā mengucapkan syair-syair ini:

‘Tunduk pada penyakit, tunduk pada usia tua, dan tunduk pada kematian.
Walaupun diri mereka sendiri sama halnya tunduk pada hal-hal ini,
Orang-orang duniawi memandang kondisi-kondisi ini dengan kejijikan.
Jika aku merasa jijik pada kondisi-kondisi ini,
Walaupun belum melampauinya,
Itu akan tidak pantas bagiku,
Karena aku juga tunduk pada hal ini.

‘Ia yang berlatih seperti ini
Merealisasi Dharma yang membawa pada kebebasan dari kelahiran kembali
Sehubungan dengan keangkuhan karena tidak berpenyakit,
Muda, dan berusia panjang.
Melenyapkan semua keangkuhan demikian,
Seseorang melihat kedamaian dari kebosanan.

‘Dengan tercerahkan dengan cara ini,
Seseorang tidak gelisah sehubungan dengan kenikmatan indria.
Mencapai persepsi bahwa tidak ada hal dalam kenikmatan indria,
Ia menjalankan kehidupan suci yang murni.’

Demikianlah yang diucapkan Sang Buddha. Setelah mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.

Komentar [0]