Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī, di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.
Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu:
‘Di sini terdapat hanya tiga landasan untuk berbicara, bukan empat dan bukan lima. Jika seorang bhikkhu telah melihat sesuatu, maka berdasarkan hal itu ia dapat berbicara, dengan mengatakan, “Aku melihatnya.” Jika ia telah mendengar … mengenali … mengetahui sesuatu, maka berdasarkan hal itu seorang bhikkhu dapat berbicara, dengan mengatakan, “Ini adalah apa yang kuketahui.”
‘Apakah tiga landasan untuk berbicara? Berdasarkan masa lampau seorang bhikkhu dapat berbicara, dengan mengatakan, “Seperti ini ia pada masa lampau.” Berdasarkan masa depan seorang bhikkhu dapat berbicara, dengan mengatakan, “Seperti ini ia pada masa depan.” Berdasarkan masa sekarang seorang bhikkhu dapat berbicara, dengan mengatakan, “Seperti ini ia sekarang.” Ini adalah tiga landasan untuk berbicara, bukan empat dan bukan lima.
‘Jika seorang bhikkhu telah melihat sesuatu, maka berdasarkan hal itu ia dapat berbicara, dengan mengatakan, “Ia melihatnya.” Jika ia telah mendengar … mengenali … mengetahui sesuatu, maka berdasarkan hal itu seorang bhikkhu dapat berbicara, dengan mengatakan, “Ini adalah apa yang kuketahui.” Karena apa yang ia katakan adalah bermanfaat, ia memperoleh manfaat. Karena ia tidak mengatakan apa yang tidak bermanfaat, ia memperoleh manfaat.
‘Seorang siswa mulia mendengarkan dengan seksama dengan kedua telinga pada Dharma. Setelah mendengarkan dengan seksama dengan kedua telinga pada Dharma, ia meninggalkan satu faktor, berlatih satu faktor, dan merealisasi satu faktor. Setelah meninggalkan satu faktor, berlatih satu faktor, dan merealisasi satu faktor, ia mencapai konsentrasi benar.
‘Seorang siswa mulia, setelah mencapai konsentrasi pikiran yang benar, kemudian meninggalkan semua nafsu indria, kebencian, dan ketidaktahuan. Dengan cara ini seorang siswa mulia mencapai pembebasan pikiran. Setelah mencapai pembebasan, ia mengetahui bahwa ia terbebaskan. Ia mengetahui sebagaimana adanya: “Kelahiran telah diakhiri, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan ada kelangsungan lagi.”
‘Berdasarkan apa yang dikatakan seseorang, terdapat empat landasan di mana seseorang seharusnya mengamatinya, dengan berpikir, “Apakah yang mulia ini layak untuk terlibat dalam diskusi atau tidak layak untuk terlibat dalam diskusi?” Jika yang mulia ini tidak menanggapi secara tegas pada suatu argumen definitif, tidak menanggapi secara analitis pada suatu argumen analitis, tidak menanggapi secara konklusif pada suatu argumen konklusif, dan tidak menanggapi dengan penutupan pada suatu argumen akhir, maka dengan cara-cara ini yang mulia ini tidak layak untuk terlibat dalam diskusi, tidak layak untuk terlihat dalam perdebatan.
‘Namun jika yang mulia ia menanggapi secara tegas pada suatu argumen definitif, menanggapi secara analitis pada suatu argumen analitis, menanggapi secara konklusif pada suatu argumen konklusif, dan menanggapi dengan penutupan pada suatu argumen akhir, maka dengan cara-cara ini yang mulia ia layak untuk terlibat dalam diskusi, layak untuk terlibat dalam perdebatan.
‘Selanjutnya, berdasarkan apa yang telah seseorang katakan, terdapat empat landasan lebih lanjut di mana seseorang dapat mengamatinya, dengan berpikir, “Apakah yang mulia ini layak untuk terlibat dalam diskusi atau tidak layak untuk terlibat dalam diskusi?” Jika yang mulia ini tidak konsisten tentang sudut pandang dan lawannya, tidak konsisten tentang apa yang diketahui, tidak konsisten tentang apa yang telah dijelaskan melalui perumpamaan-perumpamaan, dan tidak konsisten tentang prosedur, maka dengan cara-cara ini yang mulia ini tidak layak untuk terlibat dalam diskusi, tidak layak untuk terlibat dalam perdebatan.
‘Namun jika yang mulia ini konsisten tentang sudut pandang dan lawannya, konsisten tentang apa yang diketahui, konsisten tentang apa yang telah dijelaskan melalui perumpamaan-perumpamaan, dan konsisten tentang prosedur, maka dengan cara-cara ini yang mulia ini layak untuk terlibat dalam diskusi, layak untuk terlibat dalam perdebatan.
‘Bergantung pada apa yang diucapkan, ia mengendalikan aktivitas ucapannya pada waktu yang tepat. Ia membuang pandangan-pandangan yang terbentuk sebelumnya, membuang keadaan pikiran yang marah, membuang keinginan indria, membuat kebencian, membuang delusi, membuang keangkuhan, membuang sikap diam yang keras kepala, membuang ketamakan dan keirihatian. Ia tidak mengejar kemenangan, tidak mengungguli orang lain, dan tidak mencengkeram kesalahannya. Ia hanya berbicara tentang apa yang penuh makna, tentang Dharma. Setelah berbicara tentang apa yang penuh makna, tentang Dharma, dan setelah mengajarkannya dan mengajarkannya lagi, ia sendiri bergembira dan menyebabkan orang lain bergembira. Pembicaraan tentang apa yang penuh makna demikian, pembicaraan tentang pokok-pokok bahasan demikian ini adalah pembicaraan mulia tentang apa yang penuh makna, pembicaraan mulia tentang hal-hal ini. Ini membawa sepanjang jalan pada penghancuran total noda-noda.’
Kemudian Sang Bhagavā mengucapkan syair-syair ini:
‘Jika ketika beragumen dalam sebuah diskusi,
Pikiran yang kebingungan menyimpan kerinduan dan keangkuhan,
Maka ini tidak mulia; ia menghancurkan kebaikan,
Dengan masing-masing mencari keuntungan atas yang lain.‘Hanya mencari untuk menemukan kesalahan pada orang lain,
Berharap untuk mengalahkannya;
Berusaha lebih keras untuk kemenangan atas satu sama lain –
Para mulia tidak berbicara seperti ini.‘Jika ia ingin menjadi kompeten dalam diskusi,
Seorang bijaksana seharusnya mengetahui pemilihan waktu yang tepat.
Dengan Dharma dan dengan makna,
Ini adalah bagaimana para mulia berdiskusi.‘Orang bijaksana berkata seperti ini:
Tanpa perselisihan, tanpa keangkuhan,
Tanpa perasaan kebencian,
Tanpa belenggu, tanpa noda-noda.‘Selalu bersepaham dan tidak kebingungan,
Mereka berbicara dengan pengetahuan benar.
Mereka menerima apa yang dikatakan dengan baik,
Dan mereka sendiri tidak pernah berbicara kejahatan.‘Dalam diskusi mereka tidak pernah menegur,
Dan tidak terpengaruh oleh teguran orang lain.
Mereka mengetahui sudut pandang dan dasar untuk ucapan mereka,
Ini adalah cara mereka berdiskusi.‘Demikianlah ucapan para mulia,
Para bijaksana yang sepenuhnya telah memperoleh maknanya.
Untuk kebahagiaan dalam masa sekarang,
Dan untuk kedamaian pada kehidupan berikutnya,
Kalian seharusnya mengetahui bahwa seseorang yang terpelajar
Berbicara tanpa bias dan kedangkalan.’
Demikianlah yang diucapkan Sang Buddha. Setelah mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.
Komentar [0]