Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Rājagaha, Hutan Bambu, Tempat Perlindungan Tupai, menghabiskan pengasingan musim hujan bersama dengan sejumlah besar perkumpulan lima ratus orang bhikkhu.
Pada waktu itu saat hari kelimabelas bulan itu, pada waktu pengulangan aturan disiplin, dalam upacara invitasi (pavāraṇā), Sang Bhagavā duduk pada tempat duduk yang disediakan di hadapan perkumpulan bhikkhu. Beliau berkata kepada para bhikkhu:
‘Aku seorang brahmana, setelah mencapai penghentian sepenuhnya. Aku Raja Tabib yang tiada bandingnya dan jasmani saat ini adalah yang terakhir bagiku. Sebagai seorang brahmana, setelah mencapai penghentian sepenuhnya, sebagai Raja Tabib yang tiada bandingnya, dan jasmani saat ini adalah yang terakhir bagiku, aku mengatakan bahwa kalian adalah para putra sejatiku, lahir dari mulutku dan diubah oleh sifat alamiah Dharma. Sebagai para putra sejatiku, lahir dari mulutku dan diubah oleh sifat alamiah Dharma, kalian seharusnya melalui pengajaran mengubah orang lain, dan juga mengajarkan dan menasihati satu sama lain.’
Pada waktu itu Yang Mulia Sāriputta juga duduk di antara perkumpulan itu. Kemudian Yang Mulia Sāriputta bangkit dari tempat duduknya, mengatur jubahnya sehingga memperlihatkan satu bahu, merentangkan tangannya dengan telapak tangan disatukan terhadap Sang Buddha, dan berkata:
‘Baru saja Sang Bhagavā berkata ini: “Aku adalah seorang brahmana, setelah mencapai penghentian sepenuhnya. Aku Raja Tabib yang tiada bandingnya dan jasmani saat ini adalah yang terakhir bagiku. Sebagai seorang brahmana, setelah mencapai penghentian sepenuhnya, sebagai Raja Tabib yang tiada bandingnya, dan jasmani saat ini adalah yang terakhir bagiku, aku mengatakan bahwa kalian adalah para putra sejatiku, lahir dari mulutku dan diubah oleh sifat alamiah Dharma. Sebagai para putra sejatiku, lahir dari mulutku dan diubah oleh sifat alamiah Dharma, kalian seharusnya melalui pengajaran mengubah orang lain, dan juga mengajarkan dan menasihati satu sama lain.”’
‘Sang Bhagavā menjinakkan mereka yang belum jinak, menenangkan mereka yang belum tenang, menyelamatkan mereka yang belum terselamatkan, membebaskan mereka yang belum terbebaskan, memadamkan mereka yang belum padam, membawa pada pencapaian sang jalan mereka yang belum mencapai sang jalan, mengembangkan dalam kehidupan suci mereka yang belum berkembang dalam kehidupan suci. Beliau menyebabkan mereka mengetahui sang jalan, tercerahkan pada sang jalan, mengenali sang jalan, dan membicarakan sang jalan.
‘Dari Sang Bhagavā para siswa memperoleh Dharma, menerima pengajaran, dan menerima nasihat. Setelah menerima pengajaran dan nasihat, dengan mengikuti perkataan Sang Bhagavā, mereka kemudian menjalankannya dan memperoleh pemahaman yang baik atas Dharma sejati sesuai dengan maknanya. Demikianlah. Sang Bhagavā, apakah tidak ada sesuatu untuk dicela dalam perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiranku?’
Kemudian Sang Bhagavā berkata:
‘Sāriputta, aku tidak mencela perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiranmu. Mengapakah demikian? Sāriputta, engkau memiliki kebijaksanaan yang terpelajar, kebijaksanaan agung, kebijaksanaan yang cepat, kebijaksanaan yang lincah, kebijaksanaan yang tajam, kebijaksanaan yang luas, kebijaksanaan yang mendalam, kebijaksanaan yang membawa pembebasan, kebijaksanaan yang menembus dengan cemerlang. Sāriputta, engkau telah mencapai kebijaksanaan sejati.
‘Sāriputta, seperti halnya putra mahkota seorang raja pemutar roda, jika ia tidak melangkahi instruksi yang ia terima tetapi dengan hormat menerima apa yang diwarisi ayahnya, sang raja, kepadanya, ia kemudian dapat mewarisinya pada gilirannya. Dengan cara yang sama, Sāriputta, engkau dapat menjaga pemutaran roda Dharma yang telah kuputar. Karena alasan ini, Sāriputta, aku tidak mencela perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiranmu.’
Yang Mulia Sāriputta merentangkan lagi tangannya dengan telapak tangan disatukan terhadap Sang Bhagavā dan berkata:
‘Demikianlah. Sang Bhagavā tidak mencela perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiranku. Apakah Sang Bhagavā tidak mencela perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiran lima ratus orang bhikkhu ini?’
Sang Bhagavā berkata:
‘Sāriputta, aku juga tidak mencela perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiran lima ratus orang bhikkhu ini. Mengapakah demikian? Sāriputta, lima ratus orang bhikkhu ini semuanya telah mencapai pembebasan dari kemelekatan. Dalam diri mereka noda-noda telah dilenyapkan, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, beban berat telah dibuang, belenggu penjelmaan telah dilenyapkan, dan mereka telah mencapai manfaat baik dari pengetahuan benar dan pembebasan benar.
‘Pengecualian satu-satunya adalah seorang bhikkhu yang sebelumnya kuramalkan bahwa ia akan, di sini dan saat ini, mencapai pengetahuan akhir, dengan memahami sebagaimana adanya: “Kelahiran telah diakhiri, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan ada kelangsungan lagi.” Karena alasan ini, Sāriputta, aku tidak mencela perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiran lima ratus orang bhikkhu ini.’
Ketiga kalinya Yang Mulia Sāriputta merentangkan tangannya dengan telapak tangan disatukan terhadap Sang Buddha dan berkata:
‘Demikianlah. Sang Bhagavā tidak mencela perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiranku, serta beliau juga tidak mencela perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiran lima ratus orang bhikkhu ini. Sang Bhagavā, di antara lima ratus orang bhikkhu ini, berapa banyakkah bhikkhu yang telah mencapai tiga pengetahuan lebih tinggi, berapa banyakkah bhikkhu yang telah mencapai pembebasan melalui kedua cara, dan berapa banyakkah bhikkhu yang telah mencapai pembebasan melalui kebijaksanaan?’
Sang Bhagavā berkata:
‘Sāriputta, di antara lima ratus orang bhikkhu ini, sembilan puluh orang bhikkhu telah mencapai tiga pengetahuan lebih tinggi, sembilan puluh orang bhikkhu telah mencapai pembebasan melalui kedua cara, dan para bhikkhu sisanya telah mencapai pembebasan melalui kebijaksanaan.
‘Sāriputta, perkumpulan ini tanpa cabang, tanpa dedaunan, dan tanpa simpul atau kesalahan. Ia adalah inti kayu yang murni dan sejati, setelah berkembangan sepenuhnya.’
Pada waktu itu Yang Mulia Vaṅgīsa sedang duduk di antara perkumpulan itu. Kemudian Yang Mulia Vaṅgīsa bangkit dari tempat duduknya, mengatur jubahnya sehingga memperlihatkan satu bahu, merentangkan tangannya dengan telapak tangan disatukan terhadap Sang Buddha, dan berkata:
‘Demikianlah. Sang Bhagavā telah menyebabkanku berbahagia. Semoga Sang Sugata lebih lanjut menyebabkanku berbahagia, sehingga aku dapat, di hadapan Sang Buddha dan perkumpulan bhikkhu, mengucapkan syair-syair pujian yang layak.’
Sang Bhagavā berkata, “Vaṅgīsa, lakukanlah seperti yang engkau inginkan.”
Kemudian di hadapan Sang Buddha dan perkumpulan bhikkhu, Yang Mulia Vaṅgīsa mengucapkan syair-syair pujian yang layak:
‘Hari ini, pada hari kelima belas, hari invitasi,
Sebuah perkumpulan lima ratus orang bhikkhu duduk bersama.
Setelah bebas dari semua belenggu,
Mereka adalah tanpa halangan, para pertapa yang telah mengakhiri kehidupan berulang-ulang‘Bersinar dengan cahaya murni,
Mereka terbebaskan dari segala jenis kelangsungan.
Mereka telah mengakhiri kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian,
Melenyapkan noda-noda, dan melakukan apa yang harus dilakukan.‘Mereka telah mengakhiri kegelisahan dan kekhawatiran serta belenggu keragu-raguan,
Keangkuhan dan noda penjelmaan,
Dan mereka telah memotong duri yang adalah belenggu ketagihan.
Dikarenakan Tabib Tertinggi, hal-hal ini tidak lagi muncul.‘Berani bagaikan singa,
Mereka telah melenyapkan semua ketakutan.
Mereka telah menyeberangi kelahiran dan kematian,
Dengan semua noda sepenuhnya dilenyapkan.‘Seperti halnya seorang raja pemutar roda,
Dikelilingi oleh banyak pengiringnya,
Berkuasa atas keseluruhan wilayah,
Sampai sejauh samudera raya,‘Dengan cara yang sama, sang penakluk yang gagah berani,
Sang pemimpin karavan yang tiada bandingnya,
Dihormati dengan gembira oleh para siswanya,
Yang telah merealisasi tiga pengetahuan lebih tinggi dan meninggalkan ketakutan terhadap kematian.‘Semuanya adalah putra Sang Buddha,
Yang telah selamanya melenyapkan cabang, dedaunan, dan simpul.
Mereka memberikan penghormatan kepada Yang Paling Dimuliakan,
Yang memutar roda Dharma yang tiada bandingnya.’
Demikianlah yang diucapkan Sang Buddha. Setelah mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.
Komentar [0]