Demikianlah telah kudengar. Suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.
Pada waktu itu perumah tangga Anāthapiṇḍika, ditemani oleh sejumlah besar perkumpulan lima ratus orang umat awam laki-laki, mendekati Yang Mulia Sāriputta. Ia memberikan penghormatan dengan kepalanya pada kaki Yang Mulia Sāriputta, mengundurkan diri, dan duduk pada satu sisi. Lima ratus orang umat awam laki-laki juga memberikan penghormatan, mengundurkan diri, dan duduk pada satu sisi.
Setelah perumah tangga Anāthapiṇḍika dan lima ratus orang umat awam laki-laki duduk pada satu sisi, Yang Mulia Sāriputta mengajarkan mereka Dharma, dengan menasihati dan menginspirasi mereka, sepenuhnya menggembirakan mereka. Setelah dengan tak terhitung cara terampil mengajarkan mereka Dharma, setelah menasihati dan menginspirasi mereka, Yang Mulia Sāriputta bangkit dari tempat duduknya dan mendekati Sang Buddha. Ia memberikan penghormatan dengan kepalanya pada kaki Sang Buddha, mengundurkan diri, dan duduk pada satu sisi. Tak lama setelah Yang Mulia Sāriputta pergi, perumah tangga Anāthapiṇḍika dan lima ratus orang umat awam laki-laki juga mendekati Sang Buddha, memberikan penghormatan dengan kepala mereka pada kaki Sang Buddha, mengundurkan diri, dan duduk pada satu sisi.
Ketika Yang Mulia Sāriputta dan perkumpulan umat awam telah duduk dengan baik, Sang Bhagavā berkata kepada mereka:
‘Sāriputta, jika sehubungan dengan seorang siswa awam mulia engkau mengetahui bahwa ia terjaga dengan baik dengan berlatih lima prinsip, dan bahwa ia mencapai dengan mudah dan tanpa kesulitan empat keadaan pikiran lebih tinggi yang merupakan kediaman menyenangkan di sini dan saat ini, maka, Sāriputta, engkau dapat menyatakan bahwa bagi siswa mulia itu kelahiran kembali di neraka telah diakhiri, dan juga kelahiran kembali sebagai binatang, sebagai hantu kelaparan, atau di alam kehidupan buruk lainnya mana pun. Ia telah mencapai pemasuk-arus. Ia tidak akan terjatuh ke dalam kondisi buruk apa pun tetapi pasti akan maju menuju pencerahan sempurna; dan setelah mengalami paling banyak tujuh kehidupan, dengan pergi dan datang di antara para dewa dan manusia, ia akan mencapai akhir dukkha.
‘Sāriputta, bagaimana seorang siswa awam mulia terjaga dengan baik dengan berlatih lima prinsip? Seorang siswa awam mulia menghindari diri dari membunuh, telah meninggalkan pembunuhan, telah membuang pedang dan tongkat pemukul. Ia memiliki rasa malu dan takut berbuat jahat, dan pikiran yang penuh cinta kasih dan belas kasih, dengan berharap memberikan manfaat kepada semua makhluk, bahkan serangga. Ia telah memurnikan pikirannya sehubungan dengan pembunuhan makhluk hidup. Seorang siswa awam mulia terjaga dengan baik dengan berlatih prinsip pertama ini.
‘Selanjutnya, Sāriputta, seorang siswa awam mulia menghindari diri dari mengambil apa yang tidak diberikan, telah meninggalkan pengambilan apa yang tidak diberikan. Ia mengambil hanya apa yang diberikan. Ia selalu menyukai kedermawanan, dengan bergembira di dalamnya, tanpa kekikiran, dan tidak mengharapkan imbalan apa pun. Ia terus-menerus menjaga dirinya sehingga tidak dikuasai oleh apa pun pemikiran mencuri. Ia telah memurnikan pikirannya sehubungan dengan pengambilan apa yang tidak diberikan. Seorang siswa awam mulia terjaga dengan baik dengan berlatih prinsip kedua ini.
‘Selanjutnya, Sāriputta, seorang siswa awam mulia menghindari diri dari perbuatan seksual yang salah, telah meninggalkan perbuatan seksual yang salah. Jika seorang wanita dilindungi oleh ayahnya, dilindungi oleh ibunya, dilindungi oleh orang tuanya, dilindungi oleh saudara laki-lakinya, atau dilindungi oleh saudara perempuannya; atau jika seorang wanita dilindungi oleh mertuanya, dilindungi oleh sanak keluarganya, atau dilindungi oleh sukunya; atau jika ia telah mengikat janji pernikahan atau dilindungi oleh ancaman hukuman, atau telah dikalungi bunga sebagai tanda pertunangan – maka ia tidak mencabuli seorang wanita yang demikian. Ia telah memurnikan pikirannya sehubungan dengan perbuatan seksual yang salah. Seorang siswa awam mulia terjaga dengan baik dengan berlatih prinsip ketiga ini.
‘Selanjutnya, Sāriputta, seorang siswa awam mulia menghindari diri dari ucapan salah, telah meninggalkan ucapan salah. Ia mengatakan kebenaran, bergembira dalam kebenaran, tidak tergoyahkan berkembang dalam kebenaran, sepenuhnya dapat dipercaya, dan tidak akan menipu siapa pun di dunia. Ia telah memurnikan pikirannya sehubungan dengan ucapan salah. Seorang siswa awam mulia terjaga dengan baik dengan berlatih prinsip keempat ini.
‘Selanjutnya, Sāriputta, seorang siswa awam mulia menghindari diri dari minuman keras, telah meninggalkan minuman keras. Ia telah memurnikan pikirannya sehubungan dengan minuman keras. Seorang siswa awam mulia terjaga dengan baik dengan berlatih prinsip kelima ini.
‘Sāriputta, apakah empat keadaan pikiran lebih tinggi yang merupakan kediaman menyenangkan di sini dan saat ini, di mana seorang siswa awam mulia mencapainya dengan mudah dan tanpa kesulitan? Seorang siswa awam mulia mengingat kembali Sang Tathāgata demikian, “Itulah Sang Tathāgata, bebas dari kemelekatan, tercerahkan sempurna, sempurna dalam pengetahuan dan perilaku, seorang yang pergi dengan baik, seorang yang mengetahui dunia, seorang yang tak tertandingi, seorang pemimpin dalam jalan Dharma, guru para dewa dan manusia, yang disebut seorang Buddha, seorang yang dimuliakan.” Ketika ia mengingat kembali Sang Tathāgata dengan cara ini, jika terdapat dalam pikirannya keinginan jahat apa pun mereka segera lenyap. Jika terdapat dalam pikirannya keadaan yang tidak bermanfaat dan mengotori apa pun yang menyebabkan kesedihan, kekhawatiran, dan dukacita, maka mereka juga lenyap.
‘Bagi seorang siswa awam mulia yang berkembang dalam pengingatan kembali Sang Tathāgata, pikirannya menjadi tenang dan mencapai sukacita. Jika dalam pikirannya terdapat keinginan jahat apa pun, maka mereka segera lenyap. Jika dalam pikirannya terdapat keadaan yang tidak bermanfaat dan mengotori apa pun yang menyebabkan kesedihan, kekhawatiran, dan dukacita, maka mereka juga lenyap. Seorang siswa awam mulia mencapai, dengan mudah dan tanpa kesulitan, keadaan pikiran lebih tinggi pertama ini yang merupakan kediaman menyenangkan di sini dan saat ini.
‘Selanjutnya, Sāriputta, seorang siswa awam mulia mengingat kembali Dharma demikian: “Dharma yang diajarkan dengan baik oleh Sang Bhagavā pasti membawa pada yang tertinggi, pada kebebasan dari kekesalan dan penderitaan; ia selalu ada dan tidak tergoyahkan.” Ketika ia merenungkan dengan cara ini, memahami dengan cara ini, mengetahui dengan cara ini, dan mengingat kembali Dharma dengan cara ini, maka jika dalam pikirannya terdapat keinginan jahat apa pun, mereka segera lenyap. Jika terdapat dalam pikirannya keadaan yang tidak bermanfaat dan mengotori apa pun yang menyebabkan kesedihan, kekhawatiran, dan dukacita, maka mereka juga lenyap.
‘Bagi seorang siswa awam mulia yang berkembang dalam pengingatan kembali Dharma, pikirannya menjadi tenang dan mencapai sukacita. Jika dalam pikirannya terdapat keinginan jahat apa pun, maka mereka segera lenyap. Jika dalam pikirannya terdapat keadaan yang tidak bermanfaat dan mengotori apa pun yang menyebabkan kesedihan, kekhawatiran, dan dukacita, maka mereka juga lenyap. Seorang siswa awam mulia mencapai dengan mudah dan tanpa kesulitan keadaan pikiran lebih tinggi kedua ini yang merupakan kediaman menyenangkan di sini dan saat ini.
‘Selanjutnya, Sāriputta, seorang siswa awam mulia mengingat kembali Sangha demikian, “Sangha mulia Sang Tathāgata bertindak dengan baik dan bertindak dengan benar, maju dalam Dharma sesuai dengan Dharma, dan menyesuaikan dengan Dharma. Dalam Sangha terdapat sesungguhnya para Arahant dan mereka dalam jalan menuju Kearahantan, yang tidak-kembali dan mereka dalam jalan menuju yang tidak-kembali, yang sekali-kembali dan mereka dalam jalan menuju yang sekali-kembali dan mereka dalam jalan menuju yang sekali-kembali, pemasuk-arus dan mereka dalam jalan menuju pemasuk-arus. Ini disebut empat pasang atau delapan kelompok orang mulia. Ini disebut Sangha Sang Tathāgata. Mereka telah mencapai moralitas, mereka telah mencapai konsentrasi, mereka telah mencapai kebijaksanaan, mereka telah mencapai pembebasan, dan mereka telah mencapai pengetahuan dan penglihatan pembebasan. Mereka layak atas penghormatan dan penghargaan, layak atas persembahan, dan merupakan ladang jasa kebajikan yang mengagumkan di dunia.” Ketika seorang siswa awam mulia mengingat kembali Sangha Sang Tathāgata dengan cara ini, maka jika dalam pikirannya terdapat keinginan jahat apa pun, mereka segera lenyap. Jika dalam pikirannya terdapat keadaan yang tidak bermanfaat dan mengotori apa pun yang menyebabkan kesedihan, kekhawatiran, dan dukacita, maka mereka juga lenyap.
‘Bagi seorang siswa awam mulia yang berkembang dalam pengingatan kembali Sangha Sang Tathāgata, pikirannya menjadi tenang dan mencapai sukacita. Jika dalam pikirannya terdapat keinginan jahat apa pun, maka mereka segera lenyap. Jika dalam pikirannya terdapat keadaan yang tidak bermanfaat dan mengotori apa pun yang menyebabkan kesedihan, kekhawatiran, dan dukacita, maka mereka juga lenyap. Seorang siswa awam mulia mencapai, dengan mudah dan tanpa kesulitan, keadaan pikiran lebih tinggi ketiga ini yang merupakan kediaman menyenangkan di sini dan saat ini.
‘Selanjutnya, Sāriputta, seorang siswa awam mulia mengingat kembali moralitasnya sendiri demikian, “Moralitasku ini sempurna, tidak cacat. Ia bebas dari kekotoran dan kerusakan, berkembang dengan kokoh bagaikan bumi, tidak hampa. Ini dipuji oleh para mulia, diterima dan diingat dengan baik.” Ketika ia mengingat kembali moralitasnya sendiri dengan cara ini, jika dalam pikirannya terdapat keinginan jahat apa pun, mereka segera lenyap. Jika dalam pikirannya terdapat keadaan yang tidak bermanfaat dan mengotori apa pun yang menyebabkan kesedihan, kekhawatiran, dan dukacita, maka mereka juga lenyap.
‘Bagi seorang siswa awam mulia yang berkembang dalam pengingatan kembali moralitas, pikirannya menjadi tenang dan mencapai sukacita. . Jika dalam pikirannya terdapat keinginan jahat apa pun, maka mereka segera lenyap. Jika dalam pikirannya terdapat keadaan yang tidak bermanfaat dan mengotori apa pun yang menyebabkan kesedihan, kekhawatiran, dan dukacita, maka mereka juga lenyap. Seorang siswa awam mulia mencapai, dengan mudah dan tanpa kesulitan, keadaan pikiran lebih tinggi keempat ini yang merupakan kediaman menyenangkan di sini dan saat ini.
‘Sāriputta, jika sehubungan dengan seorang siswa awam mulia engkau mengetahui bahwa ia terjaga dengan baik dengan berlatih lima prinsip ini, dan bahwa ia mencapai dengan mudah dan tanpa kesulitan empat keadaan pikiran lebih tinggi yang merupakan kediaman menyenangkan di sini dan saat ini, maka, Sāriputta, engkau dapat menyatakan bahwa bagi siswa mulia itu kelahiran kembali di neraka telah diakhiri, dan juga kelahiran kembali sebagai binatang, hantu kelaparan, atau di alam kehidupan buruk lainnya mana pun. Ia telah mencapai pemasuk-arus. Ia tidak akan terjatuh ke dalam kondisi buruk apa pun tetapi pasti akan maju menuju pencerahan sempurna; dan setelah mengalami paling banyak tujuh kehidupan, dengan pergi dan datang di antara para dewa dan manusia, ia akan mencapai akhir dukkha.’
Kemudian Sang Bhagavā mengucapkan syair-syair ini:
‘Seorang bijaksana yang berdiam di rumah,
Melihat ketakutan atas neraka.
Karena menerima dan mengingat Dharma mulia,
Ia melenyapkan setiap jenis kejahatan.‘Ia menghindari diri dari membunuh atau melukai makhluk hidup,
Dapat meninggalkan hal ini dengan pemahaman.
Ia berkata benar, bukan apa yang salah.
Ia tidak mencuri milik orang lain.‘Puas dengan istrinya sendiri,
Ia tidak menyenangi istri orang lain.
Ia meninggalkan minuman keras dan menghindari diri darinya,
Dengan mengetahui mereka sebagai sumber kebingungan pikiran, kegilaan, dan ketidaktahuan.‘Seseorang seharusnya sering mengingat kembali Yang Tercerahkan Sempurna,
Merenungkan ajaran-ajaran bermanfaat,
Mengingat kembali Sangha, dan merenungkan moralitas dirinya sendiri.
Dari hal ini ia akan memperoleh sukacita.‘Berharap untuk berlatih pemberian,
Seseorang seharusnya mempertimbangkan jasa yang diharapkan darinya,
Dan memberi pertama kali kepada mereka yang memiliki pikiran yang ditenangkan.
Pemberian demikian membawa akibat yang baik.
Aku sekarang akan mengatakan tentang mereka dengan pikiran yang ditenangkan.
Sāriputta, dengarkanlah dengan seksama!‘Seekor sapi mungkin hitam atau putih,
Merah atau cokelat,
Berbelang dengan warna-waran yang menarik,
Atau memiliki warna seekor merpati,
Menurut keadaan pembawaan lahirnya;
Tetapi sapi yang terlatih dengan baik adalah yang terkemuka.‘Jika ia memiliki kekuatan tubuh yang cukup
Dan berjalan dengan kecepatan yang baik, dengan cepat ke sana kemari,
Maka ia akan dipilih karena kemampuannya
Dan tidak ditolak karena warnanya.‘Dengan cara yang sama, seorang manusia
Mungkin lahir dalam keadaan yang berbeda-beda:
Sebagai ksatria atau brahmana
Atau pedagang atau pekerja,
Menurut keadaan pembawaan lahirnya.‘Seorang sesepuh yang murni dan menjaga aturan-aturan latihan,
Yang tanpa kemelekatan duniawi, seorang yang pergi dengan baik –
Memberikan dana kepadanya membawa buah besar.
Sedangkan seseorang yang bodoh, yang tidak memiliki pengetahuan,
Tidak memiliki kebijaksanaan, tidak memiliki pembelajaran –
Memberikan dana kepadanya membawa buah kecil.
Tidak memiliki cahaya kebijaksanaan, seorang yang demikian tidak menerangi siapa pun.‘Jika cahaya kebijaksanaan bersinar
Pada seorang siswa bijaksana Sang Buddha
Yang keyakinannya kepada Sang Sugata
Berakar dengan baik dan berkembang dengan kokoh,
Maka orang itu akan terlahir kembali di keadaan yang baik,
Di sebuah keluarga pilihannya,
Dan pada akhirnya akan mencapai Nirvana.
Dengan cara ini masing-masing orang memiliki jalan hidupnya.’
Demikianlah yang diucapkan Sang Buddha. Setelah mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, Yang Mulia Sāriputta, para bhikkhu, perumah tangga Anāthapiṇḍika, dan lima ratus umat awam laki-laki bergembira dan menerimanya dengan hormat.
Komentar [0]