Demikianlah telah kudengar. Suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di negeri Bhagga, di Gunung Buaya (Suṃsumāragiri) di Hutan Menakutkan, Taman Rusa.
Pada waktu itu Yang Mulia Mahāmoggallāna, yang sedang mengawasi pembangunan sebuah gubuk meditasi untuk Sang Buddha, sedang berjalan bolak-balik di tempat terbuka. Kemudian Raja Māra, mengubah dirinya menjadi bentuk kecil, memasuki perut Yang Mulia Mahāmoggallāna. Yang Mulia Mahāmoggallāna berpikir, “Saat ini perutku terasa seakan-akan aku baru saja makan kacang. Biarlah aku memasuki konsentrasi meditatif yang sesuai, sedemikian sehingga melalui konsentrasi tersebut aku dapat mengamati perutku sendiri.”
Kemudian Yang Mulia Mahāmoggallāna berjalan sampai ujung jalan setapak itu, membentangkan alas duduknya, duduk bersila di atasnya, dan memasuki konsentrasi meditatif yang sesuai. Mengamati perutnya sendiri melalui konsentrasi yang sesuai itu, Yang Mulia Mahāmoggallāna mengetahui bahwa Raja Māra sedang berada di dalam perutnya.
Yang Mulia Mahāmoggallāna bangkit dari konsentrasi meditatifnya dan berkata kepada Raja Māra:
‘Si Jahat, keluarlah! Si Jahat, keluarlah! Janganlah mengganggu Sang Tathāgata, dan janganlah mengganggu seorang siswa Sang Tathāgata! Janganlah menyebabkan dirimu kehilangan kesejahteraan dan kehilangan manfaat selama waktu yang panjang dan kepastian terlahir kembali di alam kehidupan yang buruk dan mengalami tak terhitung penderitaan!’
Kemudian Raja Māra berpikir, “Pertapa ini tidak melihat dan mengetahui diriku ketika ia berkata: ‘Si Jahat, keluarlah! Si Jahat, keluarlah! Janganlah mengganggu Sang Tathāgata, dan janganlah mengganggu seorang siswa Sang Tathāgata! Janganlah menyebabkan dirimu kehilangan kesejahteraan dan kehilangan manfaat selama waktu yang panjang dan kepastian terlahir kembali di alam kehidupan yang buruk dan mengalami tak terhitung penderitaan!’ Gurumu yang mulia memiliki kekuatan batin besar, kebaikan besar dan agung, jasa besar, kekuatan besar dan agung, tetapi bahkan ia tidak dapat melihat dan mengetahui diriku dengan cepat. Lalu bagaimanakah siswanya dapat melihat dan mengetahui diriku?”
Yang Mulia Mahāmoggallāna lebih lanjut berkata kepada Raja Māra:
‘Aku juga mengetahui pikiranmu. Engkau berpikir demikian: “Pertapa ini tidak melihat dan mengetahui diriku ketika ia berkata: ‘Si Jahat, keluarlah! Si Jahat, keluarlah! Janganlah mengganggu Sang Tathāgata, dan janganlah mengganggu seorang siswa Sang Tathāgata! Janganlah menyebabkan dirimu kehilangan kesejahteraan dan kehilangan manfaat selama waktu yang panjang dan kepastian terlahir kembali di alam kehidupan yang buruk dan mengalami tak terhitung penderitaan!’ Gurumu yang mulia memiliki kekuatan batin besar, kebaikan besar dan agung, jasa besar, kekuatan besar dan agung, tetapi bahkan ia tidak dapat melihat dan mengetahui diriku dengan cepat. Lalu bagaimanakah siswanya dapat melihat dan mengetahui diriku?”’
Kemudian Māra Si Jahat berpikir lagi, “Adalah karena pertapa ini telah melihat dan mengetahui diriku sehingga ia berkata demikian.” Setelah itu Māra, Si Jahat, mengubah dirinya menjadi bentuk kecil, keluar dari mulut Yang Mulia Mahāmoggallāna dan berdiri di hadapannya.
Yang Mulia Mahāmoggallāna berkata:
‘Si Jahat, pada masa lampau terdapat seorang Tathāgata, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, bernama Kakusandha. Pada waktu itu aku adalah seorang māra bernama Perusak (Dūsī), dan aku memiliki saudara perempuan bernama Hitam (Kālī). Engkau adalah putranya, Si Jahat. Oleh sebab itu, engkau adalah keponakanku.
‘Si Jahat, Tathāgata Kakusandha, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, memiliki dua orang siswa utama, seorang bernama Suara dan yang lain bernama Persepsi. Si Jahat, karena alasan apakah Yang Mulia Suara dinamakan “Suara”? Si Jahat, Yang Mulia Suara, ketika berdiam di alam Brahmā, sering menyebabkan suaranya menembus seribu dunia. Tidak ada siswa lain yang memiliki suara sama dengan suaranya, mirip dengan suaranya, atau melampaui suaranya. Si Jahat, adalah karena hal ini sehingga Yang Mulia Suara dinamakan “Suara”.
‘Selanjutnya, Si Jahat, karena alasan apakah Yang Mulia Persepsi dinamakan “Persepsi”? Si Jahat, Yang Mulia Persepsi biasa tinggal bergantung pada sebuah desa atau kota kecil. Ketika malam telah berakhir, saat fajar ia akan mengenakan jubahnya, membawa mangkuknya, dan pergi ke dalam desa untuk mengumpulkan dana makanan, terjaga dengan baik sehubungan dengan pergerakan jasmaninya, terkendali dengan baik sehubungan dengan indria-indrianya, dan berkembang dalam perhatian benar. Setelah mengumpulkan dana makanan dan setelah makan siang, ia akan meletakkan jubah dan mangkuknya dan mencuci tangan dan kakinya. Kemudian ia akan meletakkan alas duduknya di atas bahunya dan pergi ke hutan, gunung, di bawah sebatang pohon, atau suatu tempat terpencil lainnya. Ia akan membentangkan alas duduknya, duduk bersila di atasnya, dan dengan cepat memasuki konsentrasi meditatif dari lenyapnya persepsi dan perasaan.
‘Kemudian kebetulan beberapa penggembala sapi, penggembala domba, penebang kayu, dan orang-orang yang lewat memasuki hutan itu. Melihatnya dalam konsentrasi meditatif dari lenyapnya persepsi dan perasaan, mereka berpikir, “Sekarang, pertapa ini telah meninggal selagi duduk di dalam hutan. Marilah kita mengumpulkan kayu kering dan rerumputan, menumpuknya sampai menutupi tubuhnya, dan mengkremasinya.” Maka mereka mengumpulkan kayu kering dan rerumputan, menumpuknya sampai menutupi tubuhnya, menyalakan api padanya, dan pergi.
‘Ketika malam telah berakhir, saat fajar, Yang Mulia Persepsi bangkit dari konsentrasi meditatifnya, mengibaskan jubahnya untuk menyingkirkan abu-abunya, dan pergi ke desa atau kota kecil di mana ia bergantung padanya. Mengenakan jubahnya dan membawa mangkuknya seperti biasanya, ia memasuki desa itu untuk mengumpulkan dana makanan, terjaga dengan baik sehubungan dengan pergerakan jasmaninya, terkendali dengan baik sehubungan dengan indria-indrianya, dan berkembang dalam perhatian benar.
‘Para penggembala sapi, penggembala domba, atau orang-orang yang lewat yang sebelumnya memasuki hutan itu dan melihatnya, yang telah berpikir, “Sekarang, pertapa ini telah meninggal selagi duduk di dalam hutan,” sekarang berpikir, “Kemarin kami mengumpulkan kayu kering dan rerumputan, menumpuknya sampai menutupi tubuhnya, menyalakan api padanya, dan kemudian pergi. Namun yang mulia ini telah memulihkan persepsinya.” Si Jahat, adalah karena alasan ini sehingga Yang Mulia Persepsi dinamakan “Persepsi”.
‘Si Jahat, pada waktu itu māra bernama Perusak berpikir, “Para pertapa berkepala gundul ini terikat oleh kegelapan mereka sendiri, silsilah mereka terputus karena mereka tanpa anak; ketika berlatih meditasi, mereka melamun, semakin banyak melamun, dan terus-menerus melamun, berulang-ulang.
‘“Mereka seperti seekor keledai yang telah membawa beban berat sepanjang hari dan, ketika diikat di kandang tetapi belum makan gandum mereka, melamunkan tentang gandum itu, semakin banyak melamun, dan terus-menerus melamun berulang-ulang. Dengan cara yang sama, para pertapa berkepala gundul ini terikat oleh kegelapan mereka sendiri, silsilah mereka terputus karena mereka tanpa anak; ketika berlatih meditasi, mereka melamun, semakin banyak melamun, terus-menerus melamun, berulang-ulang.
‘“Mereka seperti seekor kucing yang menanti di samping lubang tikus, menginginkan untuk menangkap tikus; karena hal itu, ia melamun, semakin banyak melamun, terus-menerus melamun berulang-ulang. Dengan cara yang sama, para pertapa berkepala gundul ini terikat oleh kegelapan mereka sendiri, silsilah mereka terputus karena mereka tanpa anak; ketika berlatih meditasi, mereka melamun, semakin banyak melamun, terus-menerus melamun, berulang-ulang.
‘“Mereka seperti seekor burung hantu atau rubah yang menanti pada celah tumpukan kayu bakar kering karena ia ingin menangkap tikus; karena hal itu, ia melamun, semakin banyak melamun, terus-menerus melamun berulang-ulang. Dengan cara yang sama, para pertapa berkepala gundul ini terikat oleh kegelapan mereka sendiri, silsilah mereka terputus karena mereka tanpa anak; ketika berlatih meditasi, mereka melamun, semakin banyak melamun, terus-menerus melamun, berulang-ulang.
‘“Mereka seperti seekor burung bangau yang menanti di tepi sungai karena ia ingin menangkap ikan; karena hal itu, ia melamun, semakin banyak melamun, terus-menerus melamun berulang-ulang. Dengan cara yang sama, para pertapa berkepala gundul ini terikat oleh kegelapan mereka sendiri, silsilah mereka terputus karena mereka tanpa anak; ketika berlatih meditasi, mereka melamun, semakin banyak melamun, terus-menerus melamun, berulang-ulang.
‘“Apakah yang mereka lamunkan? Untuk manfaat apakah mereka melamun? Apakah yang mereka cari melalui lamunan? Mereka kebingungan, gila, dan hancur. Aku tidak mengetahui dari manakah mereka berasal, ke manakah mereka akan pergi, atau di manakah mereka berdiam. Aku tidak mengetahui tentang kematian mereka atau kelahiran kembali mereka. Biarlah aku menghasut para brahmana perumah tangga, ‘Ayo, kalian semua! Hinalah para pertapa tekun itu! Pukuli mereka dan celalah mereka!’ Mengapakah demikian? Mungkin ketika para pertapa itu dihina, dipukuli, dan dicela ini dapat memunculkan suatu keadaan pikiran tidak bermanfaat dalam diri mereka. Maka aku akan mendapatkan kesempatan.”
‘Si Jahat, ketika māra bernama Perusak menghasut para brahmana perumah tangga dengan cara ini, para brahmana perumah tangga menghina, memukuli, dan mencela para pertapa tekun itu. Beberapa brahmana perumah tangga memukuli mereka dengan potongan kayu, beberapa melempar batu kepada mereka, beberapa memukul mereka dengan tongkat, beberapa melukai kepala para pertapa tekun itu, beberapa mengoyakkan jubah mereka, dan beberapa menghancurkan mangkuk dana mereka.
‘Kemudian, karena hal ini, dikondisikan oleh hal ini, ketika para brahmana perumah tangga tersebut meninggal, ketika hancurnya jasmani saat kematian, mereka pasti pergi menuju alam yang buruk, terlahir kembali di neraka. Setelah terlahir kembali di sana, mereka berpikir, “Kita pantas mengalami penderitaan ini, dan kita akan mengalami penderitaan yang lebih ekstrem daripada ini. Mengapakah demikian? Karena kami melakukan perbuatan jahat terhadap para pertapa tekun.”
‘Si Jahat, para siswa Tathāgata Kakusandha, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, setelah kepala mereka dilukai, jubah mereka dikoyak-koyak, dan mangkuk dana mereka dihancurkan, mendekati Tathāgata Kakusandha, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna.
‘Pada waktu itu Tathāgata Kakusandha, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, dikelilingi oleh tak terhitung ratusan dan ribuan pengikut di mana beliau sedang mengajarkan Dharma kepada mereka. Tathāgata Kakusandha, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, melihat dari jauh bahwa para siswanya dengan kepala mereka dilukai, jubah mereka dikoyak-koyak, dan mangkuk mereka dihancurkan, sedang mendekat. Melihat hal ini, beliau berkata kepada para bhikkhu, “Apakah kalian melihat itu? Māra bernama Perusak telah menghasut para brahmana perumah tangga: ‘Ayo, kalian semua! Hinalah para pertapa tekun itu! Pukuli mereka dan celalah mereka!’ Mengapakah demikian? Karena ia berpikir, ‘Mungkin ketika para pertapa itu dihina, dipukuli, dan dicela ini dapat memunculkan suatu keadaan pikiran tidak bermanfaat dalam diri mereka. Maka aku akan mendapatkan kesempatan.’
‘“Para bhikkhu, kalian seharusnya berdiam dengan pikiran yang dipenuhi dengan cinta kasih, secara batin meliputi satu arah, demikian juga arah kedua, ketiga, dan keempat – seluruh empat arah dan juga empat arah di antaranya, atas dan bawah, semua di sekelilingnya, di mana pun. Berdiamlah dengan pikiran yang dipenuh dengan cinta kasih – tanpa belenggu, kebencian, permusuhan, dan perselisihan – dengan pikiran yang telah menjadi tidak terbatas, luhur, tak terukur, dan berkembang dengan baik, setelah meliputi seluruh dunia. Berdiamlah seperti ini, setelah meliputi seluruh dunia dengan pikiran yang dipenuhi dengan belas kasih … dengan kegembiraan empatik … dengan keseimbangan, tanpa belenggu, kebencian, permusuhan, dan perselisihan – dengan pikiran yang telah menjadi tidak terbatas, luhur, tak terukur, dan berkembang dengan baik. Biarlah māra bernama Perusak yang mencari untuk mendapatkan kesempatan tidak dapat memperoleh kesempatan.”
‘Si Jahat, ketika Tathāgata Kakusandha, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, mengajarkan para siswanya ajaran ini dan mereka telah menerima ajaran ini, mereka berdiam secara batin meliputi satu arah dengan pikiran yang dipenuhi dengan cinta kasih, demikian juga arah kedua, ketiga, dan keempat – seluruh empat arah dan juga empat arah di antaranya, atas dan bawah, semua di sekelilingnya, di mana pun. Mereka berdiam dengan pikiran yang dipenuhi dengan cinta kasih – tanpa belenggu, kebencian, permusuhan, dan perselisihan – dengan pikiran yang telah menjadi tidak terbatas, luhur, tak terukur, dan berkembang dengan baik, setelah meliputi seluruh dunia. Mereka berdiam seperti ini setelah meliputi seluruh dunia dengan pikiran yang dipenuhi dengan belas kasih … dengan kegembiraan empatik … dengan keseimbangan, tanpa belenggu, kebencian, permusuhan, dan perselisihan – dengan pikiran yang telah menjadi tidak terbatas, luhur, tak terukur, dan berkembang dengan baik, setelah meliputi seluruh dunia. Karena alasan ini, māra bernama Perusak yang mencari untuk mendapatkan kesempatan tidak dapat memperoleh kesempatan.
‘Si Jahat, pada waktu itu māra bernama Perusak berpikir, “Aku tidak dapat memperoleh kesempatan dengan para pertapa tekun dengan cara ini. Biarlah aku sekarang alih-alih mendorong para brahmana perumah tangga, ‘Ayo, kalian semua. Hormatilah, pujalah, dan layanilah para pertapa tekun itu!’ Mungkin, ketika para pertapa tekun itu dihormati, dipuja, dan dilayani itu dapat memunculkan suatu keadaan pikiran tidak bermanfaat dalam diri mereka. Maka aku akan mendapatkan kesempatan.”
‘Si Jahat, setelah didorong demikian oleh māra bernama Perusak, semua brahmana perumah tangga menghormati, memuja, dan melayani para pertapa tekun itu. Mereka membentangkan pakaian mereka di atas tanah dan berkata, “Para pertapa tekun, mohon berjalanlah di atas ini. Para pertapa tekun berlatih apa yang sulit dilatih. Berikanlah kami manfaat dan perolehan yang bertahan lama, kedamaian dan kebahagiaan dengan menginjak pakaian ini!”
‘Para brahmana perumah tanga membentangkan rambut mereka di atas tanah dan berkata, “Para pertapa tekun, mohon berjalanlah di atas ini. Para pertapa tekun berlatih apa yang sulit dilatih. Berikanlah kami manfaat dan perolehan yang bertahan lama, kedamaian dan kebahagiaan dengan menginjak rambut ini!”
‘Para brahmana perumah tangga, dengan memegang berbagai jenis makanan dan minuman pada tangan mereka, berdiri menanti di pinggir jalan, dengan berkata, “Para pertapa tekun, terimalah ini, makanlah ini, ambillah ini dengan tangan kalian dan gunakanlah ini seperti kalian inginkan. Berikanlah kami manfaat dan perolehan yang bertahan lama, kedamaian dan kebahagiaan!”
‘Para brahmana perumah tangga yang berkeyakinan, melihat para pertapa tekun itu, dengan hormat membawa mereka pada lengan, menuntun mereka ke dalam rumah mereka dan, memegang berbagai benda berharga, berkata kepada para pertapa tekun itu, “Terimalah ini! Bawalah ini bersama kalian dan gunakanlah ini seperti kalian inginkan!”
‘Kemudian karena hal ini, dikondisikan oleh hal ini, ketika para brahmana perumah tangga tersebut meninggal ketika hancurnya jasmani saat kematian, mereka pasti pergi menuju alam kehidupan yang baik, terlahir kembali di alam surga. Setelah terlahir kembali di sana, mereka berpikir, “Kami layak mengalami kebahagiaan ini, dan kami akan mengalami kebahagiaan yang bahkan lebih ekstrem. Mengapakah demikian? Karena kami melakukan perbuatan baik terhadap para pertapa tekun.”
‘Si Jahat, para siswa Tathāgata Kakusandha, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, setelah dihormati, dipuja, dan dilayani, mendekati Tathāgata Kakusandha, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna. Pada waktu itu, Tathāgata Kakusandha, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, dikelilingi oleh tak terhitung ratusan dan ribuan pengikut di mana beliau sedang mengajarkan Dharma kepada mereka.
‘Tathāgata Kakusandha, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, melihat dari jauh bahwa para siswanya, yang telah dihormati, dipuja, dan dilayani, sedang mendekat. Melihat hal ini, beliau berkata kepada para bhikkhu, “Apakah kalian melihat itu? Māra bernama Perusak mendorong para brahmana perumah tangga, ‘Ayo, kalian semua. Hormatilah, pujalah, dan layanilah para pertapa tekun itu!’ Ia berpikir, ‘Mungkin, ketika para pertapa tekun itu dihormati, dipuja, dan dilayani, ini dapat memunculkan suatu keadaan pikiran tidak bermanfaat dalam diri mereka, maka aku akan mendapatkan kesempatan.’
‘“Para bhikkhu, kalian seharusnya merenungkan semua bentukan sebagai tidak kekal, merenungkannya sebagai bersifat muncul dan lenyap, merenungkan kebosanan, merenungkan ditinggalkannya, merenungkan lenyapnya, dan merenungkan pelenyapan. Biarlah māra bernama Perusak, yang mencari untuk mendapatkan kesempatan tidak dapat memperoleh kesempatan.”
‘Si Jahat, ketika Tathāgata Kakusandha, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, mengajarkan para siswanya ajaran ini dan mereka telah menerima ajaran tersebut, mereka merenungkan semua bentukan sebagai tidak kekal, mereka merenungkannya sebagai bersifat muncul dan lenyap, mereka merenungkan kebosanan, mereka merenungkan ditinggalkannya, mereka merenungkan lenyapnya, dan mereka merenungkan pelenyapan, sehingga māra bernama Perusak, yang sedang mencari untuk mendapatkan kesempatan, tidak dapat memperoleh kesempatan.
‘Si Jahat, pada waktu itu māra bernama Perusak berpikir, “Aku tidak dapat memperoleh kesempatan dengan para pertapa tekun itu dengan cara ini. Biarlah aku alih-alih mengubah diriku menjadi seorang pemuda dan, memegang sebatang tongkat besar di tanganku dan berdiri di pinggir jalan, aku akan memukul Yang Mulia Suara pada kepalanya sehingga kepalanya terpotong dan darah mengucur wajahnya.”
‘Si Jahat, saat fajar Tathāgata Kakusandha, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, yang sedang tinggal bergantung pada sebuah desa atau kota kecil, mengenakan jubahnya, membawa mangkuknya, dan memasuki desa untuk mengumpulkan dana makanan. Yang Mulia Suara mengikuti di belakang beliau sebagai pelayan beliau.
‘Si Jahat, pada waktu itu māra bernama Perusak, setelah mengubah dirinya menjadi seorang pemuda, sedang memegang sebatang tongkat besar di tangannya dan berdiri di pinggir jalan. Ia memukul Yang Mulia Suara pada kepalanya, memotongnya, dan darah mengucur wajahnya. Si Jahat, Yang Mulia Suara, dengan kepalanya terpotong dan darah mengucur wajahnya, mengikuti di belakang Tathāgata Kakusandha, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, bagaikan bayangan yang tidak pernah meninggalkannya.
‘Si Jahat, Tathāgata Kakusandha, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, setelah mencapai desa, memutar seluruh tubuhnya ke kanan untuk melihat, dengan cara seekor nāga melihat ke sekeliling, mengamati semua arah tanpa takut atau gentar.
‘Si Jahat, Tathāgata Kakusandha, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, melihat bahwa Yang Mulia Suara, dengan kepalanya terpotong dan darah mengucur wajahnya, sedang mengikuti di belakang Sang Buddha seperti bayangan yang tidak pernah meninggalkannya. Kemudian beliau berkata, “Māra bernama Perusak adalah kejam dan bengis serta memiliki kekuatan besar. Māra bernama Perusak ini tidak mengetahui berapa banyak yang cukup.”
‘Si Jahat, sebelum Tathāgata Kakusandha, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, menyelesaikan perkataannya, pada waktu itu tubuh māra bernama Perusak langsung jatuh dari tempat itu ke dalam Neraka Besar Tanpa Penghilangan.
‘Si Jahat, Neraka Besar ini memiliki empat sebutan. Pertama adalah “Tanpa Penghilangan”, kedua adalah “Ratusan Paku”, ketiga adalah “Ujung Runcing Berduri”, dan keempat adalah “Enam Kontak”. Di Neraka Besar itu terdapat para penjaga yang mendekati māra bernama Perusak. Mereka berkata kepada māra bernama Perusak, “Sekarang, engkau seharusnya mengetahui bahwa ketika paku dan paku bertemu satu sama lain, seratus tahun penuh telah berlalu.”’
Mendengar hal ini, Māra, Si Jahat, mengalami jantung berdebar-debar disebabkan oleh ketakutan dan kengerian, dan semua rambut pada tubuhnya berdiri tegak. Ia berkata kepada Yang Mulia Mahāmoggallāna dengan syair:
‘Neraka manakah itu
Di mana māra bernama Perusak terjatuh pada masa lampau,
Ia yang menyulitkan dan melukai para praktisi kehidupan suci Sang Buddha
Dan mengganggu para bhikkhu?’
Yang Mulia Mahāmoggallāna menjawab Māra, Si Jahat, dengan syair:
‘Tanpa Penghilangan adalah nama neraka itu
Di mana māra bernama Perusak sebelumnya terjatuh,
Ketika ia menyulitkan dan melukai para praktisi kehidupan suci Sang Buddha
Dan mengganggu para bhikkhu.‘Ia mengandung ratusan paku besi,
Masing-masing darinya dengan ujung runcing berduri.
Tanpa Penghilangan adalah nama neraka itu
Di mana māra bernama Perusak berada pada masa lampau.‘Mereka yang tidak memahami
Akibat menyerang para bhikkhu yang adalah siswa Sang Buddha
Pasti akan menderita seperti ini,
Mengalami akibat perbuatan gelap mereka.‘Terdapat berbagai jenis taman hiburan,
Bagi manusia di dunia
Yang makan padi putih yang tumbuh secara alami
Ketika berdiam di benua utara (Uttarakuru),‘Di puncak Gunung Sumeru agung
Aku mengembangkan pikiranku dengan baik dan membakar semua kekotoran.
Setelah berlatih di sini dan mencapai pembebasan,
Aku sekarang memikul tubuh terakhirku.‘Terletak di dekat mata air besar
Sebuah istana yang akan bertahan selama sepanjang kalpa,
Berwarna keemasan yang indah,
Dan bercahaya bagaikan nyala api.‘Berbagai jenis musik dimainkan
Ketika seseorang mendekati tempat kediaman Sakka,
Tempat tinggalnya satu-satunya, di mana pada masa lalu,
Seperti yang dikenal luas, telah dipersembahkan kepadanya.‘Dengan Sakka berjalan di depanku
Aku naik ke Istana Vejayanta.
Ketika melihat Sakka, masing-masing bidadari surgawi
Mulai menari dengan sukacita.
Ketika melihat seorang bhikkhu datang,
Mereka mengundurkan diri dengan malu.‘Ketika tiba di Istana Vejayanta,
Dan melihat bhikkhu itu, Sakka bertanya kepadanya sebuah pertanyaan,
“Apakah pertapa agung mengetahui
Akhir ketagihan dan pencapaian pembebasan?”‘Bhikkhu itu menjawab
Sesuai dengan pertanyaan si penanya,
“Kosiya, aku mengetahui
Akhir ketagihan dan pencapaian pembebasan.”‘Ketika mendengar jawabannya
Sakka memperoleh sukacita dan kebahagiaan.
Ia berkata, “Bhikkhu itu sangat memberikan manfaat kepadaku;
Apa yang telah ia katakan sesuai dengan pertanyaanku.”‘Setelah tiba di Istana Vejayanta,
Bhikkhu itu bertanya kepada Sakka, raja para dewa,
“Apakah nama istana ini,
Sakka, dalam kota yang engkau perintah?”‘Sakka menjawab, “Pertapa Agung,
Ia disebut Vejayanta,
Yang bermakna ‘seribu dunia
Di antara seribu dunia’.
Tidak ada yang melampaui atau bahkan menyerupai
Istana Vejayanta ini.”‘Di sana Raja Surgawi, Sakka, raja para dewa,
Dapat berdiam dengan nyaman sesukanya.
Ia menikmati tak terhitung kenikmatan,
Dengan mengubah satu kenikmatan menjadi seratus.
Dalam Istana Vejayanta
Sakka dapat berdiam dengan nyaman.‘Walaupun Istana Vejayanta megah,
Aku dapat mengguncangnya dengan ujung kakiku,
Seperti yang dilihat Raja Surgawi dengan matanya sendiri.
Namun Sakka masih dapat berdiam di dalamnya dengan nyaman.‘Karena, seperti Aula Ibu Migāra,
Fondasinya dibangun sangat dalam dan padat.
Adalah sulit untuk dipindahkan dan diguncang,
Tetapi kekuatan batin dapat mengguncangnya.‘Ia memiliki lantai berlapis kaca yang berwarna-warni
Di mana para mulia telah melangkahinya.
Licin dan berkilau, menyenangkan untuk disentuh,
Dibentang dengan penutup kapas yang lembut.‘Dengan kumpulan yang berbicara menyenangkan dan rukun,
Raja Surgawi selalu berbahagia.
Ia ahli dalam bermain musik
Dengan nada dan melodi yang harmonis.‘Ketika seorang pemasuk-arus berbicara
Semua dewa datang dan berkumpul,
Tak terhitung ribuan
Dan ratusan banyak sekali dari mereka.‘Setelah pergi ke Surga Tiga-Puluh-Tiga,
Ia yang memiliki mata kebijaksanaan mengajarkan mereka Dharma.
Setelah mendengar ajarannya,
Para dewa bergembira dan menerimanya dengan hormat.‘Aku juga memiliki kualitas ini,
Seperti yang dikatakan para pertapa.
Aku pergi sampai alam Brahmā
Dan bertanya kepada Brahmā,
“Brahmā, apakah engkau masih memiliki pandangan ini,
Yaitu pandangan: ‘Aku ada di masa lampau yang jauh,
Dan aku masih ada, dan aku selalu akan ada,
Kekal dan tidak berubah’?”‘Brahmā menjawab,
“Pertapa agung, aku tidak lagi memiliki pandangan itu,
Yaitu pandangan: ‘Aku ada di masa lampau yang jauh,
Aku kekal dan tidak berubah.’
Sebaliknya aku melihat bahwa semua Brahmā
Di alam ini akan meninggal.
Bagaimana mungkin aku sekarang mengatakan
Bahwa aku kekal dan tidak berubah?‘“Aku melihat dunia ini
Seperti yang diajarkan Yang Tercerahkan Sempurna.
Ia telah muncul sesuai dengan sebab dan kondisi,
Dan akan kembali ke mana ia berasal.‘“Api tidak berpikir:
‘Aku akan membakar orang bodoh.’
Ketika api membakar, jika seorang bodoh menyentuhnya,
Secara alamiah ia pasti terbakar.‘“Dengan cara yang sama, Si Jahat,
Jika engkau mengganggu seorang Tathāgata,
Dan terlibat dalam perbuatan tidak bermanfaat selama waktu yang lama,
Engkau akan mengalami akibat buruk selama waktu yang lama.‘“Si Jahat, janganlah membenci Sang Buddha!
Janganlah menyulitkan atau melukai para bhikkhu!
Terdapat seorang bhikkhu yang menaklukkan Māra
Yang berdiam di Hutan Menakutkan.”‘Si Jahat khawatir dan bersedih,
Setelah ditegur oleh Moggallāna.
Ketakutan dan tanpa kebijaksanaan,
Ia segera lenyap dari tempat itu.’
Demikianlah yang diucapkan Yang Mulia Mahāmoggallāna. Setelah mendengar apa yang dikatakan Yang Mulia Mahāmoggallāna, Māra Si Jahat bergembira dan menerimanya dengan hormat.
Komentar [0]