Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Ukkācelā, di tepi sebuah kolam di dekat Sungai Gangga.
Pada waktu itu, pada sore hari seorang bhikkhu tertentu bangkit dari duduk bermeditasi, mendekati Sang Buddha, memberikan penghormatan pada kaki Sang Buddha, dan mengundurkan diri untuk duduk pada satu sisi. Ia berkata:
‘Semoga Sang Bhagavā dengan baik mengajarkanku Dharma. Setelah mendengarkan Dharma dari Sang Bhagavā, aku akan berdiam di suatu tempat yang jauh dan terpencil serta berlatih dengan tekun, dengan pikiran yang bebas dari kemalasan. Melalui berdiam di suatu tempat yang jauh dan terpencil serta berlatih dengan tekun, dengan pikiran yang bebas dari kemalasan, semoga aku menyempurnakan kehidupan suci, demi tujuan di mana para anggota keluarga mencukur rambut dan janggut, mengenakan jubah kuning, meninggalkan rumah demi keyakinan, dan pergi meninggalkan keduniawian untuk berlatih sang jalan dan mencapai sepenuhnya puncak kehidupan suci. Semoga aku, dalam kehidupan ini juga, secara pribadi mencapai pemahaman dan pencerahan, dan berdiam setelah secara pribadi merealisasinya. Semoga aku mengetahui sebagaimana adanya: “Kelahiran telah diakhiri, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan mengalami kelangsungan lain.”’
Sang Bhagavā berkata:
‘Bhikkhu, engkau seharusnya berlatih dengan cara sedemikian sehingga pikiran menjadi tenang, menyisakan ketanpa-gangguan di dalam, dengan mengembangkan faktor-faktor bermanfaat yang tak terukur. Selanjutnya, renungkanlah jasmani sebagai jasmani secara internal, dengan berdiam dengan ketekunan sepenuhnya, dengan perhatian benar dan pemahaman benar terkembang, menjinakkan pikiranmu sendiri dengan baik, sehingga ketamakan ditinggalkan dan pikiran tanpa kekesalan. Selanjutnya, renungkanlah jasmani sebagai jasmani secara eksternal, dengan berdiam dengan ketekunan sepenuhnya, dengan perhatian benar dan pemahaman benar terkembang, menjinakkan pikiranmu sendiri dengan baik sehingga ketamakan ditinggalkan dan pikiran tanpa kekesalan. Selanjutnya, renungkanlah jasmani sebagai jasmani secara internal dan eksternal, dengan berdiam dengan ketekunan sepenuhnya, dengan perhatian benar dan pemahaman benar terkembang, menjinakkan pikiranmu sendiri dengan baik sehingga ketamakan ditinggalkan dan pikiran tanpa kekesalan.
‘Bhikkhu, konsentrasi demikian seharusnya dikembangkan dengan baik ketika pergi dan datang. Engkau seharusnya mengembangkannya ketika berdiri, ketika duduk, ketika berbaring, ketika pergi tidur, ketika terjaga, dan ketika baik tidur maupun terjaga. Selanjutnya, engkau seharusnya mengembangkan konsentrasi dengan kesadaran terarah dan perenungan berkelanjutan, … konsentrasi tanpa kesadaran terarah tetapi dengan hanya perenungan berkelanjutan; … engkau seharusnya mengembangkan dengan baik konsentrasi tanpa kesadaran terarah dan tanpa perenungan berkelanjutan; dan engkau seharusnya mengembangkan konsentrasi yang disertai dengan sukacita, … konsentrasi yang disertai dengan kenikmatan, … konsentrasi yang disertai dengan keterpusatan, dan engkau seharusnya mengembangkan dengan baik konsentrasi yang disertai dengan keseimbangan.
‘Bhikkhu, ketika engkau telah mengembangkan konsentrasi ini, ketika engkau telah mengembangkannya dengan sangat baik, maka, bhikkhu, engkau seharusnya lebih lanjut merenungkan perasaan sebagai perasaan secara internal, dengan berdiam dengan ketekunan sepenuhnya, dengan perhatian benar dan pemahaman benar terkembang, menjinakkan pikiranmu sendiri dengan baik sehingga ketamakan ditinggalkan dan pikiran tanpa kekesalan. Selanjutnya, renungkanlah perasaan sebagai perasaan secara eksternal, dengan berdiam dengan ketekunan sepenuhnya, dengan perhatian benar dan pemahaman benar terkembang, menjinakkan pikiranmu sendiri dengan baik sehingga ketamakan ditinggalkan dan pikiran tanpa kekesalan. Selanjutnya, renungkanlah perasaan sebagai perasaan secara internal dan eksternal, dengan berdiam dengan ketekunan sepenuhnya, dengan perhatian benar dan pemahaman benar terkembang, menjinakkan pikiranmu sendiri dengan baik sehingga ketamakan ditinggalkan dan pikiran tanpa kekesalan.
‘Bhikkhu, konsentrasi demikian seharusnya dikembangkan dengan baik ketika pergi dan datang. Engkau seharusnya mengembangkannya ketika berdiri, duduk, berbaring, pergi tidur, terjaga, dan ketika baik tidur maupun terjaga. Selanjutnya, engkau seharusnya mengembangkan konsentrasi dengan kesadaran terarah dan perenungan berkelanjutan, … konsentrasi tanpa kesadaran terarah tetapi dengan hanya perenungan berkelanjutan; … engkau seharusnya mengembangkan dengan baik konsentrasi tanpa kesadaran terarah dan tanpa perenungan berkelanjutan; dan engkau seharusnya mengembangkan konsentrasi yang disertai dengan sukacita, … konsentrasi yang disertai dengan kenikmatan, … konsentrasi yang disertai dengan keterpusatan; dan engkau seharusnya mengembangkan dengan baik konsentrasi yang disertai dengan keseimbangan.
‘Bhikkhu, ketika engkau telah mengembangkan konsentrasi ini, ketika engkau telah mengembangkannya dengan sangat baik, maka, bhikkhu, engkau seharusnya lebih lanjut merenungkan keadaan pikiran sebagai keadaan pikiran secara internal, dengan berdiam dengan ketekunan sepenuhnya, dengan perhatian benar dan pemahaman benar terkembang, menjinakkan pikiranmu sendiri dengan baik sehingga ketamakan ditinggalkan dan pikiran tanpa kekesalan. Selanjutnya, engkau seharusnya merenungkan keadaan pikiran sebagai keadaan pikiran secara eksternal, dengan berdiam dengan ketekunan sepenuhnya, dengan perhatian benar dan pemahaman benar terkembang, menjinakkan pikiranmu sendiri dengan baik sehingga ketamakan ditinggalkan dan pikiran tanpa kekesalan. Selanjutnya, engkau seharusnya merenungkan keadaan pikiran sebagai keadaan pikiran secara internal dan eksternal, dengan berdiam dengan ketekunan sepenuhnya, dengan perhatian benar dan pemahaman benar terkembang, menjinakkan pikiranmu sendiri dengan baik sehingga ketamakan ditinggalkan dan pikiran tanpa kekesalan.
‘Bhikkhu, konsentrasi demikian seharusnya dengan baik dikembangkan ketika pergi dan datang. Engkau seharusnya mengembangkannya ketika berdiri, duduk, berbaring, pergi tidur, terjaga, dan baik ketika tidur maupun terjaga. Selanjutnya, engkau seharusnya mengembangkan konsentrasi dengan kesadaran terarah dan perenungan berkelanjutan, … konsentrasi tanpa kesadaran terarah tetapi dengan hanya perenungan berkelanjutan; … engkau seharusnya mengembangkan dengan baik konsentrasi tanpa kesadaran terarah dan tanpa perenungan berkelanjutan; dan engkau seharusnya mengembangkan konsentrasi yang disertai dengan sukacita, … konsentrasi yang disertai dengan kenikmatan, … konsentrasi yang disertai dengan keterpusatan, dan engkau seharusnya mengembangkan dengan baik konsentrasi yang disertai dengan keseimbangan.
‘Bhikkhu, ketika engkau telah mengembangkan konsentrasi ini, ketika engkau telah mengembangkannya dengan sangat baik, maka, bhikkhu, engkau seharusnya lebih lanjut merenungkan dharma-dharma sebagai dharma-dharma secara internal, dengan berdiam dengan ketekunan sepenuhnya, dengan perhatian benar dan pemahaman benar terkembang, menjinakkan pikiranmu sendiri dengan baik sehingga ketamakan ditinggalkan dan pikiran tanpa kekesalan. Selanjutnya, engkau seharusnya mengembangkan dharma-dharma sebagai dharma-dharma secara eksternal, dengan berdiam dengan ketekunan sepenuhnya, dengan perhatian benar dan pemahaman benar terkembang, menjinakkan pikiranmu sendiri dengan baik sehingga ketamakan ditinggalkan dan pikiran tanpa kekesalan. Selanjutnya, engkau seharusnya mengembangkan dharma-dharma sebagai dharma-dharma secara internal dan eksternal, dengan berdiam dengan ketekunan sepenuhnya, dengan perhatian benar dan pemahaman benar terkembang, menjinakkan pikiranmu sendiri dengan baik sehingga ketamakan ditinggalkan dan pikiran tanpa kekesalan.
‘Bhikkhu, konsentrasi demikian seharusnya dengan baik dikembangkan ketika pergi dan datang. Engkau seharusnya mengembangkannya ketika berdiri, duduk, berbaring, pergi tidur, terjaga, dan baik ketika tidur maupun terjaga. Selanjutnya, engkau seharusnya mengembangkan konsentrasi dengan kesadaran terarah dan perenungan berkelanjutan, … konsentrasi tanpa kesadaran terarah tetapi dengan hanya perenungan berkelanjutan; … engkau seharusnya mengembangkan dengan baik konsentrasi tanpa kesadaran terarah dan tanpa perenungan berkelanjutan; dan engkau seharusnya mengembangkan konsentrasi yang disertai dengan sukacita, … konsentrasi yang disertai dengan kenikmatan, … konsentrasi yang disertai dengan keterpusatan, dan engkau seharusnya mengembangkan dengan baik konsentrasi yang disertai dengan keseimbangan.
‘Bhikkhu, ketika engkau telah mengembangkan konsentrasi ini, ketika engkau telah mengembangkannya dengan sangat baik, bhikkhu, engkau seharusnya berdiam meliputi satu arah dengan pikiran yang dipenuhi dengan cinta kasih, demikian juga arah kedua, ketiga, dan keempat, dan juga empat arah di antaranya, atas, dan bawah, semua di sekelilingnya, di mana pun. Dengan pikiran yang dipenuhi cinta kasih, bebas dari belenggu-belenggu atau kebencian, tanpa permusuhan atau perselisihan, engkau seharusnya berdiam meliputi seluruh dunia dengan pikiran yang tidak terbatas, luhur, tak terukur, dan berkembang dengan baik.
‘Dengan cara yang sama, engkau harus memenuhi pikiranmu dengan belas kasih, … dengan kegembiraan empatik, … dan dengan keseimbangan, bebas dari belenggu-belenggu atau kebencian, tanpa permusuhan atau perselisihan; engkau seharusnya berdiam meliputi seluruh dunia dengan pikiran yang tidak terbatas, luhur, tak terukur, dan berkembang dengan baik.
‘Bhikkhu, ketika engkau telah mengembangkan konsentrasi ini, mengembangkannya dengan sangat baik, jika engkau mengembara ke arah timur, engkau pasti akan dalam kenyamanan, bebas dari berbagai penderitaan dan dukacita. Jika engkau mengembara ke arah selatan, … arah barat, … atau arah utara engkau pasti akan dalam kenyamanan, bebas dari berbagai penderitaan dan dukacita.
‘Bhikkhu, ketika engkau telah mengembangkan konsentrasi ini, mengembangkannya dengan sangat baik, maka, aku tidak mengatakan bahwa engkau akan hanya mempertahankan kondisi-kondisi bermanfaat, apalagi bahwa engkau akan mengalami kemunduran; sebaliknya aku mengatakan bahwa engkau akan, pada siang dan malam, berkembang dalam kondisi-kondisi bermanfaat ini tanpa kemunduran.
‘Bhikkhu, ketika engkau telah mengembangkan konsentrasi ini, mengembangkannya dengan sangat baik, maka engkau pasti akan mencapai salah satu dari dua buah: engkau akan mencapai pengetahuan akhir dalam kehidupan ini atau, jika terdapat sisa kemelekatan, engkau akan mencapai yang tidak-kembali.’
Kemudian bhikkhu itu, setelah mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, setelah menerimanya dengan baik dan mengingatnya dengan baik, bangkit dari tempat duduknya, memberikan penghormatan pada kaki Sang Buddha, mengelilingi beliau tiga kali, dan pergi.
Mengingat instruksi dari Sang Buddha, ia berdiam di suatu tempat yang jauh dan terpencil serta berlatih dengan tekun, dengan pikiran yang bebas dari kemalasan. Melalui berdiam di suatu tempat yang jauh dan terpencil, berlatih dengan tekun, dengan pikiran yang bebas dari kemalasan, ia menyempurnakan kehidupan suci, demi tujuan di mana para anggota keluarga mencukur rambut dan janggut, mengenakan jubah kuning, meninggalkan rumah demi keyakinan, dan pergi meninggalkan keduniawian dan mencapai sepenuhnya puncak kehidupan suci. Dalam kehidupan ini juga ia secara pribadi mencapai pemahaman dan pencerahan serta berdiam setelah secara pribadi merealisasinya. Ia mengetahui sebagaimana adanya: “Kelahiran telah diakhiri, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan mengalami kelangsungan lain.” Yang mulia itu, setelah memahami Dharma, menjadi seorang arahant.
Demikianlah yang diucapkan Sang Buddha. Setelah mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.
Komentar [0]