Demikianlah telah kudengar. Pada satu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī, tinggal di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.
Kemudian, pengurus istana Isidatta menginstruksikan seorang utusan:
‘Mendekati Sang Buddha, berikanlah penghormatan atas namaku pada kaki Sang Bhagavā, dan tanyakan Sang Bhagavā apakah yang mulia sehat dan kuat jasmaninya, nyaman dan bebas dari penyakit, dan berdiam dengan nyaman, dengan kekuatan beliau yang biasanya. Katakanlah hal ini: “Pengurus istana Isidatta memberikan penghormatan pada kaki Sang Buddha dan bertanya kepada Sang Bhagavā apakah yang mulia sehat dan kuat, nyaman dan bebas dari penyakit, berdiam dengan nyaman, dengan kekuatan beliau yang biasanya.”
‘Ketika engkau telah bertanya kepada Sang Buddha dengan cara ini, engkau harus mendekati Yang Mulia Anuruddha dan, setelah memberikan penghormatan atas namaku pada kakinya, tanyakan yang mulia itu apakah yang mulia sehat dan kuat, nyaman dan bebas dari penyakit, dan berdiam dengan nyaman, dengan kekuatannya yang biasanya. Katakanlah hal ini: “Pengurus istana Isidatta memberikan penghormatan pada kaki Yang Mulia Anuruddha dan bertanya kepada yang mulia apakah yang mulia sehat dan kuat, nyaman, dan bebas dari penyakit, berdiam dengan nyaman, dengan kekuatannya yang biasanya. Pengurus istana Isidatta mengundang Yang Mulia Anuruddha, bersama-sama dengan tiga orang lainnya, empat orang seluruhnya, untuk makan besok.”
‘Jika ia menerima undangan itu, maka katakanlah juga hal ini: “Yang Mulia Anuruddha, Pengurus istana Isidatta sangat sibuk dengan banyak urusan, berbagai urusan untuk dipertimbangkan dan dikelola demi raja. Semoga Yang Mulia Anuruddha dan teman-temannya, empat orang seluruhnya, demi belas kasih datang ke rumah Pengurus istana Isidatta besok pagi-pagi sekali.”’
Kemudian, setelah menerima intruksi dari Pengurus istana Isidatta, utusan itu mendekati Sang Buddha, memberikan penghormatan pada kaki Sang Buddha, dan, dengan mengundurkan diri pada satu sisi, berkata:
‘Sang Bhagavā, Pengurus istana Isidatta memberikan penghormatan pada kaki Sang Buddha dan bertanya apakah Sang Bhagavā sehat dan kuat, nyaman, dan bebas dari penyakit, berdiam dengan nyaman, dengan kekuatan beliau yang biasanya.
Pada waktu itu, Sang Bhagavā berkata kepada utusan itu, “Semoga Pengurus istana Isidatta menemukan kesejahteraan dan kebahagiaan! Semoga semua dewa, manusia, asura, gandhabba, yakkha, dan semua bentuk kehidupan lainnya menemukan kesejahteraan dan kebahagiaan!”
Kemudian utusan itu, setelah menerima dengan baik dan mengingat dengan baik apa perkataan Sang Buddha yang ia dengar, memberikan penghormatan pada kaki Sang Buddha, mengelilingi beliau tiga kali, dan pergi. Ia mendekati Yang Mulia Anuruddha, memberikan penghormatan pada kakinya, mengundurkan diri, duduk pada satu sisi, dan berkata:
‘Yang Mulia Anuruddha, Pengurus istana Isidatta memberikan penghormatan pada kaki Yang Mulia Anuruddha dan bertanya kepada yang mulia apakah yang mulia sehat dan kuat, nyaman dan bebas dari penyakit, dan berdiam dengan nyaman, dengan kekuatannya yang biasanya. Pengurus istana Isidatta mengundang Yang Mulia Anuruddha bersama-sama dengan tiga orang lainnya, empat orang seluruhnya, untuk makan besok.’
Pada waktu itu Yang Mulia Kaccāna Sejati sedang duduk bermeditasi tidak jauh dari Yang Mulia Anuruddha. Kemudian Yang Mulia Anuruddha berkata kepada Yang Mulia Kaccāna:
‘Baru saja aku mengatakan bahwa kita akan pergi ke Sāvatthī besok pagi untuk mengumpulkan dana makanan, dan sekarang hal ini telah muncul. Pengurus istana Isidatta mengirim seorang utusan yang mengundang kita, empat orang semuanya, untuk makan besok.’
Yang Mulia Kaccāna Sejati berkata:
‘Semoga Yang Mulia Anuruddha, demi kepentingan orang itu Pengurus istana Isidatta, menerima undangan itu dengan tetap berdiam diri. Besok pagi kita akan meninggalkan Sītavana ini dan memasuki Sāvatthī seakan-akan untuk mengumpulkan dana makanan. Semoga Yang Mulia Anuruddha, demi kepentingan orang itu, menerima undangan itu dengan tetap berdiam diri.’
Kemudian, ketika utusan itu memahami bahwa Yang Mulia Anuruddha telah menerima dengan tetap berdiam diri, ia juga mengajukan permintaan demikian:
‘Pengurus istana Isidatta berkata kepada Yang Mulia Anuruddha, “Pengurus istana Isidatta sangat sibuk dengan banyak urusan, berbagai urusan untuk diurus dan dikelola demi raja. Semoga Yang Mulia Anuruddha dan teman-temannya, empat orang seluruhnya, demi belas kasih datang ke rumah Pengurus istana Isidatta besok pagi-pagi sekali.”’
Yang Mulia Anuruddha berkata kepada utusan itu, “Engkau dapat kembali. Aku sendiri mengetahui waktu yang tepat.” Kemudian utusan itu bangkit dari tempat duduknya, memberikan penghormatan, mengelilingi Yang Mulia Anuruddha tiga kali, dan pergi.
Kemudian, ketika malam telah berlalu, ketika fajar, Yang Mulia Anuruddha mengenakan jubahnya, membawa mangkuknya, dan dengan teman-temannya, empat orang seluruhnya, mendekati rumah Pengurus istana Isidatta. Pada waktu itu, Pengurus istana Isidatta sedang berdiri di pintu masuk tengah rumahnya, dikelilingi oleh para wanita dari rumah tangganya, menanti Yang Mulia Anuruddha. Ia melihat Yang Mulia Anuruddha datang dari kejauhan. Ketika melihatnya, ia merentangkan tangannya dengan telapak tangan disatukan terhadap Yang Mulia Anuruddha dan dengan hormat berkata, “Selamat datang, Yang Mulia Anuruddha! Yang Mulia Anuruddha tidak kemari dalam waktu yang lama.” Kemudian, dengan hormat memapah Yang Mulia Anuruddha pada lengannya, Pengurus istana Isidatta membawanya ke dalam rumah dan mempersilakannya duduk pada tempat duduk bagus yang telah diatur untuknya.
Yang Mulia Anuruddha duduk pada tempat duduk itu. Pengurus istana Isidatta memberikan penghormatan pada kaki Yang Mulia Anuruddha, mengundurkan diri, dan duduk pada satu sisi. Setelah duduk ia berkata, “Yang Mulia Anuruddha, aku ingin menanyakan suatu pertanyaan. Semoga anda mengizinkan hal ini!”
Yang Mulia Anuruddha berkata, “Pengurus istana, tanyakanlah apa yang engkau inginkan. Setelah mendengarnya, aku akan mempertimbangkannya.”
Pengurus istana Isidatta berkata:
‘Yang Mulia Anuruddha, beberapa pertapa dan brahmana datang dan berkata kepadaku, “Pengurus istana, engkau seharusnya mengembangkan pembebasan pikiran yang luhur (mahaggata).” Dan, Yang Mulia Anuruddha, para pertapa dan brahmana lainnya datang dan berkata kepadaku, “Pengurus istana, engkau seharusnya mengembangkan pembebasan pikiran yang tak terukur (appamāṇa).” Yang Mulia, sehubungan dengan “pembebasan pikiran yang luhur” dan “pembebasan pikiran yang tak terukur”, apakah dua pembebasan ini berbeda baik dalam ungkapan maupun maknanya? Atau apakah keduanya berbeda hanya dalam ungkapan namun memiliki makna yang sama?”’
Yang Mulia Anuruddha berkata, “Pengurus istana, sehubungan dengan pertanyaan yang baru saja engkau tanyakan ini, pertama-tama engkau jawablah sendiri; setelah itu aku akan menjawabnya.”
Pengurus istana Isidatta berkata:
‘Yang Mulia Anuruddha, sehubungan dengan “pembebasan pikiran yang luhur” dan “pembebasan pikiran yang tak terukur”, aku berpikir bahwa dua pembebasan ini berbeda hanya dalam ungkapan dan memiliki makna yang sama.’
Pengurus istana Isidatta dengan demikian tidak dapat menjawab pertanyaan itu dengan benar. Yang Mulia Anuruddha berkata:
‘Pengurus istana, dengarkanlah selagi aku menjelaskan padamu apakah “pembebasan pikiran yang luhur” dan apakah “pembebasan pikiran yang tak terukur”. Sehubungan dengan “pembebasan pikiran yang luhur”, seumpamanya bahwa seorang pertapa atau brahmana, yang berdiam di wilayah hutan, pergi ke bawah sebatang pohon di tempat yang kosong dan sunyi. Berdiam dengan bergantung pada satu pohon ini, ia, melalui ketetapan hati, meliputi wilayah di bawah pohon itu dengan pembebasan pikirannya yang luhur. Pembebasan pikirannya memiliki batas ini dan tidak melampauinya.
‘Seumpamanya bahwa berdiam dengan bergantung pada tidak hanya satu atau dua atau tiga pohon, pertapa atau brahmana itu, melalui ketetapan hati, meliputi wilayah di bawah dua atau tiga pohon dengan pembebasan pikirannya yang luhur. Namun pembebasan pikirannya memiliki batas ini dan tidak melampauinya. Seumpamanya bahwa berdiam dengan bergantung pada tidak hanya dua atau tiga pohon tetapi seluruh hutan, ia, melalui ketetapan hati, meliputi wilayah itu dengan pembebasan pikirannya yang luhur. Namun pembebasan pikirannya memiliki batas ini dan tidak melampauinya.
‘Seumpamanya bahwa, berdiam dengan bergantung pada tidak hanya satu hutan tetapi dua atau tiga hutan, …. Seumpamanya bahwa, berdiam dengan bergantung pada tidak hanya dua atau tiga hutan tetapi satu desa, …. Seumpamanya bahwa, berdiam dengan bergantung pada tidak hanya satu desa tetapi dua atau tiga desa, …. Seumpamanya bahwa, berdiam dengan bergantung pada tidak hanya dua atau tiga desa tetapi satu negeri, …. Seumpamanya bahwa, berdiam dengan bergantung pada tidak hanya satu negeri tetapi dua atau tiga negeri, …. Seumpamanya bahwa, berdiam dengan bergantung pada tidak hanya dua atau tiga negeri tetapi seluruh bumi yang besar ini, sampai sejauh samudera raya, pertapa atau brahmana itu, melalui ketetapan hati, meliputi wilayah yang luas dengan pembebasan pikirannya yang luhur. Namun pembebasan pikirannya memiliki batas ini dan tidak melampauinya. Ini adalah apa yang dimaksud dengan “pembebasan pikiran yang luhur”.
‘Pengurus istana, apakah “pembebasan pikiran yang tak terukur”? Seumpamanya bahwa seorang pertapa atau brahmana, yang berdiam di wilayah hutan, pergi ke bawah sebatang pohon di tempat yang kosong dan sunyi. Ia berdiam dengan pikiran yang dipenuhi dengan cinta kasih, meliputi satu arah, demikian juga arah kedua, ketiga, dan keempat, dan juga empat arah di antaranya, atas, dan bawah, semua di sekelilingnya, di mana pun. Ia berdiam meliputi seluruh dunia dengan pikiran yang dipenuhi dengan cinta kasih, tanpa belenggu-belenggu atau kebencian, tanpa permusuhan atau perselisihan, pikiran yang tidak terbatas, luhur, tak terukur, dan berkembang dengan baik. Dengan cara yang sama ia berdiam dengan pikiran yang dipenuhi dengan belas kasih, … dengan kegembiraan empatik, … dengan keseimbangan, meliputi seluruh dunia dengan pikiran yang dipenuhnya dengan keseimbangan, tanpa belenggu-belenggu atau kebencian, tanpa permusuhan atau perselisihan, pikiran yang tidak terbatas, luhur, tak terukur, dan berkembang dengan baik. Ini adalah apa yang dimaksud dengan “pembebasan pikiran yang tak terukur”.
‘Pengurus istana, “pembebasan pikiran yang luhur” ini dan “pembebasan pikiran yang tak terukur” ini – apakah dua pembebasan ini berbeda baik dalam ungkapan maupun maknanya, atau apakah keduanya berbeda hanya dalam ungkapan namun memiliki makna yang sama?’
Pengurus istana Isidatta berkata kepada Yang Mulia Anuruddha, “Seperti baru saja aku telah mendengarnya sekarang dari yang mulia dan karenanya memahami maknanya, dua pembebasan ini berbeda dalam ungkapan dan juga dalam makna.”
Yang Mulia Anuruddha berkata:
‘Pengurus istana, terdapat tiga kelompok dewa ini: para dewa bercahaya, para dewa bercahaya murni, dan para dewa bercahaya murni yang menyebar luas. Dari ketiga ini, para dewa bercahaya terlahir di satu alam tertentu. Mereka tidak berpikir, “Ini milikku, itu milikku”; alih-alih, ke mana pun para dewa bercahaya ini pergi, mereka bergembira di tempat itu.
‘Pengurus istana, seperti halnya seekor lalat pada sepotong daging yang tidak berpikir, “Ini milikku, itu milikku” dan alih-alih, ke mana pun lalat itu pergi dalam potongan daging itu, ia bergembira di tempat itu. Dengan cara yang sama. Para dewa bercahaya tidak berpikir, “Ini milikku, itu milikku”; alih-alih, ke mana pun para dewa bercahay ini pergi, mereka bergembira di tempat itu. Ada kalanya ketika para bercahaya berkumpul di satu tempat. Maka, walaupun tubuh mereka adalah berbeda, cahaya mereka adalah sama.
‘Pengurus istana, seperti halnya ketika seseorang menyalakan banyak sekali pelita dan menempatkannya dalam satu ruangan; walaupun pelita-pelita itu adalah berbeda, cahayanya adalah sama. Dengan cara yang sama, ketika para dewa bercahaya berkumpul di satu tempat, maka, walaupun tubuh mereka berbeda, cahaya mereka adalah sama. Ada kalanya ketika para dewa bercahaya terpisah dari satu sama lainnya. Ketika mereka terpisah dari satu sama lainnya, tubuh mereka adalah berbeda dan cahaya mereka adalah juga berbeda.
‘Pengurus istana, seperti halnya ketika seseorang mengambil banyak sekali pelita dari satu ruangan dan menempatnya secara terpisah dalam banyak ruangan; pelita-pelita itu adalah berbeda dan cahayanya juga berbeda. Sama halnya ketika para dewa bercahaya terpisah dari satu sama lainnya; ketika mereka terpisah dari satu sama lainnya, tubuh mereka adalah berbeda dan cahaya mereka juga berbeda.’
Kemudian Yang Mulia Kaccāna Sejati berkata, “Yang Mulia Anuruddha, sehubungan denga para dewa bercahaya itu yang terlahir di satu alam, apakah seseorang dapat mengetahui keunggulan relatif mereka, tingkat kehalusan mereka?”
Yang Mulia Anuruddha menjawab, “Yang Mulia Kaccāna, sehubungan dengan para dewa bercahaya itu yang terlahir dalam satu alam, dapat dikatakan bahwa seseorang dapat mengetahui keunggulan relatif mereka, tingkat kehalusan mereka.”
Yang Mulia Kaccāna Sejati bertanya lebih lanjut, “Yang Mulia Anuruddha, sehubungan dengan para dewa bercahaya itu yang terlahir di satu alam, apakah sebabnya, apakah alasannya seseorang dapat mengetahui keunggulan relatif mereka, tingka kehalusan mereka?”
Yang Mulia Anuruddha menjawab:
‘Yang Mulia Kaccāna, seumpamanya bahwa seorang pertapa atau brahmana, yang berdiam di wilayah hutan, pergi ke bawah sebatang pohon di tempat yang kosong dan sunyi. Berdiam dengan bergantung pada satu pohon ini, ia mencapai persepsi atas wilayah di bawah pohon itu dengan cahaya yang dihasilkan melalui ketetapan hati. Persepsinya dengan cahaya yang dihasilkan secara batin adalah sangat berlimpah. Namun pembebasan pikirannya memiliki batas ini dan tidak melampauinya.
‘Seumpamanya bahwa, berdiam dengan bergantung pada tidak hanya satu pohon tetapi dua atau tiga pohon, ia mencapai persepsi atas wilayah di bawah dua atau tiga pohon itu dengan cahaya yang dihasilkan melalui ketetapan hati. Persepsinya dengan cahaya yang dihasilkan secara batin adalah sangat berlimpah. Namun pembebasan pikirannya memiliki batas ini dan tidak melampauinya.
‘Yang Mulia Kaccāna, dari dua pembebasan pikiran ini, manakah yang lebih tinggi, yang manakah yang lebih unggul, manakah yag lebih halus, manakah yang lebih baik?’
Yang Mulia Kaccāna Sejati menjawab:
‘Yang Mulia Anuruddha, seumpamanya bahwa seorang pertapa atau brahmana, yang berdiam dengan bergantung pada tidak hanya satu pohon tetapi dua atau tiga pohon, mencapai persepsi atas wilayah di bawah dua atau tiga pohon itu dengan cahaya yang dihasilkan melalui ketetapan hati. Persepsinya dengan cahaya yang dihasilkan secara batin adalah sangat berlimpah. Namun pembebasan pikirannya memiliki batas ini dan tidak melampauinya. Yang Mulia Anuruddha, dari dua pembebasan ini, pembebasan yang terakhir adalah lebih tinggi, lebih unggul, lebih halus, yang terbaik.’
Yang Mulia Anuruddha bertanya lebih lanjut:
‘Yang Mulia Kaccāna, seumpamanya bahwa, berdiam dengan bergantung pada tidak hanya dua atau tiga pohon tetapi satu hutan, …. Seumpamanya bahwa, berdiam dengan bergantung pada tidak hanya satu hutan tetapi dua atau tiga hutan, …. Seumpamanya bahwa, berdiam dengan bergantung pada tidak hanya dua atau tiga hutan tetapi satu desa, …. Seumpamanya bahwa, berdiam dengan bergantung pada tidak hanya satu desa tetapi dua atau tiga desa, …. Seumpamanya bahwa, berdiam dengan bergantung pada tidak hanya dua atau tiga desa tetapi satu negeri, …. Seumpamanya bahwa, berdiam dengan bergantung pada tidak hanya satu negeri tetapi dua atau tiga negeri, …. Seumpamanya bahwa, berdiam dengan bergantung pada tidak hanya dua atau tiga negeri tetapi seluruh bumi yang besar ini, sampai dengan samudera raya, ia mencapai persepsi atas wilayah luas ini dengan cahaya yang dihasilkan melalui ketetapan hati. Persepsinya dengan cahaya yang dihasilkan secara batin adalah sangat berlimpah. Namun pembebasan pikirannya memiliki batas ini dan tidak melampauinya. Yang Mulia Kaccāna, dari dua pembebasan pikiran terakhir itu, manakah yang lebih tinggi, lebih unggul, lebih halus, lebih baik?’
Yang Mulia Kaccāna Sejati menjawab:
‘Yang Mulia Anuruddha, seumpamanya bahwa, berdiam dengan bergantung pada tidak hanya dua atau tiga pohon tetapi satu hutan, …. Seumpamanya bahwa, berdiam dengan bergantung pada tidak hanya satu hutan tetapi dua atau tiga hutan, …. Seumpamanya bahwa, berdiam dengan bergantung pada tidak hanya dua atau tiga hutan tetapi satu desa, …. Seumpamanya bahwa, berdiam dengan bergantung pada tidak hanya satu desa tetapi dua atau tiga desa, …. Seumpamanya bahwa, berdiam dengan bergantung pada tidak hanya dua atau tiga desa tetapi satu negeri, …. Seumpamanya bahwa, berdiam dengan bergantung pada tidak hanya satu negeri tetapi dua atau tiga negeri, …. Seumpamanya bahwa, berdiam dengan bergantung pada tidak hanya dua atau tiga negeri tetapi seluruh bumi yang besar ini, sampai sejauh samudera raya, seorang pertapa atau brahmana mencapai persepsi atas wilayah luas ini dengan cahaya yang dihasilkan melalui ketetapan hati. Persepsinya dengan cahaya yang dihasilkan secara batin adalah sangat berlimpah. Namun pembebasan pikirannya memiliki batas ini dan tidak melampauinya. Yang Mulia Anuruddha, dari dua pembebasan terakhir itu, pembebasan terakhir adalah lebih tinggi, lebih unggul, lebih halus, lebih baik.’
Yang Mulia Anuruddha berkata:
‘Yang Mulia Kaccāna, inilah sebabnya, inilah mengapa, sehubungan dengan para dewa bercahaya itu yang terlahir di satu alam, seseorang dapat mengetahui keunggulan relatif mereka, tingkat kehalusan mereka. Mengapakah demikian? Ini disebabkan oleh keunggulan relatif pikiran mereka ketika mereka adalah manusia. Dalam pengembangan mereka terdapat tingkat kehalusan atau kekasaran. Karena tingkat kehalusan atau kekasaran dalam pengembangan mereka, para manusia memiliki tingkatan keungulan. Yang Mulia Kaccāna, Sang Bhagavā juga telah menjelaskan keunggulan relatif di antara para manusia dengan cara ini.’
Yang Mulia Kaccāna Sejati bertanya lebih lanjut, “Yang Mulia Anuruddha, sehubungan dengan para dewa bercahaya murni itu yang terlahir di satu alam, apakah dapat dikatakan bahwa seseorang dapat mengetahui keunggulan relatif mereka, tingkat kehalusan mereka?”
Yang Mulia Anuruddha menjawab, “Yang Mulia Kaccāna, sehubungan dengan para dewa bercahaya murni itu yang terlahir di satu alam, dapat dikatakan bahwa seseorang dapat mengetahui keunggulan relatif mereka, tingkat kehalusan mereka.”
Yang Mulia Kaccāna Sejati bertanya lebih lanjut, “Yang Mulia Anuruddha, sehubungan dengan para dewa bercahaya murni itu yang terlahir di satu alam, apakah sebabnya, apakah alasannya bahwa seseorang dapat mengetahui keunggulan relatif mereka, tingkat kehalusan mereka?”
Yang Mulia Anuruddha menjawab:
‘Yang Mulia Kaccāna, seumpamanya bahwa seorang pertapa atau brahmana, yang berdiam di wilayah hutan, pergi ke bawah sebatang pohon di tempat yang kosong dan sunyi. Melalui ketetapan hati ia meliputi surga bercahaya murni. Tetapi, ia tidak mengembangkan konsentrasi ini, tidak melatihnya, tidak memperluasnya, tidak menyempurnakannya sepenuhnya. Pada waktu belakangan, ketika jasmaninya hancur pada saat kematian, ia terlahir kembali di antara para dewa bercahaya murni. Setelah terlahir kembali di sana ia tidak mencapai ketenangan tertinggi, tidak mencapai kedamaian tertinggi, dan tidak menyelesaikan perjalanan hidupnya.
‘Yang Mulia Kaccāna, seperti halnya ketika sekuntum seroja biru, atau seroja merah atau merah tua, seroja putih lahir dalam air, tumbuh dalam air, dan tetap berada di bawah air. Akar, tangkai, bunga, dan dedaunannya sepenuhnya dibasahi oleh air; tidak ada bagian darinya yang tidak dibasahi dengan air.
‘Yang Mulia Kaccāna, seumpamanya bahwa seorang pertapa atau brahmana, yang berdiam di wilayah hutan, pergi ke bawah sebatang pohon di tempat yang kosong dan sunyi. Melalui ketetapan hati ia meliputi surga bercahaya murni. Tetapi, ia tidak mengembangkan konsentrasi ini, tidak melatihnya, tidak memperluasnya, tidak menyempurnakannya sepenuhnya. Ketika jasmaninya hancur pada saat kematian, ia terlahir kembali di antara para dewa bercahaya murni. Setelah terlahir kembali di sana, ia tidak mencapai ketenangan tertinggi, tidak mencapai kedamaian tertinggi, dan tidak menyelesaikan perjalanan hidupnya.
‘Selanjutnya, Yang Mulia Kaccāna, seumpamanya seorang pertapa atau brahmana, yang berdiam di wilayah hutan, pergi ke bawah sebatang pohon di tempat yang kosong dan sunyi. Melalui ketetapan hati ia meliputi surga bercahaya murni. Ia sering mengembangkan konsentrasi ini, sering melatihnya, sering memperluasnya, dan menyempurnakannya sepenuhnya. Ketika jasmaninya hancur pada saat kematian ia terlahir kembali di antara para dewa bercahaya murni. Setelah terlahir kembali disana, ia mencapai ketenangan tertinggi, mencapai kedamaian tertinggi, dan menyelesaikan perjalanan hidupnya.
‘Yang Mulia Kaccāna, seperti halnya ketika sekuntum seroja biru, atau teratai merah atau merah tua, atau teratai putih lahir dalam air, tumbuh dalam air, tetapi kemudian muncul di atas air, di mana ia tidak lagi dibasahi oleh air.
‘Dengan cara yang sama, Yang Mulia Kaccāna, seorang pertapa atau brahmana, melalui ketetapan hati meliputi surga bercahaya murni. Ia sering mengembangkan konsentrasi ini, sering melatihnya, sering memperluasnya, dan menyempurnakannya sepenuhnya. Ketika jasmaninya hancur pada saat kematian ia terlahir kembali di antara para dewa bercahaya murni. Setelah terlahir kembali di sana, ia mencapai ketenangan tertinggi, mencapai kedamaian tertinggi, dan menyelesaikan perjalanan hidupnya.
‘Yang Mulia Kaccāna, inilah sebabnya, inilah mengapa, sehubungan dengan para dewa bercahaya murni yang terlahir di satu alam, seseorang dapat mengetahui keunggulan relatif mereka, tingkat kehalusan mereka. Mengapakah demikian? Ini disebabkan oleh keunggulan relatif pikiran mereka ketika mereka adalah manusia. Dalam pengembangan mereka terdapat tingkat kehalusan atau kekasaran. Karena terdapat tingkat kehalusan atau kekasaran, para manusia memiiki tingkat keunggulan. Yang Mulia Kaccāna, Sang Bhagavā juga telah menjelaskan keunggulan relatif di antara para manusia dengan cara ini.’
Yang Mulia Kaccāna Sejati bertanya lebih lanjut, “Yang Mulia Anuruddha, sehubungan dengan para dewa bercahaya murni yang menyebar luas itu yang terlahir di satu alam, apakah seseorang dapat mengetahui keunggulan relatif mereka, tingkat kehalusan mereka?”
Yang Mulia Anuruddha menjawab, “Yang Mulia Kaccāna, sehubungan dengan para dewa bercahaya murni yang menyebar luas itu yang terlahir di satu alam, dapat dikatakan bahwa seseorang dapat mengetahui keunggulan relatif, tingkat kehalusan relatif.”
Yang Mulia Kaccāna Sejati bertanya lebih lanjut:
‘Yang Mulia Anuruddha, sehubungan dengan para dewa bercahaya murni yang menyebar luas itu yang terlahir di satu alam, apakah sebabnya, apakah alasannya bahwa seseorang dapat mengetahui keunggulan relatif mereka, tingkat kehalusan mereka?’
Yang Mulia Anuruddha menjawab:
‘Yang Mulia Kaccāna, seumpamanya bahwa seorang pertapa atau brahmana, yang berdiam di wilayah hutan, pergi ke bawah sebatang pohon di tempat yang kosong dan sunyi. Melalui ketetapan hati ia meliputi surga bercahaya murni yang menyebar luas. Namun ia belum sepenuhnya mengakhiri kelambanan dan ketumpulan, ia belum dengan baik menenangkan kegelisahan dan kekhawatiran. Pada waktu belakangan, ketika jasmaninya hancur pada saat kematian, ia terlahir kembali di antara para dewa bercahaya murni yang menyebar luas. Ketika terlahir kembali di sana, cahayanya tidak sepenuhnya murni.
‘Yang Mulia Kaccāna, seperti halnya sebuah pelita yang terbakar bergantung pada minyak dan sumbu. Jika terdapat ketidakmurnian dalam minyak dan sumbu tidak murni, cahaya yang muncul bergantung pada pelita ini tidak akan cemerlang dan murni.
‘Dengan cara yang sama, Yang Mulia Kaccāna, seumpamanya bahwa seorang pertapa atau brahmana, yang berdiam di wilayah hutan, pergi ke bawah sebatang pohon di tempat yang kosong dan sunyi. Melalui ketetapan hati ia meliputi surga bercahaya murni yang menyebar luas, tetapi ia belum sepenuhnya mengakhiri kelambanan dan ketumpulan, ia belum dengan baik menenangkan kegelisahan dan kekhawatiran. Ketika jasmaninya hancur pada saat kematian ia terlahir kembali di antara para dewa bercahaya murni yang menyebar luas. Setelah terlahir kembali di sana cahayanya tidak sepenuhnya murni.
‘Selanjutnya, Yang Mulai Kaccāna, seumpamanya bahwa seorang pertapa atau brahmana, yang berdiam di wilayah hutan, pergi ke bawah sebatang pohon di tempat yang kosong dan sunyi. Melalui ketetapan hati ia meliputi surga bercahaya murni yang menyebar luas. Ia telah sepenuhnya mengakhiri kelambanan dan ketumpulan, dan ia telah dengan baik menenangkan kegelisahan dan kekhawatiran. Ketika jasmaninya hancur pada saat kematian, ia terlahir kembali di antara para dewa bercahaya murni yang menyebar luas. Setelah terlahir di sana cahayanya sepenuhnya murni.
‘Yang Mulia Kaccāna, seperti halnya sebuah pelita yang terbakar bergantung pada minyak dan sumbu. Jika tidak ada ketidakmurnian dalam minyak dan sumbu juga sepenuhnya murni, cahaya yang muncul bergantung pada pelita ini akan sepenuhnya cemerlang dan murni.
‘Dengan cara yang sama, Yang Mulia Kaccāna, seumpamanya bahwa seorang pertapa atau brahmana, yang berdiam di wilayah hutan, pergi ke bawah sebatang pohon di tempat yang kosong dan sunyi. Melalui ketetapan hati ia meliputi surga bercahaya murni yang menyebar luas. Ia telah sepenuhnya mengakhiri kelambanan dan ketumpulan, dan ia telah dengan baik menenangkan kegelisahan dan kekhawatiran. Ketika jasmaninya hancur pada saat kematian, ia terlahir kembali di antara para dewa bercahaya murni yang menyebar luas. Setelah terlahir kembali di sana cahayanya sepenuhnya murni.
‘Yang Mulia Kaccāna, inilah sebabnya, inilah alasannya mengapa, sehubungan dengan para dewa bercahaya murni yang menyebar luas itu yang terlahir di satu alam, seseorang dapat mengetahui keunggulan relatif mereka, tingkat kehalusan mereka. Mengapakah demikian? Ini disebabkan oleh keunggulan relatif pikiran mereka ketika mereka adalah manusia. Dalam pengembangan mereka terdapat tingkat kehalusan atau kekasaran. Karena tingkat kehalusan atau kekasaran dalam pengembangan mereka, para manusia memiliki tingkat keunggulan. Yang Mulia Kaccāna, Sang Bhagavā juga telah menjelaskan keunggulan relatif di antara para manusia dengan cara ini.’
Kemudian Yang Mulia Kaccāna Sejati mengucapkan pujian terhadap Anuruddha kepada Pengurus istana Isidatta:
‘Bagus, bagus, Pengurus istana! Engkau telah sangat memberi manfaat kepada kami. Mengapakah demikian? Engkau pertama-tama bertanya kepada Yang Mulia Anuruddha tentang kelangsungan para dewa yang lebih tinggi. Kami tidak pernah sebelumnya mendengar dari Yang Mulia Anuruddha suatu penjelasan demikian tentang para dewa ini, yaitu bahwa para dewa ini ada dan bahwa para dewa ini adalah seperti ini.’
Kemudian Yang Mulia Anuruddha berkata:
‘Yang Mulia Kaccāna, terdapat banyak dewa demikian. Bahkan matahari dan bulan ini, yang memiliki kekuatan batin yang besar demikian serta kebajikan yang besar dan hebat demikian, jasa yang besar demikian, kekuatan dewa yang besar demikian, tetapi kecemerlangan mereka tidak sama dengan kecemerlangan para dewa itu yang telah secara pribadi kutemui, di mana dengannya aku telah bertukar salam dan berbicara, dan di mana aku telah menerima tanggapan darinya. Namun aku tidak pernah sebelumnya memberikan suatu penjelasan tentang para dewa ini, yaitu bahwa para dewa ini ada dan bahwa para dewa ini seperti ini.’
Pada waktu itu, Pengurus istana Isidatta, yang memahami bahwa diskusi para yang mulia itu telah selesai, bangkit dari tempat duduknya dan secara pribadi membawakan air untuk mencuci. Dengan tangannya sendiri ia mempersiapkan bermacam-macam hidangan yang murni dan lezat untuk dimakan, dinikmati, dan dicerna, dengan memastikan terdapat cukup makanan untuk dimakan. Setelah Yang Mulia Anuruddha telah selesai makan, mengesampingkan mangkuknya, dan mencuci tangannya, Pengurus istana Isidatta mengambil tempat duduk yang rendah dan duduk pada satu sisi untuk mendengarkan Dharma. Ketika Pengurus istana Isidatta telah duduk, Yang Mulia Anuruddha mengajarkannya Dharma, mendorong dan menginspirasinya, sepenuhnya menggembirakannya. Setelah mengajarkan Pengurus istana Isidatta Dharma dengan tak terhitung cara terampil, setelah mendorong dan menginspirasinya, sepenuhnya menggembirakannya, Yang Mulia Anuruddha bangkit dari tempat duduknya dan pergi.
Demikianlah yang diucapkan Yang Mulia Anuruddha. Setelah mendengar apa yang dikatakan Yang Mulia Anuruddha, Pengurus istana Isidatta dan para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan baik.
Komentar [0]