Memuat

Terjemahan [4]

Kotbah tentang Tanpa Duri

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Vesālī, di Aula Beratap Lancip di samping Kolam Monyet. Para sesepuh senior yang terkemuka dan baik, para siswa agung, seperti Cāla, Upacāla, Bhadda, Ariṭṭha, Upariṭṭha, dan Yasa yang sangat dipuji, para sesepuh senior yang terkemuka dan baik, dan para siswa agung demikian juga sedang berdiam di Aula Beratap Lancip di samping Kolam Monyet. Mereka semua sedang tinggal di dekat Sang Buddha, di sebelah gubuk daun beliau.

Orang-orang Licchavi dari Vesālī mendengar bahwa Sang Bhagavā sedang berdiam di Vesālī di Aula Beratap Lancip di samping Kolam Monyet. Mereka berpikir, “Biarlah kita, dengan kekuatan besar dan keagungan kerajaan kita, dengan nyaring bernyanyi, pergi ke luar Vesālī dan mendekati Sang Buddha untuk memberikan penghormatan.”

Kemudian, para sesepuh senior yang terkemuka dan baik, para siswa agung itu, mendengar bahwa orang-orang Licchavi, dengan kekuatan besar dan keagungan kerajaan mereka, dan dengan nyaring bernyanyi, sedang keluar dari Vesālī untuk mendekati Sang Buddha dan memberikan penghormatan. Mereka berpikir, “Kebisingan adalah duri bagi jhāna. Sang Bhagavā telah menyatakan bahwa kebisingan adalah duri bagi jhāna. Marilah kita sebaiknya pergi ke Hutan Gosiṅga. Dengan berdiam di sana kita tidak akan terganggu, dan akan tinggal terasing dan sendirian untuk duduk bermeditasi.” Para sesepuh senior yang terkemuka dan baik, para siswa agung itu, pergi ke Hutan Gosiṅga. Di sana, tidak terganggu, mereka tinggal terasing dan sendirian untuk duduk bermeditasi.

Pada waktu itu orang-orang Licchavi dari Vesālī, dengan kekuatan besar dan keagungan kerajaan mereka, dengan nyaring bernyanyi, pergi ke luar Vesālī dan mendekati Sang Buddha untuk memberikan penghormatan. Beberapa orang Licchavi dari Vesālī memberikan penghormatan dengan kepala mereka pada kaki Sang Buddha, mengundurkan diri, dan duduk pada satu sisi; beberapa bertukar salam dengan Sang Buddha, mengundurkan diri, dan duduk pada satu sisi; beberapa merentangkan tangan mereka dengan telapak tangan yang disatukan terhadap Sang Buddha, mengundurkan diri, dan duduk pada satu sisi; dan beberapa, yang melihat Sang Buddha dari jauh, tetap berdiam diri, dan duduk.

Kemudian, ketika sejumlah besar orang Licchavi dari Vesālī semuanya telah menenangkan diri, Sang Bhagavā mengajarkan mereka Dharma. Beliau mendorong dan menginspirasi mereka, dengan sepenuhnya menggembirakan mereka, mengajarkan Dharma dengan tak terhitung cara terampil. Setelah mendorong dan menginspirasi mereka, dan sepenuhnya menggembirakan mereka, beliau berdiam diri. Kemudian sejumlah besar orang Licchavi dari Vesālī, setelah diajarkan Dharma oleh Sang Bhagavā, setelah didorong, terinspirasi, dan sepenuhnya bergembira, bangkit dari tempat duduk mereka, memberikan penghormatan dengan kepala mereka pada kaki Sang Buddha, mengelilingi beliau tiga kali, dan pergi.

Segera setelah orang-orang Licchavi dari Vesālī pergi, Sang Bhagavā bertanya kepada para bhikkhu, “Ke manakah para sesepuh senior, para siswa agung, pergi?”

Para bhikkhu menjawab:

‘Sang Bhagavā, para sesepuh senior, para siswa agung, mendengar bahwa orang-orang Licchavi dari Vesālī, dengan kekuatan besar dan keagungan kerajaan mereka, dengan nyaring bernyanyi, sedang keluar dari Vesālī untuk mendekati Sang Buddha dan memberikan penghormatan. Mereka berpikir, “Kebisingan adalah duri bagi jhāna. Sang Bhagavā telah menyatakan bahwa kebisingan adalah duri bagi jhāna. Marilah kita sebaiknya pergi ke Hutan Gosiṅga. Dengan berdiam di sana kita tidak akan terganggu, dan akan tinggal terasing dan sendiri untuk duduk bermeditasi.” Sang Bhagavā, para sesepuh senior, para siswa agung itu, semuanya pergi ke sana bersama-sama.’

Ketika mendengar hal ini, Sang Bhagavā memuji mereka, dengan berkata:

‘Bagus, bagus bahwa para sesepuh senior, para siswa agung, seharusnya berkata seperti ini: “Kebisingan adalah duri bagi jhāna. Sang Bhagavā telah menyatakan bahwa kebisingan adalah duri bagi jhāna.” Mengapakah demikian? Aku memang benar berkata seperti ini, Kebisingan sesungguhnya adalah duri bagi jhāna.

‘Bagi seseorang yang menjaga moralitas, pelanggaran moralitas adalah duri; bagi seseorang yang menjaga indria-indria, hiasan jasmani adalah duri; bagi seseorang yang mengembangkan persepsi kejijikan, penampakan kemurnian adalah duri; bagi seseorang yang mengembangkan cinta kasih, kemarahan adalah duri; bagi seseorang yang menghindari diri dari minuman keras, meminum minuman keras adalah duri; bagi seseorang yang menjalankan kehidupan selibat, melihat pada bentuk wanita adalah duri; bagi seseorang yang memasuki jhāna pertama, kebisingan adalah duri; bagi seseorang yang memasuki jhāna kedua, kesadaran terarah dan perenungan berkelanjutan (vitakka-vicāra) adalah duri; bagi seseorang yang memasuki jhāna ketiga, sukacita adalah duri; bagi seseorang yang memasuki jhāna keempat, napas masuk dan napas keluar adalah duri; bagi seseorang yang memasuki landasan ruang tanpa batas, persepsi bentuk adalah duri; bagi seseorang yang memasuki landasan kesadaran tanpa batas, persepsi ruang tanpa batas adalah duri; bagi seseorang yang memasuki landasan kekosongan, persepsi landasan kesadaran tanpa batas adalah duri; bagi seseorang yang memasuki landasan bukan-persepsi-juga-bukan-tanpa-persepsi, persepsi landasan kekosongan adalah duri; bagi seseorang yang memasuki konsentrasi dengan pelenyapan persepsi dan perasaan, persepsi dan perasaan adalah duri.

‘Selanjutnya, terdapat tiga duri: duri nafsu, duri kemarahan, dan duri ketidaktahuan. Seorang arahant, yang telah melenyapkan noda-noda telah memotong tiga duri ini, mengetahui bahwa mereka telah mencabut sampai ke akarnya dan menghancurkannya sehingga mereka tidak akan muncul kembali. Yaitu, seorang arahant adalah tanpa duri; seorang arahant terpisahkan dari duri; demikianlah seorang arahant adalah tanpa duri dan terpisahkan dari duri.’

Demikianlah yang diucapkan Sang Buddha. Setelah mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.

Komentar [0]