Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Rājagaha di Hutan Bambu, di Tempat Perlindungan Tupai, di mana beliau sedang menjalankan pengasingan musim hujan dengan sekumpulan besar bhikkhu.
Pada waktu itu Yang Mulia Mahāmoggallāna berkata kepada para bhikkhu:
‘Teman-teman yang mulia, mungkin bahwa seorang bhikkhu memohon para bhikkhu lain, “Teman-teman yang mulia, mohon nasihatilah diriku, ajarkanlah diriku, dan tegurlah diriku. Janganlah menganggapku sebagai seseorang yang menyulitkan.”
‘Mengapakah demikian? Teman-teman yang mulia, seumpamanya bahwa seseorang tertentu sulit untuk ditegur, dan memiliki kualitas-kualitas yang membuatnya sulit untuk ditegur. Karena orang itu memiliki kualitas-kualitas yang membuatya sulit untuk ditegur, teman-temannya dalam kehidupan suci tidak menasihati, mengajarkan, atau menegurnya, tetapi mereka menganggapnya sebagai seseorang yang menyulitkan.
‘Teman-teman yang mulia, apakah kualitas-kualitas yang membuat seseorang sulit untuk ditegur, sedemikian sehingga jika seseorang memiliki kualitas-kualitas yang membuatnya sulit untuk ditegur ini, teman-temannya dalam kehidupan suci tidak menasihati, mengajarkan, atau menegurnya tetapi mereka menganggapnya sebagai seseorang yang menyulitkan?
‘Teman-teman yang mulia, seumpamanya bahwa seseorang tertentu memiliki keinginan jahat dan pemikiran berdasarkan keinginan demikian. Teman-teman yang mulia, memiliki keinginan jahat dan pemikiran berdasarkan keinginan demikian adalah suatu kualitas yang membuat orang ini sulit ditegur. Dengan cara yang sama, memiliki kekotoran batin dan perilaku berdasarkan kekotoran demikian, … tidak berbicara dan tidak komunikatif, … penuh tipu daya dan suka menyanjung, … kikir dan iri hati, … tidak memiliki rasa malu dan takut, … menyimpan permusuhan dan kedengkian, … menjadi marah dan mengucapkan kata-kata penuh kemarahan, … menegur bhikkhu yang menegurnya, … memandang rendah bhikkhu yang menegurnya, … mengungkapkan pelanggaran bhikkhu yang menegurnya, … mengelak dengan mengalihkan pembicaraan dan menolak berbicara, … menjadi marah dan terbakar dengan kebencian, … bergaul dengan teman-teman dan sahabat yang buruk, … tidak memiliki rasa terima kasih dan tidak tahu berterima kasih.
‘Teman-teman yang mulia, tidak memiliki rasa terima kasih dan tidak tahu berterima kasih adalah suatu kualitas yang membuat orang ini sulit untuk ditegur. Teman-teman yang mulia, ini adalah kualitas-kualitas yang membuat seseorang sulit untuk ditegur, sedemikian sehingga jika seseorang memiliki kualitas-kualitas yang membuatnya sulit untuk ditegur, teman-temannya dalam kehidupan suci tidak menasihati, mengajarkan, atau menegurnya tetapi mereka menganggapnya sebagai seseorang yang menyulitkan. Teman-teman yang mulia, seorang bhikkhu seharusnya merenungkan kualitas-kualitas demikian dalam dirinya sendiri.
‘Teman-teman yang mulia, seseorang seharusnya merenungkan: “Jika seseorang memiliki keinginan jahat dan pemikiran berdasarkan keinginan demikian, aku tidak akan seperti orang itu. Jika aku memiliki keinginan jahat dan pemikiran berdasarkan keinginan demikian, orang lain juga tidak akan seperti diriku.” Merenungkan seperti ini, seorang bhikkhu tidak memelihara keinginan jahat dan pemikiran berdasarkan keinginan demikian. Ini adalah bagaimana seseorang seharusnya berlatih.
‘Dengan cara yang sama, memiliki kekotoran batin dan perilaku berdasarkan kekotoran demikian, … tidak berbicara dan tidak komunikatif, … penuh tipu daya dan suka menyanjung, … kikir dan iri hati, … tidak memiliki rasa malu dan takut, … menyimpan permusuhan dan kedengkian, … menjadi marah dan mengucapkan kata-kata penuh kemarahan, … menegur bhikkhu yang menegurnya, … memandang rendah bhikkhu yang menegurnya, … mengungkapkan pelanggaran bhikkhu yang menegurnya, … mengelak dengan mengalihkan pembicaraan dan menolak berbicara, … menjadi marah dan terbakar dengan kebencian, … bergaul dengan teman-teman dan sahabat yang buruk, … tidak memiliki rasa terima kasih dan tidak tahu berterima kasih.
‘Teman-teman yang mulia, seseorang seharusnya merenungkan: “Jika seseorang tidak memiliki rasa terima kasih dan tidak tahu berterima kasih, aku tidak akan seperti orang itu. Jika aku tidak memiliki rasa terima kasih dan tidak tahu berterima kasih, orang lain juga tidak akan seperti diriku.” Merenungkan seperti ini, seorang bhikkhu tidak memelihara ketiadaan rasa terima kasih dan tidak tahu berterima kasih. Ini adalah bagaimana seseorang seharusnya berlatih.
‘Teman-teman yang mulia, mungkin bahwa seorang bhikkhu tidak memohon bhikkhu lain, “Teman-teman yang mulia, mohon nasihatilah diriku, ajarkanlah diriku, dan tegurlah diriku, serta janganlah menganggapku sebagai seseorang yang menyulitkan.” Mengapakah demikian?
‘Teman-teman yang mulia, seumpamanya bahwa seseorang tertentu mudah untuk ditegur, dan memiliki kualitas-kualitas yang membuatnya mudah untuk ditegur. Karena orang itu memiliki kualitas-kualitas yang membuatnya mudah untuk ditegur, teman-temannya dalam kehidupan suci menasihatinya dengan baik, mengajarkannya dengan baik, dan menegurnya dengan baik, serta tidak menganggapnya sebagai seseorang yang menyulitkan.
‘Teman-teman yang mulia, apakah kualitas-kualitas yang membuat seseorang mudah untuk ditegur, sedemikian sehingga jika seseorang memiliki kualitas-kualitas yang membuatnya mudah untuk ditegur ini, teman-temannya dalam kehidupan suci menasihatinya dengan baik, mengajarkannya dengan baik, dan menegurnya dengan baik, serta tidak menganggapnya sebagai seseorang yang menyulitkan?
‘Teman-teman yang mulia, seumpamanya bahwa seseorang tertentu tidak memiliki keinginan jahat atau pemikiran berdasarkan keinginan demikian. Teman-teman yang mulia, tidak memiliki keinginan jahat atau pemikiran berdasarkan keinginan demikian adalah suatu kualitas yang membuat orang ini mudah untuk ditegur.
‘Dengan cara yang sama, tidak memiliki kekotoran batin atau perilaku berdasarkan kekotoran demikian, … tidak menolak berbicara atau tidak komunikatif, … tidak penuh tipu daya atau suka menyanjung, … tidak tamak atau iri hati, … memiliki rasa malu atau takut, … tidak menyimpan kebencian atau kedengkian, … tidak menjadi marah atau mengucapkan kata-kata penuh kemarahan, … tidak menegur bhikkhu yang menegurnya, … tidak memandang rendah bhikkhu yang menegurnya, … tidak mengungkapkan pelanggaran bhikkhu yang menegurnya, … tidak mengelak dengan mengalihkan pembicaraan atau menolak berbicara, … tidak menjadi marah atau terbakar dengan kebencian, … tidak bergaul dengan teman-teman dan sahabat yang buruk, … memiliki rasa terima kasih atau tahu berterima kasih.
‘Teman-teman yang mulia, memiliki rasa terima kasih dan tahu berterima kasih adalah suatu kualitas yang membuat seseorang demikian mudah untuk ditegur. Teman-teman yang mulia, ini adalah kualitas-kualitas yang membuat seseorang mudah untuk ditegur, sedemikian sehingga jika seseorang memiliki kualitas-kualitas yang membuatnya mudah untuk ditegur ini, teman-temannya dalam kehidupan suci menasihatinya dengan baik, mengajarkannya dengan baik, dan menegurnya dengan baik, serta tidak menganggapnya sebaga seseorang yang menyulitkan. Teman-teman yang mulia, seorang bhikkhu seharusnya merenungkan kualitas-kualitas demikian dalam dirinya sendiri.
‘Teman-teman yang mulia, seseorang seharusnya merenungkan: “Jika seseorang tidak memiliki keinginan jahat atau pemikiran berdasarkan keinginan demikian, aku akan seperti orang itu. Jika aku tidak memiliki keinginan jahat atau pemikiran berdasarkan keinginan demikian, maka orang lain akan seperti diriku.” Merenungkan seperti ini, seorang bhikkhu tidak memelihara keinginan jahat atau pemikiran berdasarkan keinginan demikian. Ini adalah bagaimana seseorang seharusnya berlatih.
‘Dengan cara yang sama, tidak memiliki kekotoran batin atau perilaku berdasarkan kekotoran demikian, … tidak menolak berbicara atau tidak komunikatif, … tidak penuh tipu daya atau suka menyanjung, … tidak tamak atau iri hati, … memiliki rasa malu atau takut, … tidak menyimpan kebencian atau kedengkian, … tidak menjadi marah atau mengucapkan kata-kata penuh kemarahan, … tidak menegur bhikkhu yang menegurnya, … tidak memandang rendah bhikkhu yang menegurnya, … tidak mengungkapkan pelanggaran bhikkhu yang menegurnya, … tidak mengelak dengan mengalihkan pembicaraan atau menolak berbicara, … tidak menjadi marah atau terbakar dengan kebencian, … tidak bergaul dengan teman-teman dan sahabat yang buruk, … memiliki rasa terima kasih atau tahu berterima kasih.
‘Teman-teman yang mulia, seseorang seharusnya merenungkan: “Jika seseorang memiliki rasa terima kasih tetapi tahu berterima kasih, aku akan seperti orang itu. Jika aku memiliki rasa terima kasih tetapi tahu berterima kasih, orang lain juga akan seperti diriku.” Merenungkan seperti ini, seorang bhikkhu memiliki rasa terima kasih tetapi tahu berterima kasih. Ini adalah bagaimana seseorang seharusnya berlatih.
‘Teman-teman yang mulia, seorang bhikkhu akan memastikan banyak manfaat bagi dirinya sendiri jika ia merenungkan seperti ini: “Apakah aku memiliki keinginan jahat dan pemikiran berdasarkan keinginan demikian, atau apakah aku tidak memiliki keinginan jahat dan pemikiran berdasarkan keinginan demikian?” Teman-teman yang mulia, ketika merenungkan seperti ini, jika seorang bhikkhu menemukan bahwa ia memiliki keinginan jahat dan pemikiran berdasarkan keinginan demikian, maka ia tidak bergembira dan berusaha meninggalkannya.
‘Teman-teman yang mulia, ketika merenungkan seperti ini, jika seorang bhikkhu menemukan bahwa ia tidak memiliki keinginan jahat atau pemikiran berdasarkan keinginan demikian, maka ia bergembira, dengan berpikir, “Aku murni sehubungan dengan keadaan-keadaan ini” dan bergembira karena hal ini, ia terus-menerus menjalankan pelatihannya dalam Dharma yang mengagumkan.
‘Teman-teman yang mulia, seperti halnya seseorang dengan penglihatan yang baik dapat melihat dirinya sendiri pada sebuah cermin untuk melihat apakah wajahnya bersih atau tidak. Teman-teman yang mulia, jika orang dengan penglihatan yang baik itu melihat bahwa terdapat kotoran pada wajahnya, maka ia tidak bergembira dan berusaha membersihkannya. Teman-teman yang mulia, jika orang dengan penglihatan yang baik itu melihat bahwa tidak ada kotoran pada wajahnya, maka ia bergembira, dengan berpikir, “Wajahku bersih,” dan bergembira karena hal ini.
‘Teman-teman yang mulia, ketika merenungkan seperti ini, jika seorang bhikkhu menemukan bahwa ia memiliki keinginan jahat dan pemikiran berdasarkan keinginan demikian, maka ia tidak bergembira dan berusaha meninggalkannya. Teman-teman yang mulia, ketika merenungkan seperti ini, jika seorang bhikkhu menemukan bahwa ia tidak memiliki keinginan jahat dan pemikiran berdasarkan keinginan demikian, maka ia bergembira, dengan berpikir, “Aku murni sehubungan dengan keadaan-keadaan ini” dan bergembira karena hal ini, ia terus-menerus menjalankan pelatihan dalam Dharma yang mengagumkan.
‘Dengan cara yang sama bhikkhu itu merenungkan seperti ini: “Apakah aku memiliki kekotoran batin dan perilaku berdasarkan kekotoran demikian, atau apakah aku tidak memiliki kekotoran batin dan perilaku berdasarkan kekotoran demikian? Apakah aku menolak berbicara dan tetap tidak komunikatif, atau apakah aku berbicara dan tetap komunikatif? Apakah aku penuh tipu daya dan suka menyanjung, atau apakah aku tidak penuh tipu daya dan suka menyanjung? Apakah aku kikir dan iri hati, atau apakah aku tidak kikir dan iri hati? Apakah aku tidak memiliki rasa malu dan takut, atau apakah aku memiliki rasa malu dan takut? Apakah aku menyimpan permusuhan dan kedengkian, atau apakah aku tidak menyimpan permusuhan dan kedengkian? Apakah aku menjadi marah dan mengucapkan kata-kata penuh kemarahan, atau apakah aku tidak menjadi marah dan mengucapkan kata-kata penuh kemarahan? Apakah aku menegur bhikkhu yang menegurku, atau apakah aku tidak menegur bhikkhu yang menegurku? Apakah aku memandang rendah bhikkhu yang menegurku, atau apakah aku tidak memandang rendah bhikkhu yang menegurku? Apakah aku mengungkapkan pelanggaran bhikkhu yang menegurku, atau apakah aku tidak mengungkapkan pelanggaran bhikkhu yang menegurku? Apakah aku mengelak dengan mengalihkan pembicaraan dan menolak berbicara, atau apakah aku tidak mengelak dengan mengalihkan pembicaraan dan menolak berbicara? Apakah aku menjadi marah dan terbakar dengan kebencian, atau apakah aku tidak menjadi marah dan terbakar dengan kebencian? Apakah aku tidak memiliki rasa terima kasih dan tidak tahu berterima kasih, atau apakah aku memiliki rasa terima kasih dan tahu berterima kasih?”
‘Teman-teman yang mulia, ketika merenungkan seperti ini, jika seorang bhikkhu menemukan bahwa ia tidak memiliki rasa terima dan tidak tahu berterima kasih, maka ia tidak bergembira dan berusaha meninggalkan keadaan ini.
‘Teman-teman yang mulia, ketika merenungkan seperti ini, jika seorang bhikkhu menemukan bahwa ia memiliki rasa terima kasih dan tahu berterima kasih, maka ia bergembira, dengan berpikir, “Aku murni sehubungan dengan keadaan-keadaan ini” dan bergembira karena hal ini, ia terus-menerus menjalankan pelatihannya dalam Dharma yang mengagumkan.
‘Teman-teman yang mulia, seperti halnya seseorang dengan penglihatan yang baik dapat melihat dirinya sendiri pada sebuah cermin untuk melihat apakah wajahnya bersih atau tidak. Teman-teman yang mulia, jika orang dengan penglihatan yang baik itu melihat bahwa terdapat kotoran pada wajahnya, maka ia tidak bergembira dan berusaha membersihkannya. Tetapi teman-teman yang mulia, jika orang dengan penglihatan yang baik itu melihat bahwa tidak ada kotoran pada wajahnya, maka ia bergembira, dengan berpikir, “Wajahku bersih,” dan bergembira karena hal ini.
‘Teman-teman yang mulia, ketika merenungkan seperti ini, jika seorang bhikkhu menemukan bahwa ia tidak memiliki rasa terima kasih dan tidak tahu berterima kasih, maka ia tidak bergembira dan berusaha meninggalkan keadaan ini.
‘Teman-teman yang mulia, ketika merenungkan seperti ini, jika seorang bhikkhu menemukan bahwa ia memiliki rasa terima kasih dan tahu berterima kasih, maka ia bergembira, dengan berpikir, “Aku murni sehubungan dengan keadaan-keadaan ini” dan bergembira karena hal ini, ia terus-menerus menjalankan pelatihannya dalam Dharma yang mengagumkan.
‘Karena bergembira, ia mencapai sukacita. Karena mencapai sukacita, jasmaninya menjadi tenang. Karena jasmaninya tenang, ia mengalami kebahagiaan. Karena mengalami kebahagiaan, pikirannya menjadi terkonsentrasi.
‘Teman-teman yang mulia, karena pikirannya menjadi terkonsentrasi, seorang siswa mulia yang terpelajar melihat dan mengetahui sebagaimana adanya. Karena melihat dan mengetahui sebagaimana adanya, ia mengalami kekecewaan. Karena kekecewaan, ia mengalami kebosanan.
‘Karena kebosanan, ia mencapai pembebasan. Karena terbebaskan, ia mencapai pengetahuan karena terbebaskan, dengan mengetahui sebagaimana adanya: “Kelahiran telah diakhiri, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan mengalami kelangsungan lain.”’
Demikianlah yang diucapkan Yang Mulia Mahāmoggallāna. Setelah mendengar apa yang dikatakan Yang Mulia Mahāmoggallāna, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.
Komentar [0]