Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī, di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.
Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu:
‘Terdapat keadaan-keadaan yang dipadamkan oleh jasmani dan tidak dipadamkan oleh ucapan. Terdapat keadaan-keadaan yang dipadamkan oleh ucapan dan tidak dipadamkan oleh jasmani. Dan terdapat keadaan-keadaan yang tidak dipadamkan oleh jasmani atau oleh ucapan, tetapi dipadamkan hanya oleh kebijaksanaan dan penglihatan.
‘Apakah keadaan-keadaan yang dipadamkan oleh jasmani dan tidak dipadamkan oleh ucapan? Di sini seorang bhikkhu dipenuhi oleh perbuatan jasmani yang tidak bermanfaat, memilikinya dan mempertahankannya, mengikutinya secara jasmani. Setelah melihat hal ini, para bhikkhu lain menegur bhikkhu itu, “Teman yang mulia, engkau dipenuhi dengan perbuatan jasmani yang tidak bermanfaat, memilikinya dan mempertahankannya. Mengapakah engkau mengikutinya secara jasmani? Teman yang mulia, engkau seharusnya meninggalkan perbuatan jasmani yang tidak bermanfaat dan mengembangkan perbuatan jasmani yang bermanfaat.” Pada waktu belakangan orang itu meninggalkan perbuatan jasmani yang tidak bermanfaat dan mengembangkan perbuatan jasmani yang bermanfaat. Ini adalah apa yang dimaksud dengan keadaan-keadaan yag dipadamkan oleh jasmani dan tidak dipadamkan oleh ucapan.
‘Apakah keadaan-keadaan yang dipadamkan oleh ucapan dan tidak dipadamkan oleh jasmani? Di sini seorang bhikkhu dipenuhi dengan perbuatan ucapan yang tidak bermanfaat, memilikinya dan mempertahankannya, mengikutinya secara ucapan. Melihat hal ini, para bhikkhu lain menegur bhikkhu itu demikian, “Teman yang mulia, engkau dipenuhi dengan perbuatan ucapan yang tidak bermanfaat, memilikinya dan mempertahankannya. Mengapakah engkau mengikutinya secara ucapan? Teman yang mulia, engkau seharusnya meninggalkan perbuatan ucapan yang tidak bermanfaat dan mengembangkan perbuatan ucapan yang bermanfaat. Ini adalah apa yang dimaksud dengan keadaan-keadaan yang dipadamkan oleh ucapan dan tidak dipadamkan oleh jasmani.
‘Apakah keadaan-keadaan yang tidak dipadamkan oleh jasmani atau oleh ucapan, tetapi dipadamkan hanya oleh kebijaksanaan dan penglihatan? Ketamakan tidak dipadamkan oleh jasmani atau oleh ucapan, tetapi dipadamkan hanya oleh kebijaksanaan dan penglihatan.
‘Dengan cara yang sama, sifat suka berselisih, … kemarahan, … permusuhan, … sifat tidak komunikatif, … kekikiran, … keirihatian, … tipu daya, … sanjungan, … tidak memiliki rasa malu dan takut, … keinginan jahat dan pandangan jahat tidak dipadamkan oleh jasmani atau oleh ucapan, tetapi dipadamkan hanya oleh kebijaksanaan dan penglihatan. Ini adalah apa yang dimaksud dengan keadaan-keadaan yang tidak dipadamkan oleh jasmani atau oleh ucapan, tetapi dipadamkan hanya oleh kebijaksanaan dan penglihatan.
‘Sang Tathāgata kadang kala melakukan penyelidikan, untuk menyelidiki pikiran orang lain. Beliau mengetahui bahwa orang ini tidak sedang mengembangkan jasmani, mengembangkan moralitas, mengembangkan pikirannya, dan mengembangkan kebijaksanaan dengan cara sedemikian sehingga melalui pengembangan jasmani, pengembangan moralitas, pengembangan pikiran, dan pengembangan kebijaksanaan ia dapat memadamkan ketamakan. Mengapakah demikian? Karena dalam pikiran orang itu keadaan-keadaan jahat dari ketamakan sedang muncul dan menetap.
‘Dengan cara yang sama, sifat suka berselisih, … kemarahan, … permusuhan, … sifat tidak komunikatif, … kekikiran, … keirihatian, … tipu daya, … sanjungan, … tidak memiliki rasa malu dan takut, … ia dapat memadamkan keinginan jahat dan pandangan jahat. Mengapakah demikian? Karena dalam pikiran orang itu keinginan jahat dan pandangan jahat sedang muncul dan menetap.
‘Sang Tathāgata kadang kala mengetahui bahwa orang lain ini sedang mengembangkan jasmani, mengembangkan moralitas, mengembangkan pikiran, dan mengembangkan kebijaksanaan dengan cara sedemikian sehingga melalui pengembangan jasmani, pengembangan moralitas, pengembangan pikiran, dan pengembangan kebijaksanaan, ia dapat memadamkan ketamakan. Mengapakah demikian? Karena dalam pikiran orang ini keadaan-keadaan jahat dari ketamakan tidak sedang muncul dan menetap.
‘Dengan cara yang sama, sifat suka berselisih, … kemarahan, … permusuhan, … sifat tidak komunikatif, … kekikiran, … keirihatian, … tipu daya, … sanjungan, … tidak memiliki rasa malu dan takut, … ia dapat memadamkan keinginan jahat dan pandangan jahat. Mengapakah demikian? Karena dalam pikiran orang itu keinginan jahat dan pandangan jahat tidak sedang muncul dan menetap.
‘Seperti halnya ketika sekuntum seroja biru, atau merah, merah tua, atau seroja putih lahir dalam air dan tumbuh dalam air, tetapi muncul di atas air dan tidak melekat pada air. Dengan cara yang sama, seorang Tathāgata lahir di dunia dan tumbuh dewasa di dunia, tetapi muncul di atas perilaku duniawi dan tidak melekat pada keadaan-keadaan duniawi. Mengapakah demikian? Karena seorang Tathāgata bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, setelah muncul di atas semua yang bersifat duniawi.’
Pada waktu itu, Yang Mulia Ānanda sedang memegang kipas dan melayani Sang Buddha. Kemudian, merentangkan tangannya dengan telapak tangan disatukan terhadap Sang Buddha, Yang Mulia Ānanda berkata, “Sang Bhagavā, apakah nama kotbah ini? Bagaimanakah kami seharusnya mengingatnya?”
Sang Bhagavā berkata, “Ānanda, kotbah ini disebut ‘Perumpamaan Seroja Biru dan Putih.’ Ini adalah bagaimana kalian seharusnya mengingat dan mengulanginya.”
Kemudian Sang Bhagavā berkata kepada semua bhikkhu:
‘Kalian seharusnya bersama-sama mengingat “Kotbah tentang Perumpamaan Seroja Biru dan Putih” ini, mengulanginya, dan menyimpannya dalam ingatan. Mengapakah demikian? “Kotbah tentang Perumpamaan Seroja Biru dan Putih” ini sesuai dengan Dharma dan kondusif bagi manfaat. Ini adalah landasan bagi kehidupan suci, yang membawa pada penembusan, pencerahan, dan nirvana.
‘Para anggota keluarga yang mencukur rambut dan janggutnya, mengenakan jubah kuning, dan demi keyakinan meninggalkan kehidupan berumah tangga untuk memasuki keadaan tanpa rumah dan berlatih dalam sang jalan seharusnya mengingat “Kotbah tentang Perumpamaan Seroja Biru dan Putih” ini, mengulanginya dan mempertahankannya dengan baik.’
Demikianlah yang diucapkan Sang Buddha. Setelah mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, Yang Mulia Ānanda dan para bhikkhu lainnya bergembira dan menerimanya dengan hormat.
Komentar [0]