Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī, di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.
Pada waktu itu Yang Mulia Sāriputta berkata kepada para bhikkhu:
‘Teman-teman yang mulia, jika seorang bhikkhu atau bhikkhuni tidak mendengarkan suatu ajaran yang belum ia dengar; jika ia melupakan ajaran-ajaran yang telah ia dengar; jika ia tidak dapat mengingat suatu ajaran yang telah ia latih, kembangkan, ulangi, dan pahami melalui kebijaksanaan, jika ia tidak lagi mengetahui apa yang ia ketahui, maka, teman-teman yang mulia, ini disebut penurunan keadaan-keadaan murni dalam bhikkhu atau bhikkhuni itu.
‘Teman-teman yang mulia, jika seorang bhikkhu atau bhikkhuni mendengarkan suatu ajaran yang belum ia dengar; jika ia tidak melupakan ajaran-ajaran yang telah ia dengar; jika ia sering mengingat ajaran-ajaran yang telah ia latih, kembangkan, ulangi, dan pahami melalui kebijaksanaan, jika ia masih tidak mengetahui apa yang ia ketahui, maka ini disebut peningkatan keadaan-keadaan murni dalam bhikkhu atau bhikkhuni itu.
‘Teman-teman yang mulia, seorang bhikkhu seharusnya merenungkan seperti ini: “Apakah aku memiliki ketamakan, atau apakah aku tidak memiliki ketamakan? Apakah aku memiliki kebencian, atau apakah aku tidak memiliki kebencian? Apakah aku memiliki kelambanan dan ketumpulan, atau apakah aku tidak memiliki kelambanan dan ketumpulan? Apakah aku memiliki kegelisahan dan kesombongan, atau apakah aku tidak memiliki kegelisahan dan kesombongan? Apakah aku memiliki keragu-raguan, atau apakah aku tidak memiliki keragu-raguan? Apakah aku menyebabkan perselisihan, atau apakah aku tidak menyebabkan perselisihan? Apakah aku memiliki pikiran yang terkotori dan ternoda, atau apakah aku tidak memiliki pikiran yang terkotori dan ternoda?
‘“Apakah aku memiliki keyakinan, atau apakah aku tidak memiliki keyakinan? Apakah aku memiliki semangat, atau apakah aku tidak memiliki semangat? Apakah aku memiliki perhatian penuh, atau apakah aku tidak memiliki perhatian penuh? Apakah aku memiliki konsentrasi, atau apakah aku tidak memiliki konsentrasi? Apakah aku memiliki kebijaksanaan yang cacat, atau apakah aku tidak memiliki kebijaksanaan yang cacat?”
‘Teman-teman yang mulia, seumpamanya bahwa seorang bhikkhu, ketika merenungkan, mengetahui, “Aku memiliki ketamakan, … aku memiliki kebencian, … aku memiliki kelambanan dan ketumpulan, … aku memiliki kegelisahan dan kesombongan, … aku memiliki keragu-raguan, … aku menyebabkan perselisihan, … aku memiliki pikiran yang terkotori dan ternoda, … aku tidak memiliki keyakinan, … aku tidak memiliki semangat, … aku tidak memiliki perhatian penuh, … aku tidak memiliki konsentrasi, … aku memiliki kebijaksanaan yang cacat.”
‘Teman-teman yang mulia, bhikkhu itu, yang berharap untuk melenyapkan kondisi-kondisi jahat dan tidak bermanfaat ini, seharusnya dengan cepat mencari cara untuk berlatih dengan ketekunan besar, dengan perhatian benar dan pemahaman benar, dengan gigih agar tidak mundur.
‘Teman-teman yang mulia, seperti halnya seseorang yang kepalanya terbakar atau pakaiannya terbakar akan dengan cepat mencari cara untuk menyelamatkan kepalanya dan menyelamatkan pakaiannya. Dengan cara yang sama, teman-teman yang mulia, seorang bhikkhu, yang berharap untuk melenyapkan kondisi-kondisi jahat dan tidak bermanfaat ini, akan dengan cepat mencari cara untuk berlatih dengan ketekunan besar, dengan perhatian benar dan pemahaman benar, dengan gigih agar tidak mundur.
‘Teman-teman yang mulia, seumpamanya bahwa seorang bhikkhu, ketika merenungkan, mengetahui, “Aku bebas dari ketamakan, … bebas dari kebencian, … bebas dari kelambanan dan ketumpulan, … bebas dari kegelisahan dan kesombongan, … bebas dari keragu-raguan; … aku tidak menyebabkan perselisihan, … aku tidak memiliki pikiran yang terkotori dan ternoda, … aku memiliki keyakinan, … aku memiliki semangat, … aku memiliki perhatian penuh, … aku memiliki konsentrasi; … dan aku bebas dari kebijaksanaan yang cacat.”
‘Bhikkhu itu, berharap untuk mempertahankan kondisi-kondisi bermanfaat ini, berharap untuk tidak kehilangannya, untuk tidak mundur tetapi mengembangkannya lebih jauh, akan dengan cepat mencari cara untuk berlatih dengan ketekunan besar, dengan perhatian benar dan pemahaman benar, dengan gigih agar tidak mundur.
‘Seperti halnya seseorang yang kepalanya terbakar atau pakaiannya terbakar akan dengan cepat mencari cara untuk menyelamatkan kepalanya dan menyelamatkan pakaiannya. Dengan cara yang sama, teman-teman yang mulia, seorang bhikkhu, yang berharap untuk mempertahankan kondisi-kondisi bermanfaat ini, berharap untuk tidak kehilangannya, untuk tidak mundur tetapi mengembangkannya lebih jauh, akan dengan cepat mencari cara untuk berlatih dengan ketekunan besar, dengan perhatian penuh dan pemahaman benar, dengan gigih agar tidak mundur.’
Demikianlah yang diucapkan Yang Mulia Sāriputta. Setelah mendengar apa yang dikatakan Yang Mulia Sāriputta, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.
Komentar [0]