Memuat

Terjemahan [6]

Aturan Latihan Kedua tentang Apa yang Disisihkan

Kisah Asal-mula

Pada suatu hari ketika Sang Buddha sedang menetap di Sāvatthī di Vihara Anāthapiṇḍika, seseorang berkata kepada orang lainnya, “Aku hendak memberikan kain-jubah kepada Yang Mulia Upananda.” Dan orang lainnya menjawab, “Aku juga.”

Seorang bhikkhu pengumpul dana mendengar percakapan itu. Kemudian ia mendatangi Upananda orang Sakya dan berkata, “Upananda, engkau memiliki jasa yang besar. Di tempat itu aku mendengar dua orang berbicara bahwa mereka masing-masing hendak memberimu kain-jubah.”

“Mereka adalah penyokongku.”

Kemudian Upananda mendatangi orang-orang itu dan berkata, “Benarkah bahwa kalian hendak memberiku kain-jubah?”

“Benar, itu adalah apa yang kami pikirkan.”

“Kalau begitu, berikan aku kain-jubah seperti ini. Karena apa gunanya memberikan kain-jubah yang tidak akan kupakai?”

Orang-orang itu mengeluhkan dan mengkritiknya, “Para monastik Sakya ini memiliki banyak keinginan. Mereka tidak mengenal puas. Tidaklah mudah untuk memberikan kain-jubah kepada mereka. Bagaimana mungkin Yang Mulia Upananda mendatangi kami dan mengatakan jenis kain-jubah yang ia inginkan tanpa terlebih dulu diundang oleh kami untuk meminta?”

Para bhikkhu mendengar keluhan orang-orang itu, dan para bhikkhu yang memiliki sedikit keinginan mengeluhkan dan mengkritiknya, “Bagaimana mungkin Yang Mulia Upananda mendatangi para perumah tangga dan mengatakan jenis kain-jubah yang ia inginkan tanpa terlebih dulu diundang untuk meminta?”

Setelah menegurnya dalam berbagai cara, mereka memberitahu Sang Buddha. Segera setelah itu Sang Buddha mengumpulkan Sangha dan menanyai Upananda: “Benarkah, Upananda, bahwa engkau melakukan hal ini?”

“Benar, Yang Mulia.”

“Apakah mereka adalah kerabatmu?”

“Bukan.”

“Orang dungu, orang-orang yang bukan kerabat tidak mengetahui apa yang selayaknya dan apa yang tidak selayaknya, apa yang baik dan buruk, dalam berurusan satu sama lain. Dan masih saja engkau melakukan hal ini. Hal ini akan mempengaruhi keyakinan orang-orang …” … “Dan, para bhikkhu, aturan latihan ini harus dibacakan sebagai berikut:

Aturan akhir

‘Jika dua perumah tangga laki-laki atau perempuan telah menyisihkan dana jubah terpisah untuk seorang bhikkhu yang bukan kerabat, dengan berpikir, “Dengan dana jubah terpisah ini, kami akan membelikan kain-jubah dan memberikannya kepada bhikkhu itu;” dan jika bhikkhu itu, tanpa terlebih dulu diundang, mendatangi mereka dan menentukan jenis kain-jubah yang ia inginkan, dengan mengatakan, “Baik sekali jika engkau menggabungkan dana jubah terpisah ini untuk secara bersama membelikan kain-jubah jenis itu dan kemudian memberikannya kepadaku,” dan ia melakukan itu karena ia menginginkan sesuatu yang bagus, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan pelepasan dan pengakuan.’”

Definisi

Untuk seorang bhikkhu:

untuk manfaat seorang bhikkhu; dengan menjadikan seorang bhikkhu sebagai objek pertimbangan, mereka ingin memberikan kepadanya.

Dua:

sepasang.

Bukan kerabat:

siapa pun yang bukan keturunan dari leluhur laki-laki hingga delapan generasi sebelumnya, apakah dari pihak ibu atau dari pihak ayah.

Perumah tangga laki-laki:

laki-laki mana pun yang hidup di rumah.

Perumah tangga perempuan:

perempuan mana pun yang hidup di rumah.

Dana jubah:

uang, emas, mutiara, permata, koral, kristal, kain, benang, atau wol katun.

Dengan dana jubah terpisah ini:

dengan apa yang mereka miliki.

Kami akan membelikan:

setelah menukar.

Kami akan memberikan:

kami akan menyumbangkan.

Jika bhikkhu itu:

bhikkhu yang kepadanya dana jubah telah disisihkan.

Tanpa terlebih dulu diundang:

mereka belum mengatakan sebelumnya: “Yang Mulia, jenis kain-jubah apakah yang engkau perlukan? Jenis kain-jubah apakah yang dapat kami belikan untukmu?”

Mendatangi mereka:

setelah pergi ke rumah mereka atau setelah pergi ke mana pun.

Menentukan jenis kain-jubah yang ia inginkan:

mohon buat yang panjang atau lebar atau ditenun rapat atau lembut.

Dana jubah terpisah ini:

yang mereka miliki.

Jenis itu:

panjang atau lebar atau ditenun rapat atau lembut.

Untuk membeli:

setelah menukar.

Memberikan:

menyumbangkan.

Menggabungkan secara bersama:

dua orang menyediakan satu kain-jubah untuknya.

Karena ia menginginkan sesuatu yang bagus:

menginginkan sesuatu yang baik, menginginkan sesuatu yang mahal.

Jika para perumah tangga itu membelikan kain-jubah yang panjang, lebar, ditenun rapat, atau lembut karena ucapan bhikkhu itu, maka untuk usaha itu terjadi pelanggaran perbuatan salah. Ketika ia mendapatkan kain-jubah itu, maka itu harus dilepaskan.


Jubah itu harus dilepaskan kepada suatu sangha, suatu kelompok, atau individu. “Dan, para bhikkhu, jubah itu harus dilepaskan seperti berikut. (Diuraikan seperti pada Pelepasan 1, dengan penyesuaian seperlunya.)

‘Para Mulia, kain-jubah ini, yang aku terima setelah mendatangi para perumah tangga bukan kerabat dan mengatakan jenis kain-jubah apa yang aku inginkan tanpa terlebih dulu diundang, akan dilepaskan. Aku melepaskannya kepada Sangha.’ … Sangha harus mengembalikan … kalian harus mengembalikan … ‘Aku mengembalikan kain-jubah ini kepadamu.’”

Permutasi

Jika para perumah tangga itu bukan kerabat dan si bhikkhu menyadarinya demikian, dan tanpa terlebih dulu diundang, ia mendatangi mereka dan menentukan jenis kain-jubah yang ia inginkan, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan pelepasan dan pengakuan. Jika para perumah tangga itu bukan kerabat, tetapi si bhikkhu tidak dapat memastikannya, dan tanpa terlebih dulu diundang, ia mendatangi mereka dan menentukan jenis kain-jubah yang ia inginkan, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan pelepasan dan pengakuan. Jika para perumah tangga itu bukan kerabat, tetapi si bhikkhu menyadarinya sebagai kerabat, dan tanpa terlebih dulu diundang, ia mendatangi mereka dan menentukan jenis kain-jubah yang ia inginkan, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan pelepasan dan pengakuan.

Jika para perumah tangga itu adalah kerabat, tetapi si bhikkhu menyadarinya sebagai bukan kerabat, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika para perumah tangga itu adalah kerabat, tetapi si bhikkhu tidak dapat memastikannya, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika para perumah tangga itu adalah kerabat dan si bhikkhu menyadarinya demikian, maka tidak ada pelanggaran.

Tidak ada pelanggaran

Tidak ada pelanggaran: jika itu adalah dari kerabat; jika itu adalah dari mereka yang telah menyampaikan undangan; jika itu adalah untuk orang lain; jika itu diperoleh dari harta kekayaannya sendiri; jika para perumah tangga ingin membeli sesuatu yang mahal, tetapi bhikkhu itu menyuruh mereka membeli sesuatu yang murah; jika ia gila; jika ia adalah pelaku pertama.

Aturan latihan kedua tentang apa yang disisihkan, yang kesembilan, selesai.

Komentar [0]