Kisah Asal-mula
Sub-kisah pertama
Pada suatu ketika Sang Buddha sedang menetap di aula beratap lancip di Hutan Besar di dekat Vesālī. Pada saat itu serangkaian makanan-makanan baik telah ditata di Vesālī. Seorang pekerja miskin berpikir, “Mengapa aku tidak mempersiapkan makanan? Ini pasti sangat bermanfaat, melihat bagaimana orang-orang ini mempersiapkan makanan dengan begitu hormat.”
Kemudian ia menghadap atasannya Kira dan berkata, “Tuan, aku ingin mempersiapkan makanan untuk Sangha para bhikkhu yang dipimpin oleh Sang Buddha. Sudilah membayarkan gajiku.” Karena Kira juga memiliki keyakinan, maka ia memberikan gaji lebih kepada pekerja itu. Segera setelah itu si pekerja mendatangi Sang Buddha, bersujud, duduk, dan berkata, “Yang Mulia, sudilah menerima makanan dariku besok bersama dengan Sangha para bhikkhu.”
“Sangha berjumlah besar.”
“Tidak masalah! Aku telah mempersiapkan banyak buah jujube, yang disertai dengan minuman jujube.” Sang Buddha menerima dengan berdiam diri, dan pekerja itu memahami.
Ia bangkit dari duduknya, mengelilingi Sang Buddha dengan sisi kanannya menghadap Beliau, dan pergi.
Para bhikkhu mendengar bahwa seorang pekerja miskin telah mengundang Sangha para bhikkhu yang dipimpin oleh Sang Buddha pada keesokan harinya untuk makan yang dilengkapi dengan minuman jujube. Dan oleh karena itu mereka makan pada pagi hari setelah berjalan menerima dana makanan.
Ketika orang-orang mendengar bahwa seorang pekerja miskin telah mengundang Sangha para bhikkhu yang dipimpin oleh Sang Buddha untuk makan, mereka membawakan banyak makanan dari berbagai jenis kepadanya. Keesokan paginya pekerja itu mempersiapkan makanannya, dan kemudian memberitahu Sang Buddha bahwa makanan telah siap.
Sang Buddha mengenakan jubah, membawa mangkuk dan jubahnya dan, bersama dengan Sangha para bhikkhu mendatangi rumah pekerja miskin itu, di mana Beliau duduk di tempat yang telah dipersiapkan di ruang makan. Pekerja itu melayani para bhikkhu, tetapi mereka selalu berkata, “Berikan sedikit saja.”
“Para Mulia, jangan menerima begitu sedikit karena kalian berpikir bahwa aku hanyalah seorang miskin. Aku telah mempersiapkan banyak makanan dari berbagai jenis. Terimalah sebanyak yang kalian inginkan.”
“Kami menerima sedikit bukan karena hal itu, melainkan karena kami telah makan pada pagi hari setelah berjalan menerima dana makanan.”
Pekerja miskin itu mengeluhkan dan mengkritik mereka, “Bagaimana mungkin para mulia ini makan di tempat lain setelah diundang olehku? Apakah aku tidak mampu memberikan sebanyak yang mereka butuhkan?”
Para bhikkhu mendengar keluhan pekerja itu, dan para bhikkhu yang memiliki sedikit keinginan mengeluhkan dan mengkritik para bhikkhu itu, “Bagaimana mungkin para bhikkhu itu makan di tempat lain setelah diundang untuk makan?” … “Benarkah, para bhikkhu, bahwa kalian melakukan hal ini?”
“Benar, Yang Mulia.”
Sang Buddha menegurnya… “Bagaimana mungkin engkau melakukan hal ini? Hal ini akan mempengaruhi keyakinan orang-orang …” … “Dan, para bhikkhu, aturan latihan ini harus dibacakan sebagai berikut:
Aturan awal pertama
‘Jika seorang bhikkhu makan sebelum makan yang lain, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan.’”
Dengan cara inilah Sang Buddha menetapkan aturan latihan ini untuk para bhikkhu.
Sub-kisah kedua
Tidak lama kemudian seorang bhikkhu tertentu jatuh sakit. Seorang bhikkhu lainnya membawa sedikit dana makanan, mendatangi bhikkhu tersebut dan menyuruhnya untuk makan.
“Aku tidak bisa makan. Aku sedang menantikan makanan lain.”
Tetapi karena dana makanan itu hanya sampai pada siang hari, bhikkhu itu tidak mendapatkan sebanyak yang ia kehendaki. Mereka memberitahu Sang Buddha. Segera setelah itu Sang Buddha membabarkan ajaran dan berkata kepada para bhikkhu:
“Para bhikkhu, Aku memperbolehkan seorang bhikkhu yang sakit untuk makan sebelum makan yang lain.
Dan, para bhikkhu, aturan latihan ini harus dibacakan sebagai berikut:
Aturan awal kedua
‘Jika seorang bhikkhu makan sebelum makan yang lain, kecuali pada kesempatan yang diperbolehkan, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan. Ini adalah kesempatan yang diperbolehkan: ia sakit’”
Dengan cara inilah Sang Buddha menetapkan aturan latihan ini untuk para bhikkhu.
Sub-kisah ketiga
Tidak lama kemudian, pada musim pemberian-jubah, orang-orang mempersiapkan makanan bersama dengan kain-jubah dan kemudian mengundang para bhikkhu, dengan berkata, “Kami ingin mempersembahkan makanan dan kemudian memberikan kain-jubah.” Tetapi mengetahui bahwa Sang Buddha telah melarang makan sebelum makan yang lain dan karena takut melakukan kesalahan, mereka tidak menerima. Sebagai akibatnya, mereka hanya menerima sedikit kain-jubah. Mereka memberitahu Sang Buddha. …
“Para bhikkhu, Aku memperbolehkan kalian untuk makan sebelum makan yang lain selama musim pemberian-jubah.
Dan, para bhikkhu, aturan latihan ini harus dibacakan sebagai berikut:
Aturan awal ketiga
‘Jika seorang bhikkhu makan sebelum makan yang lain, kecuali pada kesempatan yang diperbolehkan, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan. Ini adalah kesempatan yang diperbolehkan: ia sakit; saat itu adalah musim pemberian-jubah’”
Dengan cara inilah Sang Buddha menetapkan aturan latihan ini untuk para bhikkhu.
Sub-kisah keempat
Tidak lama kemudian orang-orang mengundang para bhikkhu yang membuat jubah untuk makan. Tetapi mengetahui bahwa Sang Buddha telah melarang makan sebelum makan yang lain dan karena takut melakukan kesalahan, mereka tidak menerima. Mereka memberitahu Sang Buddha. …
“Para bhikkhu, Aku memperbolehkan kalian untuk makan sebelum makan yang lain ketika kalian sedang membuat jubah.
Dan, para bhikkhu, aturan latihan ini harus dibacakan sebagai berikut:
Aturan akhir
‘Jika seorang bhikkhu makan sebelum makan yang lain, kecuali pada kesempatan yang diperbolehkan, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan. Ini adalah kesempatan yang diperbolehkan: ia sakit; saat itu adalah musim pemberian-jubah; saat itu adalah waktunya membuat jubah’”
Dengan cara inilah Sang Buddha menetapkan aturan latihan ini untuk para bhikkhu.
Sub-kisah kelima
Tidak lama kemudian, setelah mengenakan jubah di pagi hari, Sang Buddha membawa mangkuk dan jubah dan mendatangi sebuah keluarga kaya dengan Yang Mulia Ānanda sebagai pelayan Beliau. Beliau duduk di tempat yang telah dipersiapkan, dan orang-orang di sana memberikan makanan matang. Karena takut melakukan kesalahan, Ānanda tidak menerimanya. Sang Buddha berkata, “Terimalah, Ānanda.”
“Aku tidak bisa menerimanya, Yang Mulia, aku menantikan makanan lain.”
“Baiklah, Ānanda, alokasikanlah makanan itu untuk orang lain dan kemudian terimalah ini.”
Segera setelah itu Sang Buddha membabarkan ajaran dan berkata kepada para bhikkhu:
“Para bhikkhu, Aku memperbolehkan kalian untuk makan sebelum makan yang lain jika kalian mengalokasikan makanan lain itu untuk orang lain.
Dan, para bhikkhu, beginilah makanan itu dilalokasikan: “Aku memberikan makanan yang sedang kunantikan itu kepada bhikkhu itu.’”
Definisi
Makan sebelum makan yang lain:
Jika ia telah diundang untuk memakan apa pun dari lima makanan matang, dan ia kemudian memakan apa pun dari lima makanan matang di tempat lain—ini disebut “makan sebelum makan yang lain”.
Kecuali pada kesempatan yang diperbolehkan:
Jika itu adalah kesempatan yang diperbolehkan.
Ia sakit:
Jika ia tidak mampu makan sebanyak yang ia butuhkan dalam satu kali duduk, maka ia boleh makan sebelum makan yang lain.
Saat itu adalah musim pemberian-jubah:
Jika ia belum berpartisipasi dalam upacara membuat-jubah, maka ia boleh makan sebelum makan yang lain selama bulan terakhir musim hujan. Jika ia telah berpartisiapsi dalam upacara membuat-jubah, maka ia boleh makan sebelum makan yang lain selama periode lima bulan.
Saat itu adalah waktunya membuat jubah:
Ketika ia sedang membuat jubah, ia boleh makan sebelum makan yang lain.
Jika ia menerima makanan dengan niat untuk memakannya, kecuali pada kesempatan yang diperbolehkan, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Untuk setiap suapan, ia melakukan satu pelanggaran yang mengharuskan penebusan.
Permutasi
Jika ia makan sebelum makan yang lain, dan ia menyadarinya sebagai makan sebelum makan yang lain, kecuali dalam kesempatan yang diperbolehkan, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan. Jika ia makan sebelum makan yang lain, tetapi ia tidak dapat memastikannya, dan ia memakannya, kecuali dalam kesempatan yang diperbolehkan, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan. Jika ia makan sebelum makan yang lain, tetapi ia tidak menyadarinya sebagai makan sebelum makan yang lain, kecuali dalam kesempatan yang diperbolehkan, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan.
Jika ia tidak makan sebelum makan yang lain, tetapi ia menyadarinya sebagai makan sebelum makan yang lain, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika ia tidak makan sebelum makan yang lain, tetapi ia tidak dapat memastikannya, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika ia tidak makan sebelum makan yang lain, dan ia tidak menyadarinya sebagai makan sebelum makan yang lain, maka tidak ada pelanggaran.
Tidak ada pelanggaran
Tidak ada pelanggaran: Jika itu adalah kesempatan yang diperbolehkan; jika ia mengalokasikan makanan lainnya itu untuk orang lain dan kemudian makan; jika ia memakan makanan dari dua atau tiga makanan undangan sekaligus; jika ia diundang oleh seluruh desa dan ia makan di mana pun di dalam desa itu; jika ia diundang oleh seluruh perkumpulan dan ia makan di mana pun yang dimiliki oleh perkumpulan itu; jika, ketika diundang, ia berkata, “aku akan mengumpulkan dana makanan;” jika itu adalah undangan makan rutin; jika itu adalah makanan yang diperoleh dari menarik undian; jika itu adalah makanan setengah-bulanan; jika itu adalah hari uposatha; jika itu adalah sehari setelah uposatha; jika makanan itu adalah selain daripada kelima makanan matang; jika ia gila; jika ia adalah pelaku pertama.
Aturan latihan tentang makan sebelum makan yang lain, yang ketiga, selesai
Komentar [0]