Kisah Asal-mula
Sub-kisah pertama
Pada suatu ketika Sang Buddha sedang menetap di Rājagaha di Hutan Bambu, taman suaka tupai. Pada saat itu sebuah keluarga yang menyokong Yang Mulia Upananda orang Sakya telah mengundangnya untuk makan, dan mereka telah mengundang para bhikkhu lain juga. Tetapi karena Upananda sedang mengunjungi keluarga-keluarga lain sebelum makan. Maka para bhikkhu lain itu berkata kepada keluarga itu, “Silakan memberikan makanan.”
“Tunggulah, Para Mulia, hingga Yang Mulia Upananda tiba.”
Untuk kedua kalinya … untuk ketiga kalinya para bhikkhu lain itu berkata, “Silakan memberikan makanan.”
“Tetapi kami mempersiapkan makanan karena Yang Mulia Upananda. Sudilah menunggu hingga ia tiba.”
Kemudian, setelah mengunjungi keluarga-keluarga itu, Upananda terlambat tiba, dan para bhikkhu itu tidak makan sebanyak yang mereka inginkan. Para bhikkhu yang memiliki sedikit keinginan mengeluhkan dan mengkritik Upananda, “Bagaimana mungkin Yang Mulia Upananda mengunjungi keluarga-keluarga terlebih dulu ketika ia diundang untuk makan?” … “Benarkah, Upananda, bahwa engkau melakukan hal ini?”
“Benar, Yang Mulia.”
Sang Buddha menegurnya … “Orang dungu, bagaimana mungkin engkau melakukan hal ini? Hal ini akan mempengaruhi keyakinan orang-orang …” … “Dan, para bhikkhu, aturan latihan ini harus dibacakan sebagai berikut:
Aturan awal
‘Jika seorang bhikkhu yang telah diundang untuk makan mengunjungi keluarga-keluarga terlebih dulu, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan.’”
Dengan cara inilah Sang Buddha menetapkan aturan latihan ini untuk para bhikkhu.
Sub-kisah kedua
Tidak lama kemudian sebuah keluarga yang menyokong Upananda memgirimkan makanan segar untuk Sangha. Mereka memberikan instruksi agar makanan itu harus ditunjukkan kepada Upananda dan kemudian diberikan kepada Sangha.
Tetapi pada saat itu Upanadna telah memasuki desa untuk menerima dana makanan. Ketika orang-orang sampai di vihara, mereka menanyakan di mana Upananda, dan mereka diberitahu di mana ia berada. Mereka berkata, “Para Mulia, setelah menunjukkan ini kepada Yang Mulia Upananda, makanan segar ini harus diberikan kepada Sangha.” Para bhikkhu memberitahu Sang Buddha, yang kemudian membabarkan ajaran dan berkata kepada para bhikkhu: “Baiklah, para bhikkhu, terimalah dan simpan hingga Upananda kembali.”
Ketika ia mendengar bahwa Sang Buddha telah melarang mengunjungi keluarga-keluarga sebelum makan, Upananda mengunjungi mereka setelah makan. Sebagai akibatnya, ia terlambat kembali ke vihara, dan makanan itu terpaksa dikembalikan kepada si penyumbang.
Para bhikkhu yang memiliki sedikit keinginan mengeluhkan dan mengkritik Upananda, “Bagaimana mungkin Yang Mulia Upananda mengunjungi keluarga-keluarga setelah makan?” … “Benarkah, Upananda, bahwa engkau melakukan hal ini?”
“Benar, Yang Mulia.”
Sang Buddha menegurnya … “Orang dungu, bagaimana mungkin engkau melakukan hal ini? Hal ini akan mempengaruhi keyakinan orang-orang …” … “Dan, para bhikkhu, aturan latihan ini harus dibacakan sebagai berikut:
Aturan awal kedua
‘Jika seorang bhikkhu yang telah diundang untuk makan mengunjungi keluarga-keluarga terlebih dulu atau setelahnya, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan.’”
Dengan cara inilah Sang Buddha menetapkan aturan latihan ini untuk para bhikkhu.
Sub-kisah ketiga
Tidak lama kemudian tiba musim pemberian-jubah. Tetapi karena takut melakukan kesalahan, para bhikkhu tidak mengunjungi keluarga-keluarga. Sebagai akibatnya, mereka hanya mendapatkan sedikit kain-jubah. Mereka memberitahu Sang Buddha. …
“Para bhikkhu, Aku memperbolehkan kalian untuk mengunjungi keluarga-keluarga selama musim pemberian-jubah.
Dan, para bhikkhu, aturan latihan ini harus dibacakan sebagai berikut:
Aturan awal ketiga
‘Jika seorang bhikkhu yang telah diundang untuk makan mengunjungi keluarga-keluarga terlebih dulu atau setelahnya, kecuali pada kesempatan yang diperbolehkan, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan. Ini adalah kesempatan yang diperbolehkan: saat itu adalah musim pemberian-jubah’”
Dengan cara inilah Sang Buddha menetapkan aturan latihan ini untuk para bhikkhu.
Sub-kisah keempat
Tidak lama kemudian para bhikkhu sedang membuat jubah, dan mereka memerlukan jarum, benang, dan gunting. Tetapi karena takut melakukan kesalahan, mereka tidak mengunjungi keluarga-keluarga. Mereka memberitahu Sang Buddha. …
“Para bhikkhu, Aku memperbolehkan kalian untuk mengunjungi keluarga-keluarga pada waktu membuat jubah.
Dan, para bhikkhu, aturan latihan ini harus dibacakan sebagai berikut:
Aturan awal keempat
‘Jika seorang bhikkhu yang telah diundang untuk makan mengunjungi keluarga-keluarga terlebih dulu atau setelahnya, kecuali pada kesempatan yang diperbolehkan, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan. Ini adalah kesempatan yang diperbolehkan: saat itu adalah musim pemberian-jubah; saat itu adalah waktunya membuat jubah’”
Dengan cara inilah Sang Buddha menetapkan aturan latihan ini untuk para bhikkhu.
Sub-kisah kelima
Tidak lama kemudian terdapat bhikkhu-bhikkhu sakit yang membutuhkan obat-obatan. Tetapi karena takut melakukan kesalahan, mereka tidak mengunjungi keluarga-keluarga. Mereka memberitahu Sang Buddha. …
“Para bhikkhu, Aku memperbolehkan kalian untuk mengunjungi keluarga-keluarga setelah memberitahu seorang bhikkhu yang ada.
Dan, para bhikkhu, aturan latihan ini harus dibacakan sebagai berikut:
Aturan akhir
‘Jika seorang bhikkhu yang telah diundang untuk makan mengunjungi keluarga-keluarga terlebih dulu atau setelahnya tanpa memberitahu seorang bhikkhu yang ada, kecuali pada kesempatan yang diperbolehkan, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan. Ini adalah kesempatan yang diperbolehkan: saat itu adalah musim pemberian-jubah; saat itu adalah waktunya membuat jubah’”
Definisi
Seorang:
Siapa pun
Bhikkhu:
… Seorang bhikkhu yang telah diberikan penahbisan penuh oleh Sangha yang sepakat melalui prosedur sah yang terdiri dari satu usul dan tiga pengumuman yang tidak dapat dibatalkan dan lengkap—bhikkhu jenis inilah yang dimaksudkan dalam kasus ini.
Diundang:
Diundang untuk makan apa pun dari kelima jenis makanan matang.
Untuk makan:
Undangan termasuk makanan.
Seorang bhikkhu yang ada:
Ia mampu memberitahu dan kemudian masuk.
Tidak ada bhikkhu:
Ia tidak dapat memberitahu dan kemudian masuk.
Terlebih dulu:
Ia belum memakan apa yang karenanya ia diundang untuk makan
Setelahnya:
Bahkan jika ia telah memakan sebanyak ujung helai rumput dari apa yang karenanya ia diundang untuk makan.
Sebuah keluarga:
Ada empat keluarga: keluarga bangsawan, keluarga brahmana, keluarga pedagang, keluarga pekerja.
Mengunjungi keluarga-keluarga:
Jika ia memasuki halaman rumah seseorang, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika ia melewati ambang pintu dengan kaki pertama, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika ia melewati ambang pintu dengan kaki ke dua, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan.
Kecuali pada kesempatan yang diperbolehkan:
Jika itu adalah kesempatan yang diperbolehkan.
Saat itu adalah musim pemberian-jubah:
Jika ia belum berpartisipasi dalam upacara membuat-jubah, maka itu adalah bulan terakhir musim hujan. Jika ia telah berpartisiapsi dalam upacara membuat-jubah, maka itu adalah selama periode lima bulan.
Saat itu adalah waktunya membuat jubah:
Ketika ia sedang membuat jubah
Permutasi
Jika ia telah diundang, dan ia menyadarinya sebagai telah diundang, dan ia mengunjungi keluarga-keluarga terlebih dulu atau setelahnya tanpa memberitahu seorang bhikkhu yang ada, kecuali pada kesempatan yang diperbolehkan, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan. Jika ia telah diundang, tetapi ia tidak dapat memastikannya, dan ia mengunjungi keluarga-keluarga terlebih dulu atau setelahnya tanpa memberitahu seorang bhikkhu yang ada, kecuali pada kesempatan yang diperbolehkan, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan. Jika ia telah diundang, tetapi ia tidak menyadarinya sebagai telah diundang, dan ia mengunjungi keluarga-keluarga terlebih dulu atau setelahnya tanpa memberitahu seorang bhikkhu yang ada, kecuali pada kesempatan yang diperbolehkan, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan.
Jika ia belum diundang, tetapi ia menyadarinya sebagai telah diundang, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika ia belum diundang, tetapi ia tidak dapat memastikannya, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika ia belum diundang, dan ia tidak menyadarinya sebagai telah diundang, maka tidak ada pelanggaran.
Tidak ada pelanggaran
Tidak ada pelanggaran: Jika saat itu adalah kesempatan yang diperbolehkan; jika ia masuk setelah memberitahu seorang bhikkhu yang ada; jika, ketika tidak ada bhikkhu, ia masuk tanpa memberitahu siapa pun; jika jalan itu melewati rumah seseorang; jika jalan itu melewati halaman rumah seseorang; jika ia sedang bepergian antar vihara; jika ia sedang mengunjungi tempat kediaman para bhikkhunī; jika sedang mengunjungi tempat kediaman para monastik agama lain; jika ia sedang pulang ke vihara; jika ia sedang berjalan menuju rumah di mana ia diundang; jika terjadi situasi darurat; jika ia gila; jika ia adalah pelaku pertama.
Aturan latihan tentang mengunjungi, yang keenam, selesai
Komentar [0]