Memuat

Terjemahan [18]

Mengamati Dualitas

Demikianlah yang kudengar:
Pada suatu ketika Sang Buddha sedang menetap di dekat Sāvatthi di Vihara Timur, istana ibunya Migāra. Pada saat itu Sang Buddha sedang duduk di ruang terbuka, dikelilingi oleh Saṅgha para bhikkhu. Hari itu adalah hari uposatha, malam bulan purnama hari ke lima belas. Kemudian Sang Buddha, setelah mengamati Saṅgha para bhikkhu yang duduk diam, berkata kepada para bhikkhu:
“Para bhikkhu, jika mereka bertanya kepadamu, ‘Apakah tujuan mempelajari prinsip-prinsip terampil yang mulia, membebaskan, mengarah menuju pencerahan sempurna?’ maka kalian harus menjawab mereka, ‘hanya untuk mengetahui prinsip dualitas sesuai realitas.’
“‘Dualitas apakah yang harus kalian jelaskan?
“‘Ini adalah penderitaan, ini adalah asal-mula penderitaan’, ini adalah satu pengamatan. ‘Ini adalah akhir penderitaan,, ini adalah praktik menuju akhir penderitaan’, ini adalah pengamatan ke dua. Dengan benar mengamati dualitas ini, seorang bhikkhu yang bermeditasi dengan rajin tekun, dan teguh dapat mengharapkan salah satu dari dua hasil: pengetahuan akhir dalam kehidupan ini, atau jika masih ada yang tersisa, yang-tidak-kembali.”
Ini adalah apa yang dikatakan oleh Sang Buddha. Setelah mengatakan ini, Sang Guru, Yang Mulia, berkata lebih lanjut:

Mereka yang tidak memahami penderitaan,
Atau asal-mula penderitaan;
Atau di mana segala penderitaan
Lenyap tanpa sisa;
Mereka tidak mengetahui jalan
Yang mengarah menuju ditenangkannya penderitaan.

Mereka yang tidak memiliki kebebasan batin,
Dan kebebasan melalui pemahaman;
Mereka tidak mampu mengakhiri,
Mereka mengulangi lagi kelahiran dan penuaan.

Mereka yang memahami penderitaan,
Dan asal-mula penderitaan;
Dan di mana segala penderitaan
Lenyap tanpa sisa;
Mereka mengetahui jalan
Yang mengarah menuju ditenangkannya penderitaan.

Mereka yang memiliki kebebasan batin,
Dan kebebasan melalui pemahaman;
Mereka mampu mengakhiri,
Mereka tidak mengulangi lagi kelahiran dan penuaan.
“Jika, para bhikkhu, mereka bertanya kepada kalian, ‘Adakah cara lain untuk dengan benar mengamati dualitas?’ maka kalian harus menjawab, ‘Ada’. Dan bagaimanakah itu?
“‘Penderitaan apapun yang muncul, semuanya disebabkan oleh kemelekatan’, ini adalah satu pengamatan. ‘Dengan sepenuhnya mengakhiri segala kemelekatan maka tidak ada kemunculan penderitaan’, ini adalah pengamatan ke dua. Dengan benar mengamati dualitas ini, seorang bhikkhu yang bermeditasi dengan rajin tekun, dan teguh dapat mengharapkan salah satu dari dua hasil: pengetahuan akhir dalam kehidupan ini, atau jika masih ada yang tersisa, yang-tidak-kembali.”
Ini adalah apa yang dikatakan oleh Sang Buddha. Setelah mengatakan ini, Sang Guru, Yang Mulia, berkata lebih lanjut:

Penderitaan muncul karena kemelekatan
Berbagai jenis di dunia ini.
Siapapun, tanpa mengetahui, membuat kemelekatan,
Orang dungu itu pergi menuju penderitaan lagi dan lagi.
Oleh karena itu, dengan memahami,
Seseorang seharusnya tidak membuat kemelekatan,
Mengamati bagaimana munculnya penderitaan.
“Jika, para bhikkhu, mereka bertanya kepada kalian, ‘Adakah cara lain untuk dengan benar mengamati dualitas?’ maka kalian harus menjawab, ‘Ada’. Dan bagaimanakah itu?
“‘Penderitaan apapun yang muncul, semuanya disebabkan oleh ketidaktahuan’, ini adalah satu pengamatan. ‘Dengan sepenuhnya mengakhiri segala ketidaktahuan maka tidak ada kemunculan penderitaan’, ini adalah pengamatan ke dua. Dengan benar mengamati dualitas ini, seorang bhikkhu yang bermeditasi dengan rajin tekun, dan teguh dapat mengharapkan salah satu dari dua hasil: pengetahuan akhir dalam kehidupan ini, atau jika masih ada yang tersisa, yang-tidak-kembali.”
Ini adalah apa yang dikatakan oleh Sang Buddha. Setelah mengatakan ini, Sang Guru, Yang Mulia, berkata lebih lanjut:

Mereka yang bertransmigrasi
Melalui kelahiran dan kematian, lagi dan lagi;
Dalam bentuk kehidupan ini atau bentuk lainnya,
Mereka berada di bawah pengaruh ketidaktahuan.

Ketidaktahuan ini sungguh adalah penipu ulung,
Karenanya kita telah bertransmigrasi dalam waktu yang lama,
Mereka yang telah sampai pada pemahaman,
Tidak pergi menuju kehidupan di masa depan.
“Jika, para bhikkhu, mereka bertanya kepada kalian, ‘Adakah cara lain untuk dengan benar mengamati dualitas?’ maka kalian harus menjawab, ‘Ada’. Dan bagaimanakah itu?
“‘Penderitaan apapun yang muncul, semuanya disebabkan oleh pilihan kamma’, ini adalah satu pengamatan. ‘Dengan sepenuhnya mengakhiri segala pilihan kamma maka tidak ada kemunculan penderitaan’, ini adalah pengamatan ke dua. Dengan benar mengamati dualitas ini, seorang bhikkhu yang bermeditasi dengan rajin tekun, dan teguh dapat mengharapkan salah satu dari dua hasil: pengetahuan akhir dalam kehidupan ini, atau jika masih ada yang tersisa, yang-tidak-kembali.”
Ini adalah apa yang dikatakan oleh Sang Buddha. Setelah mengatakan ini, Sang Guru, Yang Mulia, berkata lebih lanjut:

Penderitaan apapun yang muncul di dunia
Semuanya disebabkan oleh pilihan kamma.
Dengan lenyapnya pilihan demikian,
Maka tidak ada munculnya penderitaan.

Mengetahui bahaya ini,
Penderitaan itu yang disebabkan oleh pilihan kamma,
Dengan meredanya segala pilihan,
Maka terjadi pemberhentian persepsi;
Demikianlah penderitaan berakhir,
Mengetahui hal ini sebagaimana adanya.

Mereka yang mengetahui, melihat dengan benar,
Mereka yang cerdas, memahami dengan benar,
Dengan mengatasi belenggu-belenggu Māra,
Tidak pergi menuju kehidupan di masa depan.
“Jika, para bhikkhu, mereka bertanya kepada kalian, ‘Adakah cara lain untuk dengan benar mengamati dualitas?’ maka kalian harus menjawab, ‘Ada’. Dan bagaimanakah itu?
“‘Penderitaan apapun yang muncul, semuanya disebabkan oleh kesadaran’, ini adalah satu pengamatan. ‘Dengan sepenuhnya mengakhiri segala kesadaran maka tidak ada kemunculan penderitaan’, ini adalah pengamatan ke dua. Dengan benar mengamati dualitas ini, seorang bhikkhu yang bermeditasi dengan rajin tekun, dan teguh dapat mengharapkan salah satu dari dua hasil: pengetahuan akhir dalam kehidupan ini, atau jika masih ada yang tersisa, yang-tidak-kembali.”
Ini adalah apa yang dikatakan oleh Sang Buddha. Setelah mengatakan ini, Sang Guru, Yang Mulia, berkata lebih lanjut:

Penderitaan apapun yang muncul di dunia,
Semuanya disebabkan oleh kesadaran.
Dengan lenyapnya ksadaran,
Maka tidak ada kemunculan penderitaan.

Mengetahui bahaya ini,
Bahwa penderitaan disebabkan oleh kesadaran,
Dengan ditenangkannya kesadaran,
Seseorang menjadi tanpa keinginan, padam.
“Jika, para bhikkhu, mereka bertanya kepada kalian, ‘Adakah cara lain untuk dengan benar mengamati dualitas?’ maka kalian harus menjawab, ‘Ada’. Dan bagaimanakah itu?
“‘Penderitaan apapun yang muncul, semuanya disebabkan oleh kontak’, ini adalah satu pengamatan. ‘Dengan sepenuhnya mengakhiri segala kontak maka tidak ada kemunculan penderitaan’, ini adalah pengamatan ke dua. Dengan benar mengamati dualitas ini, seorang bhikkhu yang bermeditasi dengan rajin tekun, dan teguh dapat mengharapkan salah satu dari dua hasil: pengetahuan akhir dalam kehidupan ini, atau jika masih ada yang tersisa, yang-tidak-kembali.”
Ini adalah apa yang dikatakan oleh Sang Buddha. Setelah mengatakan ini, Sang Guru, Yang Mulia, berkata lebih lanjut:

Diserang oleh kontak,
Mereka mengalir menuruni arus kehidupan,
Dengan mempraktikkan jalan yang salah,
Mereka jauh dari akhir belenggu.

Tetapi mereka yang sepenuhnya memahami kontak,
Dan telah menenangkan keinginan melalui pengetahuan akhir,
Dengan memahami kontak,
Mereka menjadi tanpa keinginan, padam.
“Jika, para bhikkhu, mereka bertanya kepada kalian, ‘Adakah cara lain untuk dengan benar mengamati dualitas?’ maka kalian harus menjawab, ‘Ada’. Dan bagaimanakah itu?
“‘Penderitaan apapun yang muncul, semuanya disebabkan oleh perasaan, ini adalah satu pengamatan. ‘Dengan sepenuhnya mengakhiri segala perasaan maka tidak ada kemunculan penderitaan’, ini adalah pengamatan ke dua. Dengan benar mengamati dualitas ini, seorang bhikkhu yang bermeditasi dengan rajin tekun, dan teguh dapat mengharapkan salah satu dari dua hasil: pengetahuan akhir dalam kehidupan ini, atau jika masih ada yang tersisa, yang-tidak-kembali.”
Ini adalah apa yang dikatakan oleh Sang Buddha. Setelah mengatakan ini, Sang Guru, Yang Mulia, berkata lebih lanjut:

Perasaan apapun yang ada,
Apakah menyenangkan atau menyakitkan,
Dan bahkan termasuk yang netral,
Internal dan eksternal;

Mengetahui hal ini sebagai penderitaan,
Membingungkan, menghancurkan;
Melihat perasaan-perasaan jatuh pada setiap sentuhan,
Seseorang memahami hal ini.
Dengan berakhirnya perasaan,
Maka seseorang menjadi tanpa keinginan, padam.
Mereka menjadi tanpa keinginan, padam.
“Jika, para bhikkhu, mereka bertanya kepada kalian, ‘Adakah cara lain untuk dengan benar mengamati dualitas?’ maka kalian harus menjawab, ‘Ada’. Dan bagaimanakah itu?
“‘Penderitaan apapun yang muncul, semuanya disebabkan oleh ketagihan’, ini adalah satu pengamatan. ‘Dengan sepenuhnya mengakhiri segala ketagihan maka tidak ada kemunculan penderitaan’, ini adalah pengamatan ke dua. Dengan benar mengamati dualitas ini, seorang bhikkhu yang bermeditasi dengan rajin tekun, dan teguh dapat mengharapkan salah satu dari dua hasil: pengetahuan akhir dalam kehidupan ini, atau jika masih ada yang tersisa, yang-tidak-kembali.”
Ini adalah apa yang dikatakan oleh Sang Buddha. Setelah mengatakan ini, Sang Guru, Yang Mulia, berkata lebih lanjut:

Ketagihan adalah pendamping seseorang,
Dalam perjalanan panjang transmigrasi ini;
Dalam bentuk kehidupan ini atau bentuk lainnya,
Seseorang tidak dapat membebaskan diri dari transmigrasi.

Mengetahui bahaya ini,
Ketagihan itu yang disebabkan oleh ketagihan;
Bebas dari ketagihan, tanpa menggenggam,
Penuh perhatian, seorang bhikkhu akan melepaskan.
“Jika, para bhikkhu, mereka bertanya kepada kalian, ‘Adakah cara lain untuk dengan benar mengamati dualitas?’ maka kalian harus menjawab, ‘Ada’. Dan bagaimanakah itu?
“‘Penderitaan apapun yang muncul, semuanya disebabkan oleh genggaman’, ini adalah satu pengamatan. ‘Dengan sepenuhnya mengakhiri segala genggaman maka tidak ada kemunculan penderitaan’, ini adalah pengamatan ke dua. Dengan benar mengamati dualitas ini, seorang bhikkhu yang bermeditasi dengan rajin tekun, dan teguh dapat mengharapkan salah satu dari dua hasil: pengetahuan akhir dalam kehidupan ini, atau jika masih ada yang tersisa, yang-tidak-kembali.”
Ini adalah apa yang dikatakan oleh Sang Buddha. Setelah mengatakan ini, Sang Guru, Yang Mulia, berkata lebih lanjut:

Genggaman adalah penyebab kelahiran kembali ke dalam kehidupan baru,
Dengan hidup, seseorang mengalami penderitaan.
Mereka yang dilahirkan pasti mati,
Ini adalah asal-mula penderitaan.

Oleh karena itu, dengan berakhirnya genggaman,
Seorang yang cerdas mengetahui dengan benar,
Secara langsung mengetahui akhir kelahiran,
Tidak pergi menuju kehidupan di masa depan
“Jika, para bhikkhu, mereka bertanya kepada kalian, ‘Adakah cara lain untuk dengan benar mengamati dualitas?’ maka kalian harus menjawab, ‘Ada’. Dan bagaimanakah itu?
“‘Penderitaan apapun yang muncul, semuanya disebabkan oleh aktivitas kamma’, ini adalah satu pengamatan. ‘Dengan sepenuhnya mengakhiri segala aktivitas kamma maka tidak ada kemunculan penderitaan’, ini adalah pengamatan ke dua. Dengan benar mengamati dualitas ini, seorang bhikkhu yang bermeditasi dengan rajin tekun, dan teguh dapat mengharapkan salah satu dari dua hasil: pengetahuan akhir dalam kehidupan ini, atau jika masih ada yang tersisa, yang-tidak-kembali.”
Ini adalah apa yang dikatakan oleh Sang Buddha. Setelah mengatakan ini, Sang Guru, Yang Mulia, berkata lebih lanjut:

Penderitaan apapun yang muncul di dunia,
Semuanya disebabkan oleh aktivitas kamma.
Dengan lenyapnya aktivitas kamma,
Maka tidak ada kemunculan penderitaan.

Mengetahui bahaya ini,
Bahwa penderitaan disebabkan oleh aktivitas kamma,
Dengan melepaskan aktivitas kamma,
Seseorang terbebas dari aktivitas kamma.

Dengan ketagihan pada kelahiran kembali terpotong,
Seorang bhikkhu memiliki kedamaian batin;
Transmigrasi melalui kelahiran kembali telah berakhir,
Mereka tidak memiliki kehidupan masa depan.
“Jika, para bhikkhu, mereka bertanya kepada kalian, ‘Adakah cara lain untuk dengan benar mengamati dualitas?’ maka kalian harus menjawab, ‘Ada’. Dan bagaimanakah itu?
“‘Penderitaan apapun yang muncul, semuanya disebabkan oleh makanan’, ini adalah satu pengamatan. ‘Dengan sepenuhnya mengakhiri segala makanan maka tidak ada kemunculan penderitaan’, ini adalah pengamatan ke dua. Dengan benar mengamati dualitas ini, seorang bhikkhu yang bermeditasi dengan rajin tekun, dan teguh dapat mengharapkan salah satu dari dua hasil: pengetahuan akhir dalam kehidupan ini, atau jika masih ada yang tersisa, yang-tidak-kembali.”
Ini adalah apa yang dikatakan oleh Sang Buddha. Setelah mengatakan ini, Sang Guru, Yang Mulia, berkata lebih lanjut:

Penderitaan apapun yang muncul di dunia,
Semuanya disebabkan oleh makanan.
Dengan lenyapnya makanan,
Maka tidak ada kemunculan penderitaan.

Mengetahui bahaya ini,
Bahwa penderitaan disebabkan oleh makanan,
Dengan sepenuhnya memahami segala makanan,
Seseorang tidak bergantung pada makanan apapun.

Dengan benar mengetahui kesehatan sejati,
Dengan berakhirnya kekotoran sepenuhnya,
Arif, sang praktisi berdiri kokoh di dalam Dhamma,
Yang mengetahui tdiak dapat dikelompokkan.
“Jika, para bhikkhu, mereka bertanya kepada kalian, ‘Adakah cara lain untuk dengan benar mengamati dualitas?’ maka kalian harus menjawab, ‘Ada’. Dan bagaimanakah itu?
“‘Penderitaan apapun yang muncul, semuanya disebabkan oleh gejolak’, ini adalah satu pengamatan. ‘Dengan sepenuhnya mengakhiri segala gejolak maka tidak ada kemunculan penderitaan’, ini adalah pengamatan ke dua. Dengan benar mengamati dualitas ini, seorang bhikkhu yang bermeditasi dengan rajin tekun, dan teguh dapat mengharapkan salah satu dari dua hasil: pengetahuan akhir dalam kehidupan ini, atau jika masih ada yang tersisa, yang-tidak-kembali.”
Ini adalah apa yang dikatakan oleh Sang Buddha. Setelah mengatakan ini, Sang Guru, Yang Mulia, berkata lebih lanjut:

Penderitaan apapun yang muncul di dunia,
Semuanya disebabkan oleh gejolak.
Dengan lenyapnya gejolak,
Maka tidak ada kemunculan penderitaan.

Mengetahui bahaya ini,
Bahwa penderitaan disebabkan oleh gejolak,
Oleh karena itu seseorang harus melepaskan gejolak,
Dan mencabut aktivitas-aktivitas terkondisi;
Dengan ketiadaan gejolak, tidak menggenggam,
Penuh perhatian, seorang bhikkhu akan melepaskan.
“Jika, para bhikkhu, mereka bertanya kepada kalian, ‘Adakah cara lain untuk dengan benar mengamati dualitas?’ maka kalian harus menjawab, ‘Ada’. Dan bagaimanakah itu?
“‘Kebergantungan adalah rentan’, ini adalah satu pengamatan. ‘Ketidakbergantungan adalah tidak rentan’, ini adalah pengamatan ke dua. Dengan benar mengamati dualitas ini, seorang bhikkhu yang bermeditasi dengan rajin tekun, dan teguh dapat mengharapkan salah satu dari dua hasil: pengetahuan akhir dalam kehidupan ini, atau jika masih ada yang tersisa, yang-tidak-kembali.”
Ini adalah apa yang dikatakan oleh Sang Buddha. Setelah mengatakan ini, Sang Guru, Yang Mulia, berkata lebih lanjut:

Seorang yang tidak bergantung adalah tidak rentan,
Tetapi seorang yang bergantung dan menggenggam,
Dalam bentuk kehidupan ini atau bentuk lainnya,
Tidak terbebas dari transmigrasi.

Mengetahui bahaya ini,
Bahwa kebergantungan adalah ketakutan hebat,
Tidak bergantung, tidak menggenggam,
Penuh perhatian, seorang bhikkhu akan melepaskan.
“Jika, para bhikkhu, mereka bertanya kepada kalian, ‘Adakah cara lain untuk dengan benar mengamati dualitas?’ maka kalian harus menjawab, ‘Ada’. Dan bagaimanakah itu?
“‘Alam-alam tanpa materi adalah lebih baik daripada alam-alam materi’, ini adalah satu pengamatan. ‘Lenyapnya adalah lebih baik daripada alam tanpa materi’, ini adalah pengamatan ke dua. Dengan benar mengamati dualitas ini, seorang bhikkhu yang bermeditasi dengan rajin tekun, dan teguh dapat mengharapkan salah satu dari dua hasil: pengetahuan akhir dalam kehidupan ini, atau jika masih ada yang tersisa, yang-tidak-kembali.”
Ini adalah apa yang dikatakan oleh Sang Buddha. Setelah mengatakan ini, Sang Guru, Yang Mulia, berkata lebih lanjut:

Makhluk-makhluk di alam materi,
Dan mereka yang berkomitmen pada alam tanpa-materi,
Tanpa memahami lenyapnya,
Mereka berlanjut pada kelahiran kembali di masa depan.

Mereka yang memahami alam materi,
Dan tidak berkomitmen pada alam tanpa-materi,
Mereka terbebaskan melalui lenyapnya,
Dan meninggalkan kematian.
“Jika, para bhikkhu, mereka bertanya kepada kalian, ‘Adakah cara lain untuk dengan benar mengamati dualitas?’ maka kalian harus menjawab, ‘Ada’. Dan bagaimanakah itu?
“‘Apa yang dianggap sebagai kebenaran oleh dunia ini bersama dengan para dewa, Māra dan Brahmā, dalam generasi ini bersama dengan para petapa dan pendeta, para pangeran dan orang-orang, para mulia itu, setelah dengan jelas melihat dengan kebijaksanaan benar sesuai kenyataan, memahami sebagai salah’, ini adalah satu pengamatan. ‘Apa yang dianggap sebagai salah oleh dunia ini bersama dengan para dewa, Māra dan Brahmā, dalam generasi ini bersama dengan para petapa dan pendeta, para pangeran dan orang-orang, para mulia itu, setelah dengan jelas melihat dengan kebijaksanaan benar sesuai kenyataan, memahami sebagai benar’, ini adalah pengamatan ke dua. Dengan benar mengamati dualitas ini, seorang bhikkhu yang bermeditasi dengan rajin tekun, dan teguh dapat mengharapkan salah satu dari dua hasil: pengetahuan akhir dalam kehidupan ini, atau jika masih ada yang tersisa, yang-tidak-kembali.”
Ini adalah apa yang dikatakan oleh Sang Buddha. Setelah mengatakan ini, Sang Guru, Yang Mulia, berkata lebih lanjut:

Lihatlah dunia ini bersama dengan para dewanya,
Terperangkap dalam jasmani dan batin,
Menganggap bukan-diri sebagai diri,
Ia berpikir, “Ini adalah kebenaran”.

Apapun yang mereka pikirkan,
Itu menjadi sesuatu yang lain;
Yang salah bagi mereka,
Karena segala sesuatu yang sementara adalah memperdaya

Tetapi pemadaman tidak memperdaya,
Yang diketahui para mulia sebagai benar;
Dengan memahami kebenaran-kebenaran,
Mereka menjadi tanpa keinginan, padam
“Jika, para bhikkhu, mereka bertanya kepada kalian, ‘Adakah cara lain untuk dengan benar mengamati dualitas?’ maka kalian harus menjawab, ‘Ada’. Dan bagaimanakah itu?
“‘Apa yang dianggap sebagai kebahagiaan oleh dunia ini bersama dengan para dewa, Māra dan Brahmā, dalam generasi ini bersama dengan para petapa dan pendeta, para pangeran dan orang-orang, para mulia itu, setelah dengan jelas melihat dengan kebijaksanaan benar sesuai kenyataan, memahami penderitaan’, ini adalah satu pengamatan. ‘Apa yang dianggap sebagai penderitaan oleh dunia ini bersama dengan para dewa, Māra dan Brahmā, dalam generasi ini bersama dengan para petapa dan pendeta, para pangeran dan orang-orang, para mulia itu, setelah dengan jelas melihat dengan kebijaksanaan benar sesuai kenyataan, memahami kebahagiaan, ini adalah pengamatan ke dua. Dengan benar mengamati dualitas ini, seorang bhikkhu yang bermeditasi dengan rajin tekun, dan teguh dapat mengharapkan salah satu dari dua hasil: pengetahuan akhir dalam kehidupan ini, atau jika masih ada yang tersisa, yang-tidak-kembali.”

Pemandangan, suara, rasa kecapan dan bau-bauan,
Sentuhan, fenomena pikiran, hal-hal ini;
Yang diinginkan, disukai, menyenangkan,
Selama dikatakan: “Itu ada”.

Hal-hal ini disepakati oleh dunia
Bersama dengan para dewanya sebagai kebahagiaan,
Tetapi ketika hal-hal itu lenyap,
Itu, mereka sepakat, adalah penderitaan.

Pencabutan identitas
Dilihat oleh para mulia sebagai kebahagiaan;
Tetapi ini bertentangan dengan
Apa yang dilihat oleh seluruh dunia.

Apa yang orang lain lihat sebagai kebahagiaan,
Para mulia melihatnya sebagai penderitaan;
Apa yang orang lain lihat sebagai penderitaan,
Para mulia melihatnya sebagai kebahagiaan.

Melihat prinsip ini, yang begitu sulit dipahami,
Yang membingungkan si dungu.
Terselubung kegelapan,
Buta, mereka tidak dapat melihat.

Orang baik dapat melihatnya seperti siang
Ketika tirai ditarik.
Tetapi binatang yang tidak terampil dalam Dhamma,
Tidak memahami, bahkan walaupun ada di sana.

Dikuasai oleh keinginan pada kehidupan baru,
Mengalir mengikuti arus kelahiran kembali,
Mereka terlahir kembali di alam Māra:
Ini bukanlah Ajaran Sang Buddha.

Siapakah selain para mulia
Yang layak tercerahkan pada keadaan itu?
Sepenuhnya memahami keadaan itu,
Seorang yang padam, tanpa kekotoran.
Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Buddha. Dengan puas, para bhikkhu bersukacita mendengar kata-kata Sang Buddha. Dan sewaktu penjelasan ini dibabarkan batin enam puluh bhikkhu itu terbebaskan dari kekotoran tanpa menggenggam.

Komentar [1]