Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika, Sang Buddha sedang berdiam di antara orang-orang Sakya di Kapilavatthu di Nigrodhārāma, di mana beliau menghabiskan pengasingan musim hujan bersama sejumlah besar bhikkhu.
Pada waktu itu Mahāpajāpatī Gotamī pergi menemui Sang Buddha, memberikan penghormatan pada kaki Sang Buddha, mengundurkan diri pada satu sisi, dan berkata:
‘Sang Bhagavā, apakah para wanita dapat mencapai keempat buah seorang pertapa? Apakah para wanita karenanya akan diizinkan untuk meninggalkan rumah demi keyakinan dan pergi meninggalkan keduniawian untuk berlatih sang jalan dalam Dharma dan disiplin sejati ini?’
Sang Bhagavā berkata kepadanya:
‘Hentikan! Hentikan, Gotamī! Janganlah berpikir demikian: “Para wanita akan diizinkan untuk meninggalkan rumah demi keyakinan dan pergi meninggalkan keduniawian untuk berlatih sang jalan dalam Dharma dan disiplin sejati ini.” Gotamī, cukurlah rambutmu seperti ini, kenakan jubah kuning, dan selama sisa hidupmu jalankanlah kehidupan suci dalam kemurnian.’
Atas hal ini, Mahāpajāpatī Gotamī, setelah ditolak oleh Sang Buddha, memberikan penghormatan pada kaki Sang Buddha, mengelilingi beliau tiga kali, dan pergi.
Pada waktu itu para bhikkhu sedang menambal jubah Sang Buddha, dengan berpikir, “Sang Bhagavā akan segera mengakhiri pengasingan musim hujannya di antara orang-orang Sakya. Jubah sedang ditambal dan tiga bulan telah berlalu. Segera beliau akan mengumpulkan jubahnya, membawa mangkuknya, dan mengembara di antara orang-orang.”
Mahāpajāpatī Gotamī mendengar bahwa para bhikkhu sedang menambal jubah Sang Buddha dengan berpikir, “Sang Bhagavā akan segera mengakhiri pengasingan musim hujannya di antara orang-orang Sakya. Jubah sedang ditambal dan tiga bulan telah berlalu. Segera beliau akan mengumpulkan jubahnya, membawa mangkuknya, dan mengembara di antara orang-orang.” Setelah mendengar hal ini, Mahāpajāpatī Gotamī pergi menemui Sang Buddha, memberikan penghormatan pada kaki Sang Buddha, mengundurkan diri pada satu sisi, dan berkata:
‘Sang Bhagavā, apakah para wanita dapat mencapai keempat buah seorang pertapa? Apakah para wanita karenanya akan diizinkan untuk meninggalkan rumah demi keyakinan dan pergi meninggalkan keduniawian untuk berlatih sang jalan dalam Dharma dan disiplin sejati ini?’
Sang Bhagavā kembali berkata kepadanya:
‘Hentikan! Hentikan, Gotamī! Janganlah berpikir demikian: “Para wanita akan diizinkan untuk meninggalkan rumah demi keyakinan dan pergi meninggalkan keduniawian untuk berlatih sang jalan dalam Dharma dan disiplin sejati ini.” Gotamī, cukurlah rambutmu seperti ini, kenakan jubah kuning, dan selama sisa hidupmu jalankanlah kehidupan suci dalam kemurnian.’
Atas hal ini, Mahāpajāpatī Gotamī, setelah ditolak kembali oleh Sang Buddha, memberikan penghormatan pada kaki Sang Buddha, mengelilingi beliau tiga kali, dan pergi.
Kemudian Sang Bhagavā mengakhiri pengasingan musim hujannya di antara orang-orang Sakya. Jubah telah ditambal dan tiga bulan telah berlalu. Beliau mengumpulkan jubahnya, membawa mangkuknya, dan pergi mengadakan perjalanan di antara orang-orang.
Mahāpajāpatī Gotamī, ditemani oleh beberapa wanita sesepuh dari suku Sakya, mengikuti untuk mengejar Sang Buddha, yang mengadakan perjalanan secara bertahap sampai beliau tiba di Nādika dan berdiam di Aula Ginjakāvasatha.
Pada saat itu Mahāpajāpatī Gotamī pergi menemui Sang Buddha, memberikan penghormatan pada kaki Sang Buddha, mengundurkan diri pada satu sisi dan berkata:
‘Sang Bhagavā, apakah para wanita dapat mencapai keempat buah seorang pertapa? Apakah para wanita karenanya akan diizinkan untuk meninggalkan rumah demi keyakinan dan pergi meninggalkan keduniawian untuk berlatih sang jalan dalam Dharma dan disiplin sejati ini?’
Ketiga kalinya Sang Bhagavā berkata kepadanya:
‘Hentikan! Hentikan, Gotamī! Janganlah berpikir demikian: “Para wanita akan diizinkan untuk meninggalkan rumah demi keyakinan dan pergi meninggalkan keduniawian untuk berlatih sang jalan dalam Dharma dan disiplin sejati ini.” Gotamī, cukurlah rambutmu seperti ini, kenakan jubah kuning, dan selama sisa hidupmu jalankanlah kehidupan suci dalam kemurnian.’
Kemudian Mahāpajāpatī Gotamī, setelah ditolak oleh Sang Buddha untuk ketiga kalinya, memberikan penghormatan pada kaki Sang Buddha, mengelilingi beliau tiga kali, dan pergi.
Lalu Mahāpajāpatī Gotamī berdiri di luar pintu masuk sambil menangis dalam dukacita yang mendalam, sepenuhnya diliputi oleh kekotoran, kaki telanjangnya berlumpur dan kotor karena perjalanan itu. Yang Mulia Ānanda, ketika melihat Mahāpajāpatī Gotamī berdiri di luar sambil menangis dalam dukacita yang mendalam, sepenuhnya diliputi oleh kekotoran, kaki telanjangnya berlumpur dan kotor, bertanya, “Gotamī, mengapakah engkau berdiri di luar pintu masuk sambil menangis dalam kesedihan yang mendalam, sepenuhnya diliputi oleh kekotoran, kaki telanjangmu berlumpur dan kotor?”
Mahāpajāpatī Gotamī menjawab, “Yang Mulia Ānanda, ini karena para wanita tidak diizinkan untuk meninggalkan rumah demi keyakinan dan pergi meninggalkan keduniawian untuk berlatih sang jalan dalam Dharma dan disiplin sejati ini.”
Yang Mulia Ānanda berkata, “Gotamī, tunggulah di sini. Aku akan pergi menemui Sang Buddha untuk berbicara kepada beliau tentang hal ini.”
Mahāpajāpatī Gotamī menjawab, “Baik, tentu saja, Yang Mulia Ānanda.”
Kemudian, Yang Mulia Ānanda pergi menemui Sang Buddha serta memberikan penghormatan dengan kepalanya pada kaki Sang Buddha. Ia merentangkan tangannya dengan telapak tangan disatukan terhadap Sang Buddha dan berkata:
‘Sang Bhagavā, apakah para wanita dapat mencapai keempat buah seorang pertapa? Apakah para wanita karenanya akan diizinkan untuk meninggalkan rumah demi keyakinan dan pergi meninggalkan keduniawian untuk berlatih sang jalan dalam Dharma dan disiplin sejati ini?’
Sang Bhagavā berkata kepadanya:
‘Hentikan! Hentikan, Ānanda! Janganlah berpikir demikian: “Para wanita akan diizinkan untuk meninggalkan keduniawian untuk berlatih sang jalan dalam Dharma dan disiplin sejati ini.” Ānanda, jika para wanita diizinkan untuk meninggalkan rumah demi keyakinan dan pergi meninggalkan keduniawian untuk berlatih sang jalan dalam Dharma dan disiplin sejati ini, kehidupan suci tidak akan bertahan lama. Ānanda, seperti halnya dalam sebuah keluarga dengan banyak perempuan dan sedikit laki-laki: apakah keluarga ini akan makmur?’
Yang Mulia Ānanda berkata, “Tidak, Sang Bhagavā.”
Sang Bhagavā berkata:
‘Dengan cara yang sama, Ānanda, jika para wanita diizinkan untuk meninggalkan rumah demi keyakinan dan pergi meninggalkan keduniawian untuk berlatih sang jalan dalam Dharma dan disiplin sejati ini, kehidupan suci tidak akan bertahan lama.
‘Ānanda, seperti halnya dalam sawah dan ladang gandum: jika gulma tumbuh, lahan itu akan hancur. Dengan cara yang sama, Ānanda, jika para wanita diizinkan untuk meninggalkan meninggalkan rumah demi keyakinan dan pergi meninggalkan keduniawian untuk berlatih sang jalan dalam Dharma dan disiplin sejati ini, kehidupan suci tidak akan bertahan lama.’
Yang Mulia Ānanda berkata lebih lanjut:
‘Sang Bhagavā, Mahāpajāpatī Gotamī telah sangat memberikan manfaat kepada Sang Bhagavā. Mengapakah demikian? Setelah ibu Sang Bhagavā meninggal, Mahāpajāpatī Gotamī membesarkan Sang Bhagavā.’
Sang Bhagavā berkata:
‘Demikianlah, Ānanda, demikianlah, Ānanda. Mahāpajāpatī Gotamī sangat memberikan manfaat kepadaku; ia membesarkanku setelah ibuku meninggal. Tetapi, Ānanda, aku juga sangat memberikan manfaat kepada Mahāpajāpatī Gotamī. Mengapakah demikian?
‘Ānanda, karena aku Mahāpajāpatī Gotamī mengambil perlindungan kepada Buddha, Dharma, dan Sangha, tidak memiliki keragu-raguan tentang tiga hal yang layak dihormati ini, dan tidak memiliki keragu-raguan tentang empat kebenaran tentang dukkha, munculnya, lenyapnya, dan sang jalan. Ia sempurna dalam keyakinan, menjaga moralitas, memiliki pengetahuan luas, sempurna dalam memberi, dan telah mencapai kebijaksanaan. Ia menghindari diri dari membunuh, telah meninggalkan pembunuhan. Ia menghindari diri dari mengambil apa yang tidak diberikan, telah meninggalkan pengambilan apa yang tidak diberikan. Ia menghindari diri dari perbuatan seksual yang salah, telah meninggalkan perbuatan seksual yang salah. Ia menghindari diri dari ucapan salah, telah meninggalkan ucapan salah. Ia menghindari diri dari minuman keras, telah meninggalkan minuman keras.
‘Ānanda, jika karena orang lain, seseorang mengambil perlindungkan kepada Buddha, Dharma, dan Sangha, tidak memiliki keragu-raguan tentang tiga hal yang layak dihormati ini, dan tidak memiliki keragu-raguan tentang empat kebenaran tentang dukkha, munculnya, lenyapnya, dan jalan menuju lenyapnya, sempurna dalam keyakinan, menjaga moralitas, memiliki pengetahuan luas, sempurna dalam memberi, dan telah mencapai kebijaksanaan; jika orang itu menghindari diri dari membunuh, telah meninggalkan pembunuhan; menghindari diri dari mengambil apa yang tidak diberikan, telah meninggalkan pengambilan apa yang tidak diberikan; menghindari diri dari perbuatan seksual yang salah, telah meninggalkan perbuatan seksual yang salah; menghindari diri dari ucapan salah, telah meninggalkan ucapan salah; menghindari diri dari minuman keras, telah meninggalkan minuman keras – maka, Ānanda, bahkan jika seseorang memberikan persembahan kepada orang itu dengan pakaian dan selimut, makanan dan minuman, tempat tidur dan seprai, serta obat-obatan, semua kebutuhan hidup, selama sisa hidupnya, ia tidak dapat membalas kebaikan ini.
‘Ānanda, bagi para wanita aku sekarang akan menetapkan delapan aturan untuk dihormati, yang tidak boleh dilanggar para wanita tetapi harus dijunjung tinggi sampai akhir hidup mereka. Ānanda, seperti halnya seorang nelayan atau muridnya dapat membuat sebuah tanggul dalam perairan yang dalam untuk mencegah air masuk dan tidak membiarkannya mengalir keluar, dengan cara yang sama, Ānanda, aku sekarang menetapkan delapan aturan untuk dihormati, yang tidak boleh dilanggar para wanita tetapi harus dijunjung tinggi sampai akhir hidup mereka. Apakah delapan hal ini?
‘Ānanda, seorang bhikkhuni harus meminta penahbisan penuh dari para bhikkhu. Ānanda, ini adalah aturan pertama untuk dihormati yang kutetapkan untuk para wanita, yang tidak boleh dilanggar para wanita tetapi harus dijunjung tinggi sampai akhir hidup mereka.
‘Ānanda, seorang bhikkhuni harus meminta pengajaran setiap setengah bulan dari para bhikkhu. Ānanda, ini adalah aturan kedua untuk dihormati yang kutetapkan untuk para wanita, yang tidak boleh dilanggar para wanita tetapi harus dijunjung tinggi sampai akhir hidup mereka.
‘Ānanda, seorang bhikkhuni tidak diperbolehkan untuk menghabiskan pengasingan musim hujan di daerah di mana tidak ada bhikkhu. Ānanda, ini adalah aturan ketiga untuk dihormati yang kutetapkan untuk para wanita, yang tidak boleh dilanggar para wanita tetapi harus dijunjung tinggi sampai akhir hidup mereka.
‘Ānanda, ketika seorang bhikkhuni telah menyelesaikan pengasingan musim hujan, ia harus meminta dalam kedua perkumpulan tentang tiga hal: meminta tentang apa yang telah dilihat, apa yang telah didengar, dan apa yang telah dicurigai. Ānanda, ini adalah aturan keempat untuk dihormati yang kutetapkan untuk para wanita, yang tidak boleh dilanggar para wanita tetapi harus dijunjung tinggi sampai akhir hidup mereka.
‘Ānanda, jika seorang bhikkhu belum memberikan izin untuk bertanya tentang kotbah-kotbah, disiplin, atau Abhidharma, maka bhikkhuni itu tidak diperbolehkan menanyakan bhikkhu itu tentang hal-hal tersebut. Hanya jika bhikkhu itu memberikan izin kepadanya untuk bertanya tentang kotbah-kotbah, disiplin, atau Abhidharma ia diperbolehkan bertanya. Ānanda, ini adalah aturan kelima untuk dihormati yang kutetapkan untuk para wanita, yang tidak boleh dilanggar para wanita tetapi harus dijunjung tinggi sampai akhir hidup mereka.
‘Ānanda, seorang bhikkhuni tidak diperbolehkan untuk menunjukkan pelanggaran seorang bhikkhu tetapi seorang bhikkhu diperbolehkan untuk menunjukkan pelanggaran seorang bhikkhuni. Ānanda, ini adalah aturan keenam untuk dihormati yang kutetapkan untuk para wanita, yang tidak boleh dilanggar para wanita tetapi harus dijunjung tinggi sampai akhir hidup mereka.
‘Ānanda, jika seorang bhikkhuni melakukan pelanggaran berat (saṅghādisesa), ia harus menjalani hukuman di hadapan kedua perkumpulan selama lima belas hari. Ānanda, ini adalah aturan ketujuh untuk dihormati yang kutetapkan untuk para wanita, yang tidak boleh dilanggar para wanita tetapi harus dijunjung tinggi sampai akhir hidup mereka.
‘Ānanda, bahkan jika seorang bhikkhuni telah menerima penahbisan penuh selama seratus tahun ia masih harus bersujud dengan rendah hati di hadapan seorang bhikkhu yang baru saja ditahbiskan, bersikap hormat dan patuh, dan memberikan salam kepadanya dengan merentangkan tangannya dengan telapak tangan disatukan. Ānanda, ini adalah aturan kedelapan untuk dihormati yang kutetapkan untuk para wanita, yang tidak boleh dilanggar para wanita tetapi harus dijunjung tinggi sampai akhir hidup mereka.
‘Ānanda, aku menetapkan bagi para wanita delapan aturan untuk dihormati ini, yang tidak boleh dilanggar para wanita tetapi harus dijunjung tinggi sampai akhir hidup mereka. Ānanda, jika Mahāpajāpatī Gotamī menjunjung tinggi delapan aturan untuk dihormati ini, maka ini adalah peninggalan rumahnya demi keyakinan, pergi meninggalkan keduniawian untuk berlatih dalam Dharma dan disiplin sejati ini, memperoleh penahbisan penuh, dan menjadi seorang bhikkhuni.’
Kemudian Yang Mulia Ānanda, setelah mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, menerimanya dengan baik, mengingatnya dengan baik, memberikan penghormatan pada kaki Sang Buddha, mengelilingi beliau tiga kali, dan pergi. Ia pergi menemui Mahāpajāpatī Gotamī dan berkata kepadanya:
‘Gotamī, para wanita diizinkan untuk meninggalkan rumah demi keyakinan dan pergi meninggalkan keduniawian untuk berlatih sang jalan dalam Dharma dan disiplin sejati ini. Mahāpajāpatī Gotamī, Sang Bhagavā telah menetapkan delapan aturan untuk dihormati, yang tidak boleh dilanggar para wanita tetapi harus dijunjung tinggi sampai akhir hidup mereka. Apakah delapan hal ini?
‘Gotamī, seorang bhikkhuni harus meminta penahbisan penuh dari para bhikkhu. Gotamī, ini adalah aturan pertama untuk dihormati yang ditetapkan Sang Bhagavā untuk para wanita, yang tidak boleh dilanggar para wanita tetapi harus dijunjung tinggi sampai akhir hidup mereka.
‘Gotamī, seorang bhikkhuni harus meminta pengajaran setiap setengah bulan dari para bhikkhu. Gotamī, ini adalah aturan kedua untuk dihormati yang ditetapkan Sang Bhagavā untuk para wanita, yang tidak boleh dilanggar para wanita tetapi harus dijunjung tinggi sampai akhir hidup mereka.
‘Gotamī, seorang bhikkhuni tidak diperbolehkan untuk menghabiskan pengasingan musim hujan di daerah di mana tidak ada bhikkhu. Gotamī, ini adalah aturan ketiga untuk dihormati yang ditetapkan Sang Bhagavā untuk para wanita, yang tidak boleh dilanggar para wanita tetapi harus dijunjung tinggi sampai akhir hidup mereka.
‘Gotamī, ketika seorang bhikkhuni menyelesaikan pengasingan musim hujan ia harus meminta dalam kedua perkumpulan tentang tiga hal: meminta tentang apa yang telah dilihat, apa yang telah didengar, dan apa yang telah dicurigai. Gotamī, ini adalah aturan keempat untuk dihormati yang ditetapkan Sang Bhagavā untuk para wanita, yang tidak boleh dilanggar para wanita tetapi harus dijunjung tinggi sampai akhir hidup mereka.
‘Gotamī, jika seorang bhikkhu belum memberikan seorang bhikkhuni izin untuk bertanya tentang kotbah-kotbah, disiplin, atau Abhidharma, maka bhikkhu itu tidak diperbolehkan menanyakan bhikkhu itu tentang hal-hal tersebut. Hanya jika bhikkhu itu memberikan izin kepadanya untuk bertanya tentang kotbah-kotbah, disiplin, atau Abhidharma ia diperbolehkan bertanya. Gotamī, ini adalah aturan kelima untuk dihormati yang ditetapkan Sang Bhagavā untuk para wanita, yang tidak boleh dilanggar para wanita tetapi harus dijunjung tinggi sampai akhir hidup mereka.
‘Gotamī, seorang bhikkhuni tidak diperbolehkan untuk menunjukkan pelanggaran seorang bhikkhu tetapi seorang bhikkhu diperbolehkan untuk menunjukkan pelanggaran seorang bhikkhuni. Gotamī, ini adalah aturan keenam untuk dihormati yang ditetapkan Sang Bhagavā untuk para wanita, yang tidak boleh dilanggar para wanita tetapi harus dijunjung tinggi sampai akhir hidup mereka.
‘Gotamī, jika seorang bhikkhuni melakukan pelanggaran berat, ia harus menjalani hukuman di hadapan kedua perkumpulan selama lima belas hari. Gotamī, ini adalah aturan ketujuh untuk dihormati yang ditetapkan Sang Bhagavā untuk para wanita, yang tidak boleh dilanggar para wanita tetapi harus dijunjung tinggi sampai akhir hidup mereka.
‘Gotamī, bahkan jika seorang bhikkhuni telah menerima penahbisan penuh selama seratus tahun ia masih harus bersujud dengan rendah hati di hadapan seorang bhikkhu yang baru saja ditahbiskan, bersikap hormat dan patuh, dan memberikan salam kepadanya, dengan merentangkan tangannya dengan telapak tangan disatukan. Gotamī, ini adalah aturan kedelapan untuk dihormati yang ditetapkan Sang Bhagavā untuk para wanita, yang tidak boleh dilanggar para wanita tetapi harus dijunjung tinggi sampai akhir hidup mereka.
‘Gotamī, Sang Bhagavā telah menetapkan delapan aturan untuk dihormati ini, yang tidak boleh dilanggar para wanita tetapi harus dijunjung tinggi sampai akhir hidup mereka. Gotamī, Sang Bhagavā berkata demikian: “Jika Mahāpajāpatī Gotamī menjunjung tinggi delapan aturan untuk dihormati ini, maka ini adalah peninggalan rumahnya demi keyakinan dan pergi meninggalkan keduniawian untuk berlatih sang jalan dalam Dharma dan disiplin sejati ini, memperoleh penahbisan penuh, dan menjadi seorang bhikkhuni.”’
Atas hal ini Mahāpajāpatī Gotamī berkata:
‘Yang Mulia Ānanda, dengarkanlah seraya aku memberitahukanmu sebuah perumpamaan. Para bijaksana, ketika mendengarkan sebuah perumpamaan, memahami maknanya.
‘Yang Mulia Ānanda, seperti halnya ketika seorang wanita ksatria, seorang wanita brahmana, seorang wanita perumah tangga, atau seorang wanita pekerja, yang cantik dan menarik, setelah membersihkan dan memandikan dirinya sendiri dan meminyaki tubuhnya dengan minyak wangi, dapat mengenakan pakaian bersih yang cemerlang, dan menghiasi dirinya dengan kalung yang terbuat dari berbagai jenis batu berharga. Seumpamanya seseorang, yang merasa bersikap baik terhadap wanita ini dan ingin memberinya manfaat dan membuatnya bahagia, kemudian memberikannya kalungan bunga seroja, kalungan bunga champak, kalungan bunga melati besar (sumanā), kalungan bunga melati Arab (vassikā), atau kalungan bunga mawar. Wanita itu akan bergembira dan menerimanya dengan kedua tangan dan menghiasi kepalanya dengan kalungan bunga itu.
‘Dengan cara yang sama, Yang Mulia Ānanda, Sang Bhagavā telah menetapkan bagi para wanita delapan aturan untuk dihormati dan aku menerimanya pada kepalaku dan akan menjunjung tingginya sampai akhir hidupku.’
Kemudian Mahāpajāpatī Gotamī pergi meninggalkan keduniawian untuk berlatih sang jalan dalam Dharma dan disiplin sejati ini, menerima penahbisan penuh, dan menjadi seorang bhikkhuni.
Pada waktu belakangan, Mahāpajāpatī Gotamī diikuti dan dikelilingi oleh sekumpulan besar bhikkhuni. Ditemani oleh berbagai bhikkhuni senior dan sangat dihormati yang dikenal oleh raja, dan yang telah menjalankan kehidupan suci selama waktu yang lama, ia mendekati Yang Mulia Ānanda.
Setelah memberikan penghormatan kepada Yang Mulia Ānanda dan mengundurkan diri pada satu sisi, ia berkata:
‘Yang Mulia Ānanda seharusnya mengetahui bahwa ini adalah para bhikkhuni senior dan sangat dihormati, yang dikenal oleh raja, dan yang telah menjalankan kehidupan suci selama waktu yang lama. Terdapat para bhikkhu muda, baru dalam pelatihan, yang baru saja pergi meninggalkan keduniawian dan memasuki Dharma dan disiplin sejati ini, yang memulai latihan ini tak lama yang lalu. Kami berharap bahwa para bhikkhu tersebut seharusnya diperintahkan untuk memberikan penghormatan kepada para bhikkhuni ini berdasarkan senioritas mereka, sehingga mereka seharusnya menunjukkan penghormatan dan penghargaan serta memberi salam kepada para bhikkhu ini dengan merentangkan tangan mereka dengan telapak tangan disatukan.’
Atas hal ini Yang Mulia Ānanda berkata, “Gotamī, tunggulah di sini. Aku akan pergi menemui Sang Buddha dan menanyakan beliau tentang hal ini.”
Mahāpajāpatī Gotamī berkata, “Baik, Yang Mulia Ānanda.”
Kemudian Yang Mulia Ānanda pergi menemui Sang Buddha, memberikan penghormatan pada kaki Sang Buddha dan mengundurkan diri pada satu sisi. Merentangkan tangannya dengan telapak tangan disatukan, ia berkata kepada Sang Buddha:
‘Sang Bhagavā, Mahāpajāpatī Gotamī, ditemani oleh berbagai bhikkhuni senior dan sangat dihormati yang dikenal oleh raja dan yang telah menjalankan kehidupan suci selama waktu yang lama, mendatangiku hari ini. Setelah memberikan penghormatan pada kakiku dan berdiri pada satu sisi dengan telapak tangan disatukan, ia berkata kepadaku, “Yang Mulia Ānanda, para bhikkhuni senior dan sangat dihormati ini dikenal oleh raja dan telah menjalankan kehidupan suci selama waktu yang lama. Terdapat para bhikkhu muda, baru dalam pelatihan, yang baru saja pergi meninggalkan keduniawian dan memasuki Dharma dan disiplin sejati ini, yang memulai latihan ini tak lama yang lalu. Kami berharap bahwa para bhikkhu tersebut seharusnya diperintahkan untuk memberikan penghormatan kepada para bhikkhuni ini berdasarkan senioritas mereka, sehingga mereka seharusnya menunjukkan penghormatan dan penghargaan serta memberi salam kepada para bhikkhu ini dengan merentangkan tangan mereka dengan telapak tangan disatukan.”’
Sang Bhagavā berkata:
‘Hentikan! Hentikan, Ānanda! Jagalah perkataanmu, janganlah berkata seperti ini! Ānanda, jika engkau mengetahui apa yang kuketahui, engkau tidak akan mengatakan sepatah kata pun tentang hal ini, apalagi berkata seperti ini.
‘Ānanda, jika para wanita tidak diizinkan untuk meninggalkan rumah demi keyakinan dan pergi meninggalkan keduniawian untuk berlatih sang jalan dalam Dharma dan disiplin ini, maka para brahmana dan perumah tangga akan membentangkan pakaian mereka di atas tanah dan berkata, “Para pertapa yang tekun, berjalanlah di atas ini! Para pertapa yang tekun berlatih apa yang sulit dilatih. Berikanlah kami manfaat dan perolehan yang bertahan lama, kedamaian dan kebahagiaan dengan melangkah di atas pakaian ini!”
‘Ānanda, jika para wanita tidak diizinkan untuk meninggalkan rumah demi keyakinan dan pergi meninggalkan keduniawian untuk berlatih sang jalan dalam Dharma dan disiplin ini, maka para brahmana dan perumah tangga akan membentangkan rambut mereka di atas tanah dan berkata, “Para pertapa yang tekun, berjalanlah di atas ini! Para pertapa yang tekun berlatih apa yang sulit dilatih. Berikanlah kami manfaat dan perolehan yang bertahan lama, kedamaian dan kebahagiaan dengan melangkah di atas rambut ini!”
‘Ānanda, jika para wanita tidak diizinkan untuk meninggalkan rumah demi keyakinan dan pergi meninggalkan keduniawian untuk berlatih sang jalan dalam Dharma dan disiplin ini, maka para brahmana dan perumah tangga, ketika melihat para pertapa, akan menunggu di sisi jalan sambil memegang pada tangan mereka berbagai jenis makanan dan minuman, dengan berkata, “Para yang mulia, terimalah ini, makanlah ini, ambillah ini bersama kalian dan gunakan seperti yang kalian inginkan. Berikanlah kami manfaat dan perolehan yang bertahan lama, kedamaian dan kebahagiaan!”
‘Ānanda, jika para wanita tidak diizinkan untuk meninggalkan rumah demi keyakinan dan pergi meninggalkan keduniawian untuk berlatih sang jalan dalam Dharma dan disiplin ini, maka para brahmana yang berkeyakinan, ketika melihat para pertapa yang tekun, akan dengan hormat membawa mereka pada tangan, menuntun mereka ke dalam rumah mereka, dan memegang berbagai jenis barang materi untuk diberikan kepada para pertapa itu, dengan berkata, “Para yang mulia, terimalah ini, ambillah ini bersama kalian dan gunakan seperti yang kalian inginkan! Berikanlah kami manfaat dan perolehan yang bertahan lama, kedamaian dan kebahagiaan!”
‘Ānanda, jika para wanita tidak diizinkan untuk meninggalkan rumah demi keyakinan dan pergi meninggalkan keduniawian untuk berlatih sang jalan dalam Dharma dan disiplin ini, maka bahkan matahari dan bulan, sedemikian mereka diberkahi dengan kekuatan spiritual besar, kebaikan besar, keagungan besar – bahkan mereka tidak akan sama dengan keagungan spiritual seorang pertapa yang tekun, apalagi para praktisi ajaran lain yang kurus, tanpa kehidupan.
‘Ānanda, jika para wanita tidak diizinkan untuk meninggalkan rumah demi keyakinan dan pergi meninggalkan keduniawian untuk berlatih sang jalan dalam Dharma dan disiplin ini, maka Dharma sejati ini akan bertahan seribu tahun. Sekarang umurnya telah berkurang lima ratus tahun; ia akan bertahan hanya lima ratus tahun.
‘Ānanda, engkau seharusnya mengetahui bahwa terdapat lima posisi yang tidak dapat dicapai oleh seorang wanita. Adalah tidak mungkin bagi seorang wanita menjadi seorang Tathāgata, tanpa kemelekatan dan tercerahkan sempurna; seorang raja pemutar roda; Sakka, raja para dewa; Raja Māra; atau Brahmā Agung. Ketahuilah bahwa seorang pria dapat mencapai lima keadaan ini. Adalah mungkin bahwa seorang pria dapat menjadi seorang Tathāgata, tanpa kemelekatan dan tercerahkan sempurna; seorang raja pemutar roda; Sakka, raja para dewa; Raja Māra; atau Brahmā Agung.’
Demikianlah yang diucapkan Sang Buddha. Setelah mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, Yang Mulia Ānanda dan para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.
Komentar [0]