Kisah Asal-mula
Sub-kisah pertama
Pada suatu hari ketika Sang Buddha sedang menetap di Rājagaha di Hutan Bambu, bhikkhunī Uppalavaṇṇā sedang menetap di Sāvatthī. Suatu pagi ia mengenakan jubah, membawa mangkuk dan jubahnya, dan memasuki Sāvatthī untuk mengumpulkan dana makanan. Ketika ia telah menyelesaikan perjalanan mengumpulkan dana makanan itu dan telah memakan makanannya, ia pergi ke Hutan Orang Buta, di mana ia duduk di bawah sebatang pohon untuk bermeditasi siang.
Saat itu beberapa penjahat yang telah mencuri dan menjagal seekor sapi, sedang membawa dagingnya ke Hutan Orang Buta. Pemimpin penjahat itu melihat Uppalavaṇṇā yang sedang duduk di bawah pohon itu. Ia berpikir, “Jika putra-putraku dan adik-adikku melihat bhikkhunī ini, mereka akan mengganggunya,” dan ia mengambil jalan lain. Segera setelah itu ketika daging telah dimasak, ia mengambil bagian terbaik, mengikatnya dengan pembungkus dari daun palem, menggantungnya di sebuah pohon tidak jauh dari Uppalavaṇṇā, dan berkata, “Petapa atau brahmana mana pun yang melihat pemberian ini, silakan ambil.” Dan ia pergi.
Uppalavaṇṇā baru saja keluar dari keheningan ketika ia mendengar kepala penjahat itu mengucapkan pernyataan itu. Ia mengambil daging itu dan kembali ke tempat kediamannya. Keesokan paginya ia mempersiapkan daging itu dan membuatnya menjadi buntelan dengan jubah atasnya. Kemudian ia melayang ke angkasa dan turun di Hutan Bambu.
Ketika ia tiba, Sang Buddha telah memasuki sebuah desa untuk mengumpulkan dana makanan, tetapi Yang Mulia Udāyī ditinggal untuk menjaga tempat kediaman. Uppalavaṇṇā mendekati Udāyī dan berkata, “Yang Mulia, di manakah Sang Buddha?”
“Beliau memasuki desa untuk mengumpulkan dana makanan.”
“Sudilah memberikan daging ini kepada Sang Buddha.”
“Engkau akan menggembirakan Sang Buddha dengan daging ini. Jika engkau memberikan sarungmu kepadaku, engkau akan menggembirakan aku pula.”
“Adalah sulit bagi para perempuan untuk memperoleh sokongan bahan-bahan, dan ini adalah satu dari lima jubahku. Aku tidak memiliki yang lainnya. Aku tidak bisa memberikannya.”
“Saudari, seperti halnya seorang yang memberikan seekor gajah harus menghiasnya dengan sabuk pinggang, demikian pula engkau, ketika memberikan daging kepada Sang Buddha, harus menghias aku dengan sarungmu.”
Karena didesak oleh Udāyī, Uppalavaṇṇā memberikan sarungnya kepada Udāyī dan kemudian kembali ke tempat kediamannya. Para bhikkhunī yang menerima mangkuk dan jubah Uppalavaṇṇā, menanyakan kepadanya di mana sarungnya. Dan ia memberitahu mereka apa yang telah terjadi. Para bhikkhunī mengeluhkan dan mengkritik Udāyī, “Bagaimana mungkin Yang Mulia Udāyī menerima jubah dari seorang bhikkhunī? Adalah sulit bagi para perempuan untuk memperoleh sokongan bahan-bahan.”
Para bhikkhunī memberitahu para bhikkhu. Para bhikkhu yang memiliki sedikit keinginan mengeluhkan dan mengkritik Udāyī, “Bagaimana mungkin Yang Mulia Udāyī menerima jubah dari seorang bhikkhunī?”
Setelah menegurnya dalam berbagai cara, mereka memberitahu Sang Buddha. Segera setelah itu Sang Buddha mengumpulkan Sangha dan menanyai Udāyī: “Benarkah, Udāyī, bahwa engkau melakukan hal ini?”
“Benar, Yang Mulia.”
“Apakah ia kerabatmu?”
“Bukan.”
“Orang dungu, seorang laki-laki dan seorang perempuan yang bukan kerabat tidak mengetahui apa yang selayaknya dan apa yang tidak selayaknya, apa yang baik dan buruk, dalam berurusan satu sama lain. Dan masih saja engkau melakukan hal ini. Hal ini akan mempengaruhi keyakinan orang-orang …” … “Dan, para bhikkhu, aturan latihan ini harus dibacakan sebagai berikut:
Aturan awal
‘Jika seorang bhikkhu menerima jubah secara langsung dari seorang bhikkhunī yang bukan kerabat, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan pelepasan dan pengakuan.’”
Demikianlah Sang Buddha menetapkan aturan latihan ini untuk para bhikkhu.
Sub-kisah kedua
Kemudian, karena takut melakukaan perbuatan salah, para bhikkhu tidak menerima jubah dari para bhikkhunī walaupun dalam pertukaran. Para bhikkhunī mengeluhkan dan mengkritik mereka, “Bagaimana mungkin mereka tidak menerima jubah-jubah dari kami dalam pertukaran?”
Para bhikkhu mendengar kritikan para bhikkhunī itu dan mereka memberitahu Sang Buddha. Segera setelah itu Sang Buddha membabarkan ajaran dan berkata kepada para bhikkhu:
“Para bhikkhu, Aku memperbolehkan kalian untuk menerima benda-benda dalam pertukaran dengan lima jenis orang: para bhikkhu, para bhikkhunī, para bhikkhunī percobaan, para sāmaṇera, dan para sāmaṇerī.
Aturan akhir
‘Jika seorang bhikkhu menerima jubah secara langsung dari seorang bhikkhunī yang bukan kerabat, kecuali dalam pertukaran, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan pelepasan dan pengakuan.’”
Definisi
Seorang:
siapa pun …
Bhikkhu:
… Seorang bhikkhu yang telah diberikan penahbisan penuh oleh Sangha yang sepakat melalui prosedur sah yang terdiri dari satu usul dan tiga pengumuman yang tidak dapat dibatalkan dan lengkap—bhikkhu jenis inilah yang dimaksudkan dalam kasus ini.
Bukan kerabat:
siapa pun yang bukan keturunan dari leluhur laki-laki hingga delapan generasi sebelumnya, apakah dari pihak ibu atau dari pihak ayah.
Seorang bhikkhunī:
ia telah diberikan penahbisan penuh oleh kedua Sangha.
Jubah:
salah satu dari enam jenis kain-jubah, tetapi tidak lebih kecil daripada apa yang dapat dialokasikan untuk orang lain.
Kecuali dalam pertukaran:
kecuali jika ada pertukaran.
Jika ia menerimanya, maka untuk usaha itu terjadi tindakan perbuatan salah. Ketika ia mendapatkan kain-jubah itu, maka itu harus dilepaskan.
Kain-jubah itu harus dilepaskan kepada suatu sangha, suatu kelompok, atau individu. “Dan, para bhikkhu, kain-jubah itu harus dilepaskan seperti berikut. (Diuraikan seperti pada Pelepasan 1, dengan penyesuaian seperlunya.)
‘Para Mulia, kain-jubah ini, yang aku terima secara langsung dari seorang bhikkhunī yang bukan kerabat tanpa apa pun sebagai pertukaran, akan dilepaskan. Aku melepaskannya kepada Sangha.’ … Sangha harus mengembalikan … kalian harus mengembalikan … ‘Aku mengembalikan kain-jubah ini kepadamu.’”
Permutasi
Jika bhikkhunī tersebut bukan kerabat dan si bhikkhu menyadarinya demikian, dan ia menerima kain-jubah dari bhikkhunī tersebut, kecuali sebagai pertukaran, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan pelepasan dan pengakuan. Jika bhikkhunī tersebut bukan kerabat, tetapi si bhikkhu tidak dapat memastikannya, dan ia menerima kain-jubah dari bhikkhunī tersebut, kecuali sebagai pertukaran, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan pelepasan dan pengakuan. Jika bhikkhunī tersebut bukan kerabat, tetapi si bhikkhu menyadarinya sebagai kerabat, dan ia menerima kain-jubah dari bhikkhunī tersebut, kecuali sebagai pertukaran, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan pelepasan dan pengakuan.
Jika si bhikkhu menerima kain-jubah dari seorang bhikkhunī yang sepenuhnya ditahbiskan hanya dari satu sisi, kecuali sebagai pertukaran, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika bhikkhunī tersebut adalah kerabat, tetapi ia menyadarinya sebagai bukan kerabat, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika bhikkhunī tersebut adalah kerabat, tetapi ia tidak dapat memastikannya, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika bhikkhunī tersebut adalah kerabat dan ia menyadarinya demikian, maka tidak ada pelanggaran.
Tidak ada pelanggaran
Tidak ada pelanggaran: jika bhikkhunī itu adalah kerabat; jika banyak ditukarkan dengan sedikit, atau sedikit ditukarkan dengan banyak; jika bhikkhu itu mengambilnya atas dasar kepercayaan; jika ia meminjamnya; jika ia menerima benda kebutuhan apa pun selain kain-jubah; jika itu adalah seorang bhikkhunī percobaan; jika itu adalah seorang sāmaṇerī; jika ia gila; jika ia adalah pelaku pertama.
Aturan latihan tentang menerima jubah, yang kelima, selesai.
Komentar [0]