Memuat

Terjemahan [4]

Aturan Latihan tentang Petapa Telanjang

Kisah Asal-mula

Pada suatu ketika Sang Buddha sedang menetap di aula beratap lancip di Hutan Besar di dekat Vesālī, Sangha memiliki makanan segar berlimpah. Yang Mulia Ānanda memberitahu Sang Buddha, yang berkata, “Baiklah, Ānanda, berikanlah kue-kue itu kepada mereka yang mengambil sisa-sisa.”

“Baik, Yang Mulia.” Ānanda mengatur mereka duduk berbaris dan memberikan mereka masing-masing satu kue, hingga ia secara tidak sengaja memberikan dua kue kepada seorang pengembara perempuan. Para pengembara perempuan yang duduk di sebelahnya berkata kepadanya, “Monastik ini adalah kekasihmu.”

“Bukan, ia memberiku dua, karena berpikir itu adalah satu.”

Dan untuk kedua kalinya … Dan untuk ketiga kalinya Ānanda memberikan mereka masing-masing satu kue, hingga ia secara tidak sengaja memberikan dua kue kepada pengembara perempuan yang sama. Sekali lagi pengembara perempuan yang duduk di sebelahnya berkata kepadanya, “Monastik ini adalah kekasihmu.”

“Bukan, ia memberiku dua, karena berpikir itu adalah satu.”

Dan mereka mulai berdebat tentang apakah mereka adalah kekasih atau bukan.

Seorang Ājīvaka tertentu juga mendatangi pembagian makanan itu. Seorang bhikkhu mencampur nasi dengan sejumlah besar minyak samin dan memberikan sebongkah besar kepadanya. Ia mengambilnya dan pergi. Seorang Ājivaka lainnya bertanya kepadanya, “Dari manakah engkau mendapatkan bongkahan itu?”

“Dari pembagian makanan petapa Gotama, perumah tangga berkepala-gundul itu.”

Beberapa umat awam mendengarkan percakapan antara para petapa Ājīvaka itu. Kemudian mereka menghadap Sang Buddha, bersujud, duduk, dan berkata, “Yang Mulia, para monastik agama lain itu ingin merendahkan Sang Buddha, Ajaran, dan Sangha. Baik sekali jika para bhikkhu tidak memberikan apa pun kepada para monastik agama lain dengan tangan mereka sendiri.”

Setelah Sang Budha memberikan instruksi, menginspirasi, menggembirakan umat-umat awam itu dengan suatu ajaran, mereka bangkit dari duduk, bersujud, mengelilingi Sang Buddha dengan sisi kanan mereka menghadap Beliau, dan pergi. Segera setelah itu Sang Buddha membabarkan ajaran dan berkata kepada para bhikkhu: “Baiklah, para bhikkhu, Aku akan menetapkan aturan latihan untuk sepuluh alasan berikut ini: demi kesejahteraan Sangha, demi kenyamanan Sangha, demi pengekangan orang-orang jahat, demi kemudahan para bhikkhu berperilaku baik, untuk mengekang kekotoran sehubungan dengan kehidupan saat ini, untuk mengekang kekotoran sehubungan dengan kehidupan mendatang, untuk memunculkan keyakinan pada mereka yang tidak berkeyakinan, untuk meningkatkan keyakinan pada mereka yang telah berkeyakinan, demi panjangnya umur Ajaran sejati, dan demi mendukung latihan. Dan, para bhikkhu, aturan latihan ini harus dibacakan seperti berikut:

Aturan akhir

‘Jika seorang bhikkhu memberikan makanan segar atau matang kepada seorang petapa telanjang, kepada seorang pengembara laki-laki, atau kepada seorang pengembara perempuan dengan tangannya sendiri, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan.’”

Definisi

Seorang:

Siapa pun

Bhikkhu:

… Seorang bhikkhu yang telah diberikan penahbisan penuh oleh Sangha yang sepakat melalui prosedur sah yang terdiri dari satu usul dan tiga pengumuman yang tidak dapat dibatalkan dan lengkap—bhikkhu jenis inilah yang dimaksudkan dalam kasus ini.

Petapa telanjang:

Pengembara mana pun yang telanjang.

Pengembara laki-laki:

Pengembara laki-laki mana pun selain daripada para bhikkhu Buddhis, dan sāmaṇera.

Pengembara perempuan:

Pengembara perempuan mana pun selain dari para bhikkhunī Buddhis, para bhikkhunī percobaan, dan para sāmaṇerī.

Makanan segar:

Selain daripada lima makanan matang, air dan pembersih gigi, yang lainnya disebut “makanan segar”.

Makanan matang:

Ada lima jenis makanan matang: gandum matang, bubur , produk tepung, ikan, dan daging.

Memberikan:

Jika ia memberikan dengan tubuhnya atau dengan apa yang terhubung dengan tubuhnya atau dengan melepaskan, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan.

Permutasi

Jika itu adalah monastik agama lain, dan ia menyadarinya sebagai monastik agama lain, dan ia memberikan mereka makanan segar atau matang dengan tangannya sendiri, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan. Jika itu adalah monastik agama lain, tetapi ia tidak dapat memastikannya, dan ia memberikan mereka makanan segar atau matang dengan tangannya sendiri, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan. Jika itu adalah monastik agama lain, tetapi ia tidak menyadarinya sebagai monastik agama lain, dan ia memberikan mereka makanan segar atau matang dengan tangannya sendiri, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan.

Jika ia memberikan air atau pembersih gigi, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika itu bukan monastik agama lain, tetapi ia menyadarinya sebagai monastik agama lain, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika itu bukan monastik agama lain, tetapi ia tidak dapat memastikannya, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika itu bukan monastik agama lain, dan ia tidak menyadarinya sebagai monastik agama lain, maka tidak ada pelanggaran.

Tidak ada pelanggaran

Tidak ada pelanggaran: Jika ia tidak memberikan, tetapi menyuruh orang lain memberikan; jika ia memberikan dengan meletakkannya di dekat orang itu; jika ia memberikan salep untuk kegunaan luar; jika ia gila; jika ia adalah pelaku pertama.

Aturan latihan tentang petapa telanjang, yang pertama, selesai

Komentar [0]