Memuat

Terjemahan [5]

Aturan Latihan tentang Benda-Benda Berharga

Kisah Asal-mula

Sub-kisah pertama

Pada suatu hari ketika Sang Buddha sedang menetap di Sāvatthī di Vihara Anāthapiṇḍika, seorang bhikkhu sedang mandi di sungai Aciravatī, ketika seorang brahmana juga datang ke sana untuk mandi. Ia meletakkan sebuah tas berisi lima ratus keping di atas tanah, mandi, lupa pada tas tersebut, dan pergi. Bhikkhu itu berpikir, “Ini adalah tas milik brahmana itu; tidaklah baik jika hilang,” dan ia memungutnya.

Segera sang brahmana teringat. Ia bergegas kembali dan bertanya kepada bhikkhu itu, “Yang Mulia, apakah engkau melihat tasku?”

Dengan menjawab, “Ya aku melihatnya,” ia menyerahkannya kepadanya.

Si brahmama berpikir, “Bagaimanakah agar aku terhindari dari memberikan imbalan kepada bhikkhu ini?” Dan ia berkata, “Aku bukan memiliki lima ratus keping, melainkan seribu keping!” dan ia menangkap bhikkhu tersebut.

Setelah dilepaskan, bhikkhu itu kembali ke vihara dan memberitahu para bhikkhu apa yang telah terjadi. Para bhikkhu yang memiliki sedikit keinginan mengeluhkan dan mengkritiknya, “Bagaimana mungkin seorang bhikkhu memungut benda-benda berharga?” … “Benarkah, bhikkhu, bahwa engkau melakukan hal ini?”

“Benar, Yang Mulia.”

Sang Buddha menegurnya … “Orang dungu, bagaimana mungkin engkau melakukan hal ini? Hal ini akan mempengaruhi keyakinan orang-orang …” … “Dan, para bhikkhu, aturan latihan ini harus dibacakan sebagai berikut:

Aturan awal pertama

‘Jika seorang bhikkhu memungut benda-benda berharga atau sesuatu yang dianggap berharga, atau ia menyuruh orang lain memungutnya, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan.’”

Dengan cara inilah Sang Buddha menetapkan aturan latihan ini untuk para bhikkhu.

Sub-kisah kedua

Tidak lama kemudian mereka sedang mengadakan perayaan di Sāvatthī, dengan orang-orang pergi ke taman berpakaian indah, seperti juga Visākhā Migāramātā. Ketika ia meninggalkan desanya, ia berpikir, “Apakah yang akan kulakukan ketika aku sampai di taman? Mengapa aku tidak mengunjungi Sang Buddha!” kemudian ia melepaskan semua perhiasannya, mengikatnya dalam satu buntelan dengan jubah atasnya, dan memberikannya kepada seorang gadis budak, dengan mengatakan, “Dengar! jagalah buntelan ini.”

Kemudian Visākā mendatangi Sang Buddha, bersujud, dan duduk. Dan Sang Buddha memberikan instruksi, menginspirasi, dan menggembirakannya dengan suatu ajaran, setelah itu ia bangkit dari duduknya, bersujud, mengelilingi Beliau dengan sisi kanannya menghadap Beliau, dan pergi. Dan si gadis budak juga pergi, lupa pada buntelan itu.

Para bhikkhu melihatnya dan memberitahu Sang Buddha. “Baiklah, para bhikkhu, pungutlah dan simpan.” Segera setelah itu Sang Buddha membabarkan ajaran dan berkata kepada para bhikkhu: “Di dalam sebuah vihara, para bhikkhu, kalian harus memungut benda-benda berharga atau apa pun yang dianggap berharga, atau menyuruh orang lain memungutnya, dan kemudian menyimpannya dengan pikiran, ‘Siapa pun yang memiliki ini akan datang dan mengambilnya.’ Dan, para bhikkhu, aturan latihan ini harus dibacakan sebagai berikut:

Aturan awal kedua

‘Jika seorang bhikkhu memungut benda-benda berharga atau sesuatu yang dianggap berharga, atau ia menyuruh orang lain memungutnya, kecuali di dalam sebuah vihara, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan.’”

Dengan cara inilah Sang Buddha menetapkan aturan latihan ini untuk para bhikkhu.

Sub-kisah ketiga

Pada waktu itu perumah tangga Anāthapiṇḍika meminta seluruh desa itu untuk bekerja untuknya di negeri Kāsī, dan ia telah menyuruh seorang wakilnya di sana bahwa jika para bhikkhu tiba maka ia harus mempersiapkan makanan untuk mereka. Segera setelah itu sejumlah bhikkhu sedang mengembara di negeri Kāsī, ketika mereka sampai di desa itu. Ketika orang itu melihat mereka datang, ia mendatangi mereka, dan berkata, “Para Mulia, sudilah menerima makanan dari Anāthapiṇḍika besok.” Para bhikkhu itu menerima dengan berdiam diri.

Keesokan paginya, setelah mempersiapkan berbagai jenis makanan-makanan baik, ia memberitahu para bhikkhu bahwa waktunya telah tiba untuk makan. Ia melepas cincinnya dan kemudian mempersembahkan makanan kepada para bhikkhu, dengan berkata, “Para Mulia, silakan kalian pergi setelah makan. Aku harus bekerja.” Dan ia pergi, melupakan cincinnya.

Para bhikkhu melihatnya dan berkata, “Jika kita pergi begitu saja, cincin ini mungkin hilang,” dan karena itu mereka berdiam di sana. Ketika orang itu kembali dari bekerja, ia melihat para bhikkhu dan berkata kepada mereka, “Mengapakah kalian masih berada di sini?” Dan para bhikkhu itu memberitahunya apa yang terjadi.

Para bhikkhu itu kemudian pergi menuju Sāvatthī di mana mereka memberitahu para bhikkhu, yang kemudian memberitahu Sang Buddha.

Setelah membabarkan suatu ajaran, Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu: “Di dalam sebuah vihara, para bhikkhu, atau di suatu penginapan, kalian harus memungut benda-benda berharga atau apa pun yang dianggap berharga, atau menyuruh orang lain memungutnya, dan kemudian menyimpannya dengan berpikir, ‘Siapa pun yang memiliki ini akan datang dan mengambilnya.’ Dan, para bhikkhu, aturan latihan ini harus dibacakan sebagai berikut:

Aturan akhir

‘Jika seorang bhikkhu memungut benda-benda berharga atau sesuatu yang dianggap berharga, atau ia menyuruh orang lain memungutnya, kecuali di dalam sebuah vihara atau di dalam sebuah rumah, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan. ‘Jika seorang bhikkhu memungut benda-benda berharga atau sesuatu yang dianggap berharga, atau ia menyuruh orang lain memungutnya, di dalam sebuah vihara atau di dalam sebuah rumah, maka ia harus menyimpannya dengan pikiran, “Siapa pun yang memilikinya akan mengambilnya.” Ini adalah prosedur yang benar.’”

Definisi

Seorang:

Siapa pun

Bhikkhu:

… Seorang bhikkhu yang telah diberikan penahbisan penuh oleh Sangha yang sepakat melalui prosedur sah yang terdiri dari satu usul dan tiga pengumuman yang tidak dapat dibatalkan dan lengkap—bhikkhu jenis inilah yang dimaksudkan dalam kasus ini.

Sesuatu yang berharga:

Mutiara, permata, beril, cangkang mutiara, kuarsa, koral, perak, emas, mirah, mata kucing.

Seuatu yang dianggap berharga:

Apa yang orang-orang anggap berharga atau berguna—ini disebut “dianggap sebagai berharga”.

Kecuali di dalam sebuah vihara atau di dalam sebuah rumah:

selain daripada di dalam sebuah vihara atau di dalam sebuah rumah.

Di dalam sebuah vihara:

Jika vihara tersebut berpagar, maka di sebelah dalam pagar. Jika vihara tersebut tidak berpagar, maka di area sekitar vihara.

Di dalam sebuah rumah:

Jika rumah tersebut berpagar, maka di sebelah dalam pagar. Jika rumah tersebut tidak berpagar, maka di area sekitar rumah.

Memungut:

Jika ia mengambilnya sendiri, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan.

Menyuruh orang lain memungut:

Jika ia menyuruh orang lain untuk mengambilnya, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan.

Jika ia memungut benda-benda berharga atau sesuatu yang dianggap berharga, atau ia menyuruh orang lain memungutnya, di dalam sebuah vihara atau di dalam sebuah rumah, maka ia harus menyimpannya:

Setelah mengingat penampakannya atau mengenali ciri-cirinya, ia harus menyimpannya, dan kemudian membuat pengumuman: “Siapa pun yang kehilangan sesuatu silakan datang.” Jika seseorang datang, ia harus diberitahu, “Mohon jelaskan barangmu.” Jika ia menggambarkan penampakannya atau ciri-cirinya dengan benar, maka benda itu harus diberikan kepadanya. Jika tidak, maka ia harus diberitahu, “Carilah lagi.” Jika bhikkhu itu hendak meninggalkan vihara, ia harus terlebih dulu menyerahkan benda-benda itu kepada bhikkhu yang tepat di sana. Jika tidak ada bhikkhu yang tepat, ia harus menyerahkan benda-benda itu kepada perumah tangga yang tepat di sana.

Ini adalah prosedur yang benar:

Ini adalah metode yang benar.

Tidak ada pelanggaran

Tidak ada pelanggaran: Jika ia memungut benda-benda berharga atau sesuatu yang dianggap berharga, atau ia menyuruh orang lain memungutnya, di dalam sebuah vihara atau di dalam sebuah rumah, dan kemudian menyimpannya dengan pikiran, Siapa pun yang memilikinya akan mengambilnya;” jika ia mengambil sesuatu yang dianggap berharga atas dasar kepercayaan atau ia meminjamnya atau ia mengangapnya sebagai telah dibuang; jika ia gila; jika ia adalah pelaku pertama.

Aturan latihan tentang benda-benda berharga, yang kedua, selesai

Komentar [0]