Memuat

Terjemahan [6]

Aturan Latihan Ketiga tentang Pengusiran

Kisah Asal-mula

Sub-kisah pertama

Pada suatu ketika Sang Buddha sedang menetap di aula beratap lancip di Hutan Besar di dekat Vesālī. Pada saat itu Sang Buddha berbicara kepada para bhikkhu dalam berbagai cara tentang ketidakmenarikan—Beliau berbicara memuji ketidakmenarikan, memuji pengembangan pikiran dalam ketidakmenarikan, dan memuji pencapaian ketidakmenarikan.

Kemudian Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu: “Para bhikkhu, Aku hendak memasuki pengasingan diri selama setengah bulan. Tidak seorang pun boleh mengunjungi Aku kecuali ia yang membawakan makanan untukKu.”

“Baik, Yang Mulia.”

Tidak lama kemudian para bhikkhu merefleksikan bahwa Sang Buddha telah memuji ketidakmenarikan dalam berbagai cara, dan mereka tekun mengembangkan pikiran dalam ketidakmenarikan dalam banyak aspek berbedanya. Sebagai konsekuensinya, mereka menjadi terganggu dengan tubuh mereka sendiri, malu dan jijik dengan tubuh mereka sendiri. Seperti halnya seorang perempuan atau laki-laki muda—seorang yang menyukai perhiasan, dengan rambut yang baru dicuci—akan malu, muak, dan jijik jika mayat seekor ular, anjing, atau orang digantungkan di leher mereka, demikian pula para bhikkhu itu terganggu dengan tubuh mereka sendiri. Mereka membunuh diri mereka sendiri, membunuh orang lain, dan mereka mendatangi Migalaṇḍika, seorang yang menyerupai monastik, dan berkata, “Mohon bunuhlah kami. Engkau akan mendapatkan mangkuk dan jubah kami.” Dan dibayar dengan sebuah mangkuk dan jubah, Migalaṇḍika membunuh sejumlah bhikkhu. Kemudian ia membawa pisaunya yang berlumuran darah ke sungai Vaggumudā.

Sewaktu mencucinya, ia menjadi gelisah dan menyesal, dengan berpikir, “Apakah yang telah kulakukan? Aku telah melakukan banyak keburukan dengan membunuh para bhikkhu yang baik.”

Kemudian sesosok dewa dari alam Raja Kematian, datang menyeberangi sungai, dan berkata kepada Migalaṇḍika, “Bagus sekali, manusia unggul, engkau sungguh beruntung. Engkau telah melakukan banyak jasa dengan membantu menyeberangkan mereka yang belum menyeberang.”

Migalaṇḍika berpikir, “Tampaknya aku beruntung, bahwa aku telah melakukan banyak jasa!” Kemudian ia berjalan dari satu kediaman menuju kediaman lain, dari satu wilayah ke wilayah lain, dan berkata, “Siapakah yang belum menyeberang? Siapakah yang ingin kubantu menyeberang?” Para bhikkhu yang masih memiliki kemelekatan duniawi menjadi ketakutan, dengan tubuh merinding. Hanya mereka yang terbebas dari kemelekatan duniawi yang tidak terpengaruh.

Maka, hanya dalam satu hari, Migalaṇḍika membunuh satu bhikkhu, dua bhikkhu, tiga, empat, lima, sepuluh, dua puluh, tiga puluh, empat puluh, lima puluh, bahkan enam puluh bhikkhu.

Di akhir setengah bulan itu, ketika Sang Buddha keluar dari keterasingan, Ia berkata kepada Yang Mulia Ānanda, “Ānanda, mengapakah Sangha para bhikkhu begitu berkurang?”

Ānanda memberitahukan apa yang telah terjadi, dengan menambahkan, “Sudilah memberikan ajaran lain, Yang Mulia, agar Sangha para bhikkhu dapat tegak dalam pandangan terang sempurna.”

“Baiklah, Ānanda, kumpulkan di aula pertemuan semua bhikkhu yang hidup dengan disokong oleh Vesālī.” “Baik.” Ketika ia telah melakukan itu, ia mendatangi Sang Buddha dan berkata, “Yang Mulia, Sangha para bhikkhu telah berkumpul. Silakan lakukan apa yang Engkau anggap baik.”

Sang Buddha memasuki aula pertemuan, duduk di tempat yang telah dipersiapkan, dan berkata kepada para bhikkhu:

“Para bhikkhu, ketika keheningan melalui perhatian pada pernafasan dikembangkan dan dilatih, itu adalah keadaan kebahagiaan yang damai dan luhur, dan memuaskan. Dan itu melenyapkan kualitas-kualitas buruk dan tidak bermanfaat di tempat itu juga, kapanpun munculnya. Seperti halnya badai besar yang tidak pada musimnya pada bulan terakhir musim panas melenyapkan debu dan kotoran dari udara, demikian pula, ketika keheningan melalui perhatian pada pernafasan dikembangkan dan dilatih, itu adalah keadaan kebahagiaan yang damai dan luhur, dan itu melenyapkan kualitas-kualitas buruk dan tidak bermanfaat di tempat itu juga, kapanpun munculnya.

Dan bagaimanakah keheningan melalui perhatian pada pernafasan dikembangkan dan dilatih dalam cara ini?

Seorang bhikkhu duduk di hutan, di bawah pohon, atau di gubuk kosong. Ia bersila, meluruskan tubuhnya, dan menegakkan perhatian di depannya. Dengan penuh perhatian, ia menarik napas; dengan penuh perhatian, ia mengembuskan napas.

Ketika ia menarik napas panjang, ia mengetahuinya; dan ketika ia mengembuskan napas panjang, ia mengetahuinya. Ketika ia menarik napas pendek, ia mengetahuinya; dan ketika ia mengembuskan napas pendek, ia mengetahuinya. Ketika menarik napas, ia berlatih dengan sepenuhnya mengalami napas; ketika mengembuskan napas, ia berlatih dengan sepenuhnya mengalami napas. Ketika menarik napas, ia berlatih menenangkan aktivitas-aktivitas jasmani; ketika mengembuskan napas, ia berlatih menenangkan aktivitas-aktivitas jasmani.

Ketika menarik napas, ia berlatih dalam mengalami kegembiraan; ketika mengembuskan napas, ia berlatih dalam mengalami kegembiraan. Ketika menarik napas, ia berlatih dalam mengalami kebahagiaan; ketika mengembuskan napas, ia berlatih dalam mengalami kebahagiaan. Ketika menarik napas, ia berlatih dalam mengalami aktivitas-aktivitas pikiran; ketika mengembuskan napas, ia berlatih dalam mengalami aktivitas-aktivitas pikiran. Ketika menarik napas, ia berlatih dalam menenangkan aktivitas-aktivitas pikiran; ketika mengembuskan napas, ia berlatih dalam menenangkan aktivitas-aktivitas pikiran.

Ketika menarik napas, ia berlatih dalam mengalami pikiran; ketika mengembuskan napas, ia berlatih dalam mengalami pikiran. Ketika menarik napas, ia berlatih dalam menggembirakan pikiran; ketika mengembuskan napas, ia berlatih dalam menggembirakan pikiran. Ketika menarik napas, ia berlatih dalam mengheningkan pikiran; ketika mengembuskan napas, ia berlatih dalam mengheningkan pikiran. Ketika menarik napas, ia berlatih dalam membebaskan pikiran; ketika mengembuskan napas, ia berlatih dalam membebaskan pikiran.

Ketika menarik napas, ia berlatih dalam merenungkan ketidakkekalan; ketika mengembuskan napas, ia berlatih dalam merenungkan ketidakkekalan. Ketika menarik napas, ia berlatih dalam merenungkan peluruhan; ketika mengembuskan napas, ia berlatih dalam merenungkan peluruhan. Ketika menarik napas, ia berlatih dalam merenungkan berakhirnya; ketika mengembuskan napas, ia berlatih dalam merenungkan berakhirnya. Ketika menarik napas, ia berlatih dalam merenungkan pelepasan; ketika mengembuskan napas, ia berlatih dalam merenungkan pelepasan.

Para bhikkhu, ketika keheningan melalui perhatian pada pernafasan dikembangkan dan dilatih, itu adalah keadaan kebahagiaan yang damai dan luhur, dan memuaskan. Dan itu melenyapkan kualitas-kualitas buruk dan tidak bermanfaat di tempat itu juga, kapanpun munculnya.”

Sang Buddha kemudian mengumpulkan Sangha dan menanyai para bhikkhu: “Benarkah, para bhikkhu, bahwa ada para bhikkhu yang bunuh diri, yang saling membunuh satu sama lain, dan yang berkata kepada Migalaṇḍika, ‘Mohon bunuhlah kami. Engkau akan mendapatkan mangkuk dan jubah kami’?”

“Benar, Yang Mulia.”

Sang Buddha menegur mereka, “Para bhikkhu, tidaklah sepantasnya bagi para bhikkhu ini, tidaklah benar, tidaklah selayaknya bagi seorang monastik, tidak diperbolehkan, tidak boleh dilakukan. Bagaimana mungkin para bhikkhu ini melakukan hal ini? Hal ini akan mempengaruhi keyakinan banyak orang ...” … “Dan, para bhikkhu, aturan latihan ini harus dibacakan sebagai berikut:

Aturan awal

‘Jika seorang bhikkhu dengan sengaja membunuh seorang manusia atau mencari alat kematian untuk mereka, ia juga diusir dan dikeluarkan dari komunitas.’”

Dengan cara inilah Sang Buddha menetapkan aturan latihan ini untuk para bhikkhu.

Sub-kisah kedua

Pada suatu ketika seorang umat awam jatuh sakit. Ia memiliki seorang istri yang cantik dan menarik, yang para bhikkhu dari kelompok enam jatuh cinta kepadanya. Mereka berkata satu sama lain, “Jika umat awam ini sembuh, kita tidak akan mendapatkannya. Ayo, mari kita memuji kematian kepadanya.”

Kemudian mereka mendatangi umat awam itu dan berkata, “Engkau telah melakukan apa yang baik dan bermanfaat; engkau telah membuat naungan dari ketakutan. Engkau tidak pernah melakukan apapun yang buruk; engkau tidak serakah atau tidak bermoral. Oleh karena itu mengapa melanjutkan kehidupan yang menyengsarakan dan sulit ini? Kematian adalah lebih baik untukmu. Ketika engkau meninggal dunia, engkau akan terlahir kembali di alam bahagia. Di sana engkau akan dapat menikmati kebahagiaan surgawi.”

Umat awam itu berpikir, “Para mulia ini berkata benar, karena aku telah melakukan apa yang baik dan menghindari apa yang buruk, dan setelah kematian aku akan terlahir kembali di alam bahagia.”

Sejak saat itu ia memakan berbagai jenis makanan berbahaya dan meminum minuman berbahaya, dan sebagai konsekuensinya, ia menjadi sangat sakit dan meninggal dunia.

Tetapi istrinya mengeluhkan dan mengkritik para bhikkhu itu, “Para monastik Sakya ini tidak tahu malu dan pembohong tidak bermoral. Mereka mengaku memiliki integritas, hidup selibat dan berperilaku baik, jujur, bermoral, dan baik. Tetapi mereka tidak memiliki karakter baik seorang monastik atau brahmana. Mereka telah tersesat! Mereka memuji kematian kepada suamiku, dan sebagai akibatnya suamiku meninggal dunia.”

Dan orang-orang lain juga mengeluhkan dan mengkritik mereka dengan cara yang sama.

Para bhikkhu mendengar kritik dari orang-orang itu. Para bhikkhu yang memiliki sedikit keinginan dan yang memiliki nurani, yang merasa puas, takut pada perbuatan salah, dan menyukai latihan, mengeluh dan mengkritik para bhikkhu itu, “Bagaimana mungkin mereka memuji kematian kepada umat awam itu?”

Setelah menegur para bhikkhu itu dalam berbagai cara, mereka memberitahu Sang Buddha …

“Benarkah, para bhikkhu, bahwa kalian melakukan hal ini?”

“Benar, Yang Mulia.”

Sang Buddha menegur mereka, “Orang-orang dungu, tidaklah benar, tidaklah sepantasnya, tidaklah selayaknya bagi seorang monastik, tidak diperbolehkan, tidak boleh dilakukan. Bagaimana mungkin kalian dapat melakukan hal ini? Hal ini akan mempengaruhi keyakinan banyak orang ...” … “Dan karena itu, para bhikkhu, aturan latihan ini harus dibacakan sebagai berikut:

Aturan akhir

‘Jika seorang bhikkhu dengan sengaja membunuh manusia atau mencari alat kematian untuknya atau memuji kematian atau menghasut seseorang untuk mati, dengan berkata, “Temanku, apalah gunanya kehidupan yang menyengsarakan dan sulit ini? Kematian adalah lebih baik bagimu daripada kehidupan!”—berpikir dan berniat demikian, jika ia memuji kematian dalam banyak cara atau menghasut seseorang untuk mati—ia juga diusir dan dikeluarkan dari komunitas.’”

Definisi

Seorang:

Siapapun …

Bhikkhu:

… Seorang bhikkhu yang telah diberikan penahbisan penuh oleh Sangha yang sepakat melalui prosedur sah yang terdiri dari satu usul dan tiga pengumuman yang tidak dapat dibatalkan dan lengkap – bhikkhu jenis inilah yang dimaksudkan dalam kasus ini.

Dengan sengaja:

Mengetahui, menganggap, memiliki niat, telah memutuskan, ia melanggar.

Seorang manusia:

Dari kemunculan pertama batin di dalam rahim ibu, dari manifestasi pertama kesadaran, hingga saat kematian: di antara ini—disebut “seorang manusia”.

Membunuh:

Memotong indria kehidupan, mengakhirinya, memutuskan keberlanjutannya.

Atau mencari alat kematian untuknya:

Sebilah pedang, sebilah belati, anak panah, tongkat pemukul, batu, pisau, racun, atau seutas tali.

Atau memuji kematian:

Ia menunjukkan kerugian dalam kehidupan dan memuji kematian.

Atau menghasut seseorang untuk mati:

Ia berkata, “Bunuhlah dirimu dengan pisau,” “Minumlah racun,” “Matilah dengan menggantung dirimu dengan tali.”

Temanku:

Ini adalah satu bentuk sapaan.

Apalah gunanya kehidupan yang menyengsarakan dan sulit ini:

Kehidupan yang menyengsarakan: kehidupan orang miskin adalah menyengsarakan dibandingkan dengan kehidupan orang kaya; kehidupan orang melarat adalah menyengsarakan dibandingkan dengan kehidupan orang berada; kehidupan manusia adalah menyengsarakan dibandingkan dengan kehidupan para dewa.

Kehidupan yang sulit:

Kehidupan dari seorang yang tangannya terpotong, yang kakinya terpotong, yang tangan dan kakinya terpotong, yang telinganya terpotong, yang hidungnya terpotong, yang telinga dan hidungnya terpotong. Karena jenis-jenis kehidupan yang menyengsarakan dan sulit ini, ia berkata, “Kematian adalah lebih baik bagimu daripada kehidupan!”

Berpikir:

Pikiran dan pemikiran adalah sama.

Berniat:

Mempersepsikan kematian, meniatkan kematian, bertujuan pada kematian.

Dalam banyak cara:

Dalam berbagai cara.

Ia memuji kematian:

Ia menunjukkan kerugian dalam kehidupan dan memuji kematian, dengan berkata, “Ketika engkau meninggal dunia, engkau akan terlahir kembali di alam tujuan yang bahagia, di alam surga. Di sana engkau akan dapat menikmati kebahagiaan surgawi.”

Atau menghasut seseorang untuk mati:

Ia berkata, “Bunuhlah dirimu dengan pisau,” “Minumlah racun,” “Matilah dengan menggantung dirimu dengan tali,” “Melompatlah ke dalam jurang,” “Lompatlah ke dalam lubang,” “Melompatlah dari tebing.”

Ia juga:

Ini dikatakan dengan merujuk pada pelanggaran sebelumnya yang mengharuskan pengusiran.

Diusir:

Seperti halnya sebutir batu biasa yang telah pecah menjadi dua tidak dapat disambung kembali menjadi satu, demikian pula seorang bhikkhu yang telah dengan sengaja membunuh seorang manusia bukanlah seorang petapa, bukan seorang monastik Sakya. Oleh karena itu dikatakan, “ia diusir.”

Dikeluarkan dari komunitas:

Komunitas: prosedur legal bersama, pembacaan bersama, latihan yang sama—ini disebut “komunitas”. Ia tidak berpartisipasi di dalam hal-hal ini—oleh karena itu dikatakan “dikeluarkan dari komunitas”.

Permutasi

Ringkasan

Diri sendiri, setelah memutuskan, melalui utusan, melalui serangkaian utusan, melalui seorang utusan yang tidak mengikuti instruksi, melalui seorang utusan yang pergi dan kembali lagi.

Tidak secara rahasia, tetapi menganggapnya sebagai secara rahasia. Secara rahasia, tetapi menganggapnya sebagai tidak secara rahasia. Tidak secara rahasia, tetapi menganggapnya sebagai tidak secara rahasia. Secara rahasia, dan menganggapnya sebagai secara rahasia.

Ia memujikan melalui jasmani. Ia memujikan melalui ucapan. Ia memujikan melalui jasmani dan ucapan. Ia memujikan melalui utusan. Ia memujikan melalui tulisan.

Sebuah lubang, sebuah perabot, meletakkan di dekat, tonik, mengatur pemandangan, mengatur suara, mengatur bau-bauan, mengatur rasa kecapan, mengatur sentuhan, mengatur suatu kualitas mental, informasi, instruksi, bertindak dengan penunjukan, membuat isyarat.

Penjelasan

Diri sendiri:

Diri sendiri membunuh dengan jasmani atau dengan sesuatu yang terhubung dengan jasmani atau dengan sesuatu yang dilepaskan.

Setelah memutuskan:

Setelah memutuskan, ia memberitahu seseorang, “Pukul demikian, serang demikian, bunuh demikian.”

Melalui utusan:

Jika seorang bhikkhu memberitahu bhikkhu kedua, “Bunuhlah dia,” maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika bhikkhu kedua membunuh orang itu, dengan berpikir bahwa ia adalah orang yang ia disuruh untuk membunuh, maka terjadi pelanggaran yang mengharuskan pengusiran untuk keduanya.


Jika seorang bhikkhu memberitahu bhikkhu kedua, “Bunuhlah dia,” maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika bhikkhu kedua membunuh orang yang lain, dengan berpikir bahwa ia adalah orang yang ia disuruh untuk membunuh, maka tidak ada pelanggaran untuk si penghasut, tetapi terjadi pelanggaran yang mengharuskan pengusiran untuk si pembunuh.

Jika seorang bhikkhu memberitahu bhikkhu kedua, “Bunuhlah dia,” maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika bhikkhu kedua membunuh orang itu, dengan berpikir bahwa ia adalah orang lain yang bukan ia disuruh untuk membunuh, maka terjadi pelanggaran yang mengharuskan pengusiran untuk keduanya.

Jika seorang bhikkhu memberitahu bhikkhu kedua, “Bunuhlah dia,” maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika bhikkhu kedua membunuh orang yang lain, dengan berpikir bahwa ia adalah orang lain yang bukan ia disuruh untuk membunuh, maka tidak ada pelanggaran untuk si penghasut, tetapi terjadi pelanggaran yang mengharuskan pengusiran untuk si pembunuh.

Melalui serangkaian utusan:

Jika seorang bhikkhu memberitahu bhikkhu kedua, “Beritahu orang ini untuk memberitahu orang ini untuk membunuh orang itu,” maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Dalam memberitahu orang berikutnya, terjadi pelanggaran perbuatan salah. Jika calon pembunuh menyetujui, maka terjadi pelanggaran serius untuk si penghasut. Jika ia membunuh orang itu, maka terjadi pelanggaran yang mengharuskan pengusiran untuk mereka semua.

Melalui seorang utusan yang tidak mengikuti instruksi:

Jika seorang bhikkhu memberitahu bhikkhu kedua, “Beritahu orang ini untuk memberitahu orang ini untuk membunuh orang itu,” maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika bhikkhu lain itu memberitahu orang lain lagi yang bukan orang yang ia disuruh untuk memberitahukan, maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika si calon pembunuh menyetujui, maka terjadi pelanggaran perbuatan salah. Jika ia membunuh orang itu, maka tidak ada pelanggaran untuk si penghasut, tetapi ada pelanggaran yang mengharuskan pengusiran untuk si utusan dan si pembunuh.

Melalui seorang utusan yang pergi dan kembali lagi:

Jika seorang bhikkhu memberitahu bhikkhu kedua, “Bunuhlah orang itu,” maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Ia pergi, namun kembali lagi, dengan berkata, “Aku tidak mampu membunuhnya.” Jika bhikkhu pertama memberitahunya lagi, “Ketika engkau mampu, bunuhlah ia,” maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika bhikkhu kedua membunuh orang itu, maka terjadi pelanggaran yang mengharuskan pengusiran untuk keduanya.


Jika seorang bhikkhu memberitahu bhikkhu kedua, “Bunuhlah orang itu,” maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Kemudian ia menyesal, tetapi tidak mengatakan, “Jangan membunuhnya.” Jika kemudian bhikkhu kedua membunuh orang itu, maka terjadi pelanggaran yang mengharuskan pengusiran untuk keduanya.

Jika seorang bhikkhu memberitahu bhikkhu kedua, “Bunuhlah orang itu,” maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Kemudian ia menyesal dan mengatakan, “Jangan membunuhnya.” Jika bhikkhu kedua menjawab, “Aku telah disuruh olehmu untuk membunuh orang itu,” dan kemudian ia membunuh orang itu, maka tidak ada pelanggaran untuk si penghasut, tetapi terjadi pelanggaran yang mengharuskan pengusiran untuk si pembunuh.

Jika seorang bhikkhu memberitahu bhikkhu kedua, “Bunuhlah orang itu,” maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Kemudian ia menyesal dan mengatakan, “Jangan membunuhnya.” Jika bhikkhu kedua menjawab, “Baiklah,” dan berhenti, maka tidak ada pelanggaran untuk keduanya.


Tidak secara rahasia, tetapi menganggapnya sebagai secara rahasia:

Jika ia mengucapkan keras-keras, “Aku menginginkan orang itu mati,” maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah.

Secara rahasia, tetapi menganggapnya sebagai tidak secara rahasia:

Jika ia mengucapkan keras-keras, “Aku menginginkan orang itu mati,” maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah.

Tidak secara rahasia, tetapi menganggapnya sebagai tidak secara rahasia:

Jika ia mengucapkan keras-keras, “Aku menginginkan orang itu mati,” maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah.

Secara rahasia, dan menganggapnya sebagai secara rahasia:

Jika ia mengucapkan keras-keras, “Aku menginginkan orang itu mati,” maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah.


Ia memujikan melalui jasmani:

Jika seorang bhikkhu membuat isyarat melalui jasmani, yang menunjukkan, “Siapa pun yang mati demikian, menerima kekayaan,” atau “Siapa pun yang mati demikian, menjadi terkenal,” atau “Siapa pun yang mati demikian, pergi ke alam surga,” maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika, karena pujian itu, orang yang dituju berpikir, “Aku harus mati,” dan ia melakukan sesuatu yang menyakitkan, maka bhikkhu itu melakukan pelanggaran serius. Jika orang itu mati, maka bhikkhu itu melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran.

Ia memujikan melalui ucapan:

Jika seorang bhikkhu berkata, “Siapa pun yang mati demikian, menerima kekayaan,” atau “Siapa pun yang mati demikian, menjadi terkenal,” atau “Siapa pun yang mati demikian, pergi ke alam surga,” maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika, karena pujian itu, orang yang dituju berpikir, “Aku harus mati,” dan ia melakukan sesuatu yang menyakitkan, maka bhikkhu itu melakukan pelanggaran serius. Jika orang itu mati, maka bhikkhu itu melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran.

Ia memujikan melalui jasmani dan ucapan:

Jika seorang bhikkhu membuat isyarat melalui jasmani dan mengatakan, “Siapa pun yang mati demikian, menerima kekayaan,” atau “Siapa pun yang mati demikian, menjadi terkenal,” atau “Siapa pun yang mati demikian, pergi ke alam surga,” maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika, karena pujian itu, orang yang dituju berpikir, “Aku harus mati,” dan ia melakukan sesuatu yang menyakitkan, maka bhikkhu itu melakukan pelanggaran serius. Jika orang itu mati, maka bhikkhu itu melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran.

Ia memujikan melalui utusan:

Jika seorang bhikkhu memberikan instruksi melalui seorang utusan, dengan mengatakan, “Siapa pun yang mati demikian, menerima kekayaan,” atau “Siapa pun yang mati demikian, menjadi terkenal,” atau “Siapa pun yang mati demikian, pergi ke alam surga,” maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika, setelah mendengar instruksi dari utusan itu, orang yang dituju berpikir, “Aku harus mati,” dan ia melakukan sesuatu yang menyakitkan, maka bhikkhu itu melakukan pelanggaran serius. Jika orang itu mati, maka bhikkhu itu melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran.

Ia memujikan melalui tulisan:

Jika seorang bhikkhu menuliskan, “Siapa pun yang mati demikian, menerima kekayaan,” atau “Siapa pun yang mati demikian, menjadi terkenal,” atau “Siapa pun yang mati demikian, pergi ke alam surga,” maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah untuk setiap huruf yang ia tulis. Jika, setelah membaca tulisan itu, orang yang dituju berpikir, “Aku harus mati,” dan ia melakukan sesuatu yang menyakitkan, maka bhikkhu itu melakukan pelanggaran serius. Jika orang itu mati, maka bhikkhu itu melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran.


Sebuah lubang:

Seorang bhikkhu menggali lubang untuk seorang manusia, dengan berpikir, “Dengan terjatuh ke dalamnya, mereka akan mati,” maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika orang yang dituju mengalami kesakitan setelah jatuh ke dalamnya, maka bhikkhu itu melakukan pelanggaran serius. Jika orang itu mati, maka bhikkhu itu melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran.

Jika seorang bhikkhu menggali sebuah lubang tanpa ditujukan kepada orang tertentu, dengan berpikir, “Apa pun yang jatuh ke dalamnya, akan mati,” maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika seseorang jatuh ke dalamnya, maka bhikkhu itu melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika mereka mengalami kesakitan setelah jatuh ke dalamnya, maka bhikkhu itu melakukan pelanggaran serius. Jika mereka mati, maka bhikkhu itu melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran. Jika sesosok makhluk halus, sesosok hantu, atau binatang dalam wujud manusia jatuh ke dalamnya, maka bhikkhu itu melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika makhluk itu mengalami kesakitan setelah jatuh ke dalamnya, maka bhikkhu itu melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika makhluk itu mati, maka bhikkhu itu melakukan pelanggaran serius. Jika seekor binatang jatuh ke dalamnya, maka bhikkhu itu melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika binatang itu mengalami kesakitan setelah jatuh ke dalamnya, maka bhikkhu itu melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika binatang itu mati, maka bhikkhu itu melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan.

Sebuah perabot:

Jika seorang bhikkhu meletakkan sebilah belati dalam sebuah perabot, melumuri perabot dengan racun, atau membuatnya goyah, atau jika ia meletakkannya di dekat danau, lubang, atau tebing, dengan berpikir, “Dengan terjatuh, mereka akan mati,” maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika orang yang dituju mengalami kesakitan karena belati, racun, atau terjatuh, maka bhikkhu itu melakukan pelanggaran serius. Jika orang itu mati, maka bhikkhu itu melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran.

Meletakkan di dekat:

Jika seorang bhikkhu meletakkan sebilah pisau, belati, anak panah, pentungan, batu, pedang, racun, atau tali di dekat seseorang, dengan berpikir, “Dengan menggunakan ini, mereka akan mati,” maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika orang yang dituju berpikir, “Dengan menggunakan itu, aku akan mati,” dan ia melakukan sesuatu yang menyakitkan, maka bhikkhu itu melakukan pelanggaran serius. Jika orang itu mati, maka bhikkhu itu melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran.

Tonik:

Jika seorang bhikkhu memberikan kepada seseorang ghee, mentega, minyak, madu, atau sirup, dengan berpikir, “Setelah mengecap ini, mereka akan mati,” maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika orang yang dituju mengecapnya dan merasakan kesakitan, maka bhikkhu itu melakukan pelanggaran serius. Jika orang itu mati, maka bhikkhu itu melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran.


Mengatur pemandangan:

Jika seorang bhikkhu mengatur sebuah pemandangan yang menakutkan dan mengerikan, dengan berpikir, “Dengan melihat ini dan menjadi ketakutan, mereka akan mati,” maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika orang yang dituju melihatnya dan menjadi ketakutan, maka bhikkhu itu melakukan pelanggaran serius. Jika orang itu mati, maka bhikkhu itu melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran. Jika seorang bhikkhu mengatur sebuah pemandangan indah, dengan berpikir, “Dengan melihat ini dan kemudian karena tidak mampu memegangnya, mereka akan merana dan mati,” maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika orang yang dituju melihatnya dan kemudian menjadi merana karena tidak mampu memegangnya, maka ia melakukan pelanggaran serius. Jika orang itu mati, maka bhikkhu itu melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran.

Mengatur suara:

Jika seorang bhikkhu mengatur suatu suara yang menakutkan dan mengerikan, dengan berpikir, “Dengan mendengar ini dan menjadi ketakutan, mereka akan mati,” maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika orang yang dituju mendengarnya dan menjadi ketakutan, maka bhikkhu itu melakukan pelanggaran serius. Jika orang itu mati, maka bhikkhu itu melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran. Jika seorang bhikkhu mengatur suatu suara yang indah dan menggugah hati, dengan berpikir, “Dengan mendengar ini dan kemudian karena tidak mampu memegangnya, mereka akan merana dan mati,” maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika orang yang dituju mendengarnya dan kemudian menjadi merana karena tidak mampu memegangnya, maka ia melakukan pelanggaran serius. Jika orang itu mati, maka bhikkhu itu melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran.

Mengatur bau-bauan:

Jika seorang bhikkhu mengatur suatu bau-bauan yang memuakkan dan menjijikkan, dengan berpikir, “Dengan mencium ini, mereka akan mati karena muak dan jijik,” maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika orang yang dituju menciumnya dan mengalami penderitaan karena muak dan jijik, maka bhikkhu itu melakukan pelanggaran serius. Jika orang itu mati, maka bhikkhu itu melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran. Jika seorang bhikkhu mengatur suatu aroma harum, dengan berpikir, “Dengan mencium ini dan kemudian karena tidak mampu memegangnya, mereka akan merana dan mati,” maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika orang yang dituju menciumnya dan kemudian menjadi merana karena tidak mampu memegangnya, maka ia melakukan pelanggaran serius. Jika orang itu mati, maka bhikkhu itu melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran.

Mengatur rasa kecapan:

Jika seorang bhikkhu mengatur suatu rasa kecapan yang memuakkan dan menjijikkan, dengan berpikir, “Dengan mengecap, mereka akan mati karena muak dan jijik,” maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika orang yang dituju mengecapnya dan mengalami penderitaan karena muak dan jijik, maka bhikkhu itu melakukan pelanggaran serius. Jika orang itu mati, maka bhikkhu itu melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran. Jika seorang bhikkhu mengatur suatu rasa kecapan yang lezat, dengan berpikir, “Dengan mengecap ini dan kemudian karena tidak mampu memegangnya, mereka akan merana dan mati,” maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika orang yang dituju mengecapnya dan kemudian menjadi merana karena tidak mampu memegangnya, maka ia melakukan pelanggaran serius. Jika orang itu mati, maka bhikkhu itu melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran.

Mengatur sentuhan:

Jika seorang bhikkhu mengatur sebuah sentuhan fisik yang menyakitkan dan kasar, dengan berpikir, “Dengan tersentuh oleh ini, mereka akan mati,” maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika orang yang dituju menyentuhnya dan mengalami kesakitan, maka bhikkhu itu melakukan pelanggaran serius. Jika orang itu mati, maka bhikkhu itu melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran. Jika seorang bhikkhu mengatur sebuah sentuhan fisik yang lembut dan menyenangkan, dengan berpikir, “Dengan tersentuh oleh ini dan kemudian karena tidak mampu memegangnya, mereka akan merana dan mati,” maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika orang yang dituju menyentuhnya dan kemudian menjadi merana karena tidak mampu memegangnya, maka ia melakukan pelanggaran serius. Jika orang itu mati, maka bhikkhu itu melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran.

Mengatur suatu kualitas mental:

Jika seorang bhikkhu menceritakan tentang neraka kepada seseorang yang mengarah menuju neraka, dengan berpikir, “Dengan mendengar ini dan menjadi ketakutan, mereka akan mati,” maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika orang yang dituju mendengarnya dan menjadi ketakutan, maka bhikkhu itu melakukan pelanggaran serius. Jika orang itu mati, maka bhikkhu itu melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran. Jika seorang bhikkhu menceritakan tentang surga kepada seorang yang berperilaku baik, dengan berpikir, “Dengan mendengar dan tertarik padanya, mereka akan mati,” maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika orang yang dituju mendengarnya, menjadi tertarik padanya, dan berpikir, “Aku harus mati,” dan mereka melakukan sesuatu yang menyakitkan, maka bhikkhu itu melakukan pelanggaran serius. Jika orang itu mati, maka bhikkhu itu melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran.


Informasi:

Jika, karena ditanya, seorang bhikkhu berkata, “Matilah seperti ini. Siapa pun yang melakukannya akan menerima kekayaan,” atau “Matilah seperti ini. Siapa pun yang melakukannya akan terkenal,” atau “Matilah seperti ini. Siapa pun yang melakukannya akan pergi ke alam surga,” maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika, karena informasi itu, orang yang dituju berpikir, “Aku harus mati,” dan mereka melakukan sesuatu yang menyakitkan, maka bhikkhu itu melakukan pelanggaran serius. Jika orang itu mati, maka bhikkhu itu melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran.

Instruksi:

Jika, tanpa ditanya, seorang bhikkhu berkata, “Matilah seperti ini. Siapa pun yang melakukannya akan menerima kekayaan,” atau “Matilah seperti ini. Siapa pun yang melakukannya akan terkenal,” atau “Matilah seperti ini. Siapa pun yang melakukannya akan pergi ke alam surga,” maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika, karena instruksi itu, orang yang dituju berpikir, “Aku harus mati,” dan mereka melakukan sesuatu yang menyakitkan, maka bhikkhu itu melakukan pelanggaran serius. Jika orang itu mati, maka bhikkhu itu melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran.

Bertindak dengan penunjukan:

Jika seorang bhikkhu melakukan penunjukan untuk sebelum makan atau untuk sesudah makan, untuk malam itu atau untuk siang itu, memberitahu orang lain, “Bunuhlah orang itu menurut penunjukan ini,” maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika orang lain itu membunuh orang itu menurut penunjukan itu, maka terjadi pelanggaran yang mengharuskan pengusiran untuk keduanya. Jika ia membunuhnya sebelum atau sesudah waktu yang ditentukan, tidak ada pelanggaran untuk si penghasut, tetapi pelanggaran yang mengharuskan pengusiran untuk si pembunuh.

Membuat isyarat:

Seorang bhikkhu membuat tanda. Jika ia mengatakan kepada orang lain, “Ketika aku berkedip, pada isyarat itu bunuhlah orang itu,” atau, “Ketika aku mengangkat alis, pada isyarat itu bunuhlah orang itu,” atau, “Ketika aku mengangguk, pada isyarat itu bunuhlah orang itu,” maka ia melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika, pada isyarat itu, ia membunuh orang itu, maka terjadi pelanggaran yang mengharuskan pengusiran untuk keduanya. Jika ia membunuh orang itu sebelum atau sesudah isyarat itu, maka tidak ada pelanggaran untuk si penghasut, tetapi pelanggaran yang mengharuskan pengusiran untuk si pembunuh.

Tidak ada pelanggaran

Tidak ada pelanggaran: jika tidak disengaja; jika ia tidak mengetahui; jika ia tidak bertujuan kematian; jika ia gila; jika ia adalah pelaku pertama.

Bagian pembacaan pertama tentang pengusiran sehubungan dengan manusia selesai

Syair rangkuman untuk studi kasus

“Memuji, duduk,
Dan dengan alu, dengan lesung;
Meninggalkan keduniawian setelah tua, mengalir ke luar,
Pertama, racun percobaan.

Dan tiga dengan membuat situs,
Tiga lainnya dengan bata;
Dan juga golok, dan kasau.
Sebuah panggung tinggi, turun, jatuh.

Berkeringat, dan perawatan hidung, pijat,
Dengan mandi, dan dengan melumuri;
Membangunkan, membaringkan,
Kematian melalui makanan, kematian melalui minuman.

Anak oleh kekasih, dan istri-istri;
Ibu, anak, ia membunuh keduanya,
Ia tidak membunuh keduanya; menghancurkan,
Memanaskan, mandul, subur.

Menggelitik, dalam memegang, makhluk halus,
Dan makhluk-makhluk buas, mengutus;
Menganggapnya adalah mereka, ia memukul,
Dalam membicarakan tentang alam surga, dan tentang neraka.

Tiga pohon di Āḷavī,
Tiga lainnya bersama hutan;
Jangan menyiksa, aku tidak bisa,
Dadih, dan pencahar asin.”

Studi kasus

Pada suatu ketika seorang bhikkhu sedang sakit. Demi belas kasihan, para bhikkhu memujikan kematian kepadanya. Ia meninggal dunia. Mereka menjadi gelisah dan berkata, “Sang Buddha telah menetapkan aturan latihan. Mungkinkah kita telah melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran?” Mereka memberitahu Sang Buddha. “Kalian telah melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran.”


Pada suatu ketika seorang bhikkhu pengumpul dana makanan duduk di atas bangku, menindih seorang anak yang tertutup oleh kain bekas. Anak itu mati. Bhikkhu itu menjadi gelisah dan berpikir, “Sang Buddha telah menetapkan aturan latihan. Mungkinkah aku telah melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran?” Ia memberitahu Sang Buddha. “Tidak ada pelanggaran yang mengharuskan pengusiran.

Tetapi engkau tidak boleh duduk di atas bangku tanpa memeriksanya terlebih dulu. Jika engkau melakukan itu, maka engkau melakukan pelanggaran perbuatan salah.”


Pada suatu ketika seorang bhikkhu sedang mempersiapkan tempat duduk di ruang makan di sebuah wilayah berpenghuni. Ketika ia mengangkat tinggi sebatang alu, alu kedua jatuh, menimpa seorang anak, yang kemudian meninggal dunia. Bhikkhu itu menjadi gelisah … “Apakah yang engkau pikirkan pada saat itu?”

“Aku tidak meniatkannya, Yang Mulia.”

“Tidak ada pelanggaran jika tidak disengaja.”


Pada suatu ketika seorang bhikkhu sedang mempersiapkan tempat duduk di ruang makan di sebuah wilayah berpenghuni. Ia menginjak perlengkapan lesung. Perlengkapan itu jatuh dan menimpa seorang anak, yang kemudian meninggal dunia. Ia menjadi gelisah … “Tidak ada pelanggaran jika tidak disengaja.”


Pada suatu ketika seorang ayah dan anaknya telah meninggalkan keduniawian bersama dengan para bhikkhu. Ketika waktunya diumumkan untuk suatu acara tertentu, sang anak berkata kepada ayahnya, “Pergilah, ayah, Sangha sedang menunggumu,” dan dengan menangkap punggungnya, ia mendorongnya. Sang ayah terjatuh dan meninggal dunia. Si anak menjadi gelisah … “Apakah yang engkau pikirkan pada saat itu?”

“Aku tidak berniat untuk membunuhnya, Yang mulia.”

“Tidak ada pelanggaran bagi seorang yang tidak bertujuan pada kematian.”


Pada suatu ketika seorang ayah dan anaknya telah meninggalkan keduniawian bersama dengan para bhikkhu. Ketika waktunya diumumkan untuk suatu acara tertentu, sang anak berkata kepada ayahnya, “Pergilah, ayah, Sangha sedang menunggumu,” dan dengan menangkap punggungnya, ia mendorongnya, dengan tujuan untuk membunuhnya. Sang ayah terjatuh dan meninggal dunia. Si anak menjadi gelisah … “Engkau telah melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran.”


Pada suatu ketika seorang ayah dan anaknya telah meninggalkan keduniawian bersama dengan para bhikkhu. Ketika waktunya diumumkan untuk suatu acara tertentu, sang anak berkata kepada ayahnya, “Pergilah, ayah, Sangha sedang menunggumu,” dan dengan menangkap punggungnya, ia mendorongnya, dengan tujuan untuk membunuhnya. Sang ayah terjatuh, tetapi tidak meninggal dunia. Si anak menjadi gelisah … “Engkau tidak melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran, tetapi terjadi pelanggaran serius.”


Pada suatu ketika seorang bhikkhu tersedak di tenggorokannya sewaktu sedang makan. Bhikkhu kedua menepuk lehernya. Daging itu keluar bersama dengan darah, dan bhikkhu itu meninggal dunia. Bhikkhu kedua menjadi gelisah … “Tidak ada pelanggaran bagi seorang yang tidak bertujuan pada kematian.”


Pada suatu ketika seorang bhikkhu tersedak di tenggorokannya sewaktu sedang makan. Bhikkhu kedua menepuk lehernya, dengan tujuan untuk membunuhnya. Daging itu keluar bersama dengan darah, dan bhikkhu itu meninggal dunia. Bhikkhu kedua menjadi gelisah … “Engkau telah melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran.”


Pada suatu ketika seorang bhikkhu tersedak di tenggorokannya sewaktu sedang makan. Bhikkhu kedua menepuk lehernya, dengan tujuan untuk membunuhnya. Daging itu keluar bersama dengan darah, tetapi bhikkhu itu tidak meninggal dunia. Bhikkhu kedua menjadi gelisah … “Tidak ada pelanggaran yang mengharuskan pengusiran, tetapi terjadi pelanggaran serius.”


Pada suatu ketika seorang bhikkhu pengumpul dana makanan menerima makanan beracun. Ia membawanya kembali dan memberikan porsi pertama kepada para bhikkhu lain. Mereka tewas. Ia menjadi gelisah … “Apakah yang engkau pikirkan pada saat itu, bhikkhu?”

“Aku tidak mengetahuinya, Yang Mulia.”

“Tidak ada pelanggaran bagi seorang yang tidak mengetahui.”


Pada suatu ketika seorang bhikkhu memberikan racun kepada bhikkhu kedua dengan tujuan untuk menyelidikinya. Bhikkhu itu tewas. Bhikkhu pertama menjadi gelisah … “Apakah yang engkau pikirkan pada saat itu, bhikkhu?”

“Tujuanku adalah ingin menyelidikinya, Yang Mulia.”

“Tidak ada pelanggaran yang mengharuskan pengusiran, tetapi ada pelanggaran serius.”


Pada suatu ketika para bhikkhu di Āḷavī sedang mempersiapkan sebuah situs untuk sebuah kediaman ketika seorang bhikkhu mengangsurkan sebuah batu kepada bhikkhu lain di atasnya. Karena bhikkhu kedua tidak memegangnya dengan benar, batu itu jatuh dan menimpa kepala seorang bhikkhu di bawah, yang kemudian tewas. Bhikkhu kedua menjadi gelisah … “Tidak ada pelanggaran jika tidak disengaja.”


Pada suatu ketika para bhikkhu di Āḷavī sedang mempersiapkan sebuah situs untuk sebuah kediaman ketika seorang bhikkhu mengangsurkan sebuah batu kepada bhikkhu lain di atasnya. Bhikkhu kedua menjatuhkan batu ke kepalanya, dengan tujuan untuk membunuhnya. Ia tewas … Ia tidak tewas. Bhikkhu kedua menjadi gelisah … “Tidak ada pelanggaran yang mengharuskan pengusiran, tetapi ada pelanggaran serius.”


Pada suatu ketika para bhikkhu di Āḷavī sedang membangun dinding untuk sebuah kediaman ketika seorang bhikkhu mengangsurkan sebuah bata kepada bhikkhu lain di atasnya. Karena bhikkhu kedua tidak memegangnya dengan benar, bata itu jatuh dan menimpa kepala seorang bhikkhu di bawah, yang kemudian tewas. Bhikkhu kedua menjadi gelisah … “Tidak ada pelanggaran jika tidak disengaja.”


Pada suatu ketika para bhikkhu di Āḷavī sedang membangun dinding untuk sebuah kediaman ketika seorang bhikkhu mengangsurkan sebuah bata kepada bhikkhu lain di atasnya. Bhikkhu kedua menjatuhkan bata ke kepalanya, dengan tujuan untuk membunuhnya. Ia tewas … Ia tidak tewas. Bhikkhu kedua menjadi gelisah … “Tidak ada pelanggaran yang mengharuskan pengusiran, tetapi ada pelanggaran serius.”


Pada suatu ketika para bhikkhu di Āḷavī sedang melakukan pekerjaan pembangunan ketika seorang bhikkhu mengangsurkan sebuah golok kepada bhikkhu lain di atasnya. Karena bhikkhu kedua tidak memegangnya dengan benar, golok itu jatuh dan menimpa kepala seorang bhikkhu di bawah, yang kemudian tewas. Bhikkhu kedua menjadi gelisah … “Tidak ada pelanggaran jika tidak disengaja.”


Pada suatu ketika para bhikkhu di Āḷavī sedang melakukan pekerjaan pembangunan ketika seorang bhikkhu mengangsurkan sebuah golok kepada bhikkhu lain di atasnya. Bhikkhu kedua menjatuhkan golok ke kepalanya, dengan tujuan untuk membunuhnya. Ia tewas … Ia tidak tewas. Bhikkhu kedua menjadi gelisah … “Tidak ada pelanggaran yang mengharuskan pengusiran, tetapi ada pelanggaran serius.”


Pada suatu ketika para bhikkhu di Āḷavī sedang melakukan pekerjaan pembangunan ketika seorang bhikkhu mengangsurkan sebuah kasau kepada bhikkhu lain di atasnya. Karena bhikkhu kedua tidak memegangnya dengan benar, kasau itu jatuh dan menimpa kepala seorang bhikkhu di bawah, yang kemudian tewas. Bhikkhu kedua menjadi gelisah … “Tidak ada pelanggaran jika tidak disengaja.”


Pada suatu ketika para bhikkhu di Āḷavī sedang melakukan pekerjaan pembangunan ketika seorang bhikkhu mengangsurkan sebuah kasau kepada bhikkhu lain di atasnya. Bhikkhu kedua menjatuhkan kasau ke kepalanya, dengan tujuan untuk membunuhnya. Ia tewas … Ia tidak tewas. Bhikkhu kedua menjadi gelisah … “Tidak ada pelanggaran yang mengharuskan pengusiran, tetapi ada pelanggaran serius.”


Pada suatu ketika para bhikkhu di Āḷavī sedang merakit sebuah panggung tinggi sewaktu sedang melakukan pekerjaan pembangunan. Seorang bhikkhu berkata kepada bhikkhu lainnya, “Rakitlah sambil berdiri di sini.” Ia melakukan itu, dan ia terjatuh dan tewas. Bhikkhu pertama menjadi gelisah … “Apakah yang engkau pikirkan pada saat itu, bhikkhu?”

“Aku tidak bermaksud membunuhnya, Yang Mulia.”

“Tidak ada pelanggaran bagi seorang yang tidak bertujuan pada kematian.”


Pada suatu ketika para bhikkhu di Āḷavī sedang merakit sebuah panggung tinggi sewaktu sedang melakukan pekerjaan pembangunan. Seorang bhikkhu berkata kepada bhikkhu lainnya, “Rakitlah sambil berdiri di sini,” dengan tujuan untuk membunuhnya. Ia melakukan itu, dan ia terjatuh dan tewas … ia terjatuh, tetapi tidak tewas. Bhikkhu pertama menjadi gelisah … “Tidak ada pelanggaran yang mengharuskan pengusiran, tetapi ada pelanggaran serius.”


Pada suatu ketika seorang bhikkhu sedang turun setelah melakukan pekerjaan atap. Bhikkhu kedua berkata, “Turunlah di sini.” Ia melakukannya, dan ia terjatuh dan tewas. Bhikkhu kedua menjadi gelisah … “Tidak ada pelanggaran bagi seseorang yang tidak bertujuan pada kematian.”


Pada suatu ketika seorang bhikkhu sedang turun setelah melakukan pekerjaan atap. Bhikkhu kedua berkata, “Turunlah di sini,” dengan tujuan untuk membunuhnya. Ia melakukannya, dan ia terjatuh dan tewas … ia terjatuh, tetapi tidak tewas. Bhikkhu pertama menjadi gelisah … “Tidak ada pelanggaran yang mengharuskan pengusiran, tetapi ada pelanggaran serius.”


Pada suatu ketika seorang bhikkhu yang sedang diserang oleh nafsu mendaki Puncak Hering, melompati tebing, dan mengenai seorang pembuat keranjang. Si pembuat keranjang tewas, dan bhikkhu itu menjadi gelisah … “Tidak ada pelanggaran yang mengharuskan pengusiran.

Tetapi, para bhikkhu, kalian tidak boleh melompati apapun. Jika kalian melakukannya, maka kalian melakukan pelanggaran perbuatan salah.”


Pada suatu ketika seorang bhikkhu dari kelompok enam mendaki Puncak Hering dan melempar batu untuk bermain-main. Batu itu mengenai seorang gembala sapi, yang kemudian tewas. Mereka menjadi gelisah … “Tidak ada pelanggaran yang mengharuskan pengusiran.

Tetapi, para bhikkhu, kalian tidak boleh melempar batu untuk bermain-main. Jika kalian melakukannya, maka kalian melakukan pelanggaran perbuatan salah.”


Pada suatu ketika seorang bhikkhu tertentu sedang sakit. Para bhikkhu membuatnya berkeringat dengan cara membuatnya kepanasan. Ia meninggal dunia. Mereka menjadi gelisah … “Tidak ada pelanggaran bagi seorang yang tidak bertujuan pada kematian.”


Pada suatu ketika seorang bhikkhu tertentu sedang sakit. Para bhikkhu membuatnya berkeringat dengan cara membuatnya kepanasan, dengan tujuan untuk membunuhnya. Ia meninggal dunia … Ia tidak meninggal dunia. Mereka menjadi gelisah … “Tidak ada pelanggaran yang mengharuskan pengusiran, tetapi ada pelanggaran serius.”


Pada suatu ketika seorang bhikkhu mengalami sakit kepala berat. Para bhikkhu memberinya perawatan medis melalui hidung. Ia meninggal dunia. Mereka menjadi gelisah … “Tidak ada pelanggaran bagi seorang yang tidak bertujuan pada kematian.”


Pada suatu ketika seorang bhikkhu mengalami sakit kepala berat. Para bhikkhu memberinya perawatan medis melalui hidung, dengan tujuan untuk membunuhnya. Ia meninggal dunia ... Ia tidak meninggal dunia. Para bhikkhu menjadi gelisah … “Tidak ada pelanggaran yang mengharuskan pengusiran, tetapi ada pelanggaran serius.”


Pada suatu ketika seorang bhikkhu tertentu sedang sakit. Para bhikkhu memijatnya. Ia meninggal dunia. Para bhikkhu menjadi gelisah … “Tidak ada pelanggaran bagi seorang yang tidak bertujuan pada kematian.”


Pada suatu ketika seorang bhikkhu tertentu sedang sakit. Para bhikkhu memijatnya, dengan tujuan untuk membunuhnya. Ia meninggal dunia ... Ia tidak meninggal dunia. Para bhikkhu menjadi gelisah … “Tidak ada pelanggaran yang mengharuskan pengusiran, tetapi ada pelanggaran serius.”


Pada suatu ketika seorang bhikkhu tertentu sedang sakit. Para bhikkhu memandikannya. Ia meninggal dunia. Para bhikkhu menjadi gelisah … “Tidak ada pelanggaran bagi seorang yang tidak bertujuan pada kematian.”


Pada suatu ketika seorang bhikkhu tertentu sedang sakit. Para bhikkhu memandikannya, dengan tujuan untuk membunuhnya. Ia meninggal dunia ... Ia tidak meninggal dunia. Para bhikkhu menjadi gelisah … “Tidak ada pelanggaran yang mengharuskan pengusiran, tetapi ada pelanggaran serius.”


Pada suatu ketika seorang bhikkhu tertentu sedang sakit. Para bhikkhu melumurinya dengan minyak. Ia meninggal dunia. Para bhikkhu menjadi gelisah … “Tidak ada pelanggaran bagi seorang yang tidak bertujuan pada kematian.”


Pada suatu ketika seorang bhikkhu tertentu sedang sakit. Para bhikkhu melumurinya dengan minyak, dengan tujuan untuk membunuhnya. Ia meninggal dunia ... Ia tidak meninggal dunia. Para bhikkhu menjadi gelisah … “Tidak ada pelanggaran yang mengharuskan pengusiran, tetapi ada pelanggaran serius.”


Pada suatu ketika seorang bhikkhu tertentu sedang sakit. Para bhikkhu membuatnya bangkit. Ia meninggal dunia. Mereka menjadi gelisah … “Tidak ada pelanggaran bagi seorang yang tidak bertujuan pada kematian.”


Pada suatu ketika seorang bhikkhu tertentu sedang sakit. Para bhikkhu membuatnya bangkit, dengan tujuan untuk membunuhnya. Ia meninggal dunia ... Ia tidak meninggal dunia. Para bhikkhu menjadi gelisah … “Tidak ada pelanggaran yang mengharuskan pengusiran, tetapi ada pelanggaran serius.”


Pada suatu ketika seorang bhikkhu tertentu sedang sakit. Para bhikkhu membaringkannya. Ia meninggal dunia. Mereka menjadi gelisah … “Tidak ada pelanggaran bagi seorang yang tidak bertujuan pada kematian.”


Pada suatu ketika seorang bhikkhu tertentu sedang sakit. Para bhikkhu membaringkannya, dengan tujuan untuk membunuhnya. Ia meninggal dunia ... Ia tidak meninggal dunia. Para bhikkhu menjadi gelisah … “Tidak ada pelanggaran yang mengharuskan pengusiran, tetapi ada pelanggaran serius.”


Pada suatu ketika seorang bhikkhu tertentu sedang sakit. Para bhikkhu memberinya makan. Ia meninggal dunia. Mereka menjadi gelisah … “Tidak ada pelanggaran bagi seorang yang tidak bertujuan pada kematian.”


Pada suatu ketika seorang bhikkhu tertentu sedang sakit. Para bhikkhu memberinya makan, dengan tujuan untuk membunuhnya. Ia meninggal dunia ... Ia tidak meninggal dunia. Para bhikkhu menjadi gelisah … “Tidak ada pelanggaran yang mengharuskan pengusiran, tetapi ada pelanggaran serius.”


Pada suatu ketika seorang bhikkhu tertentu sedang sakit. Para bhikkhu memberinya minum. Ia meninggal dunia. Mereka menjadi gelisah … “Tidak ada pelanggaran bagi seorang yang tidak bertujuan pada kematian.”



Pada suatu ketika seorang bhikkhu tertentu sedang sakit. Para bhikkhu memberinya minum, dengan tujuan untuk membunuhnya. Ia meninggal dunia ... Ia tidak meninggal dunia. Para bhikkhu menjadi gelisah … “Tidak ada pelanggaran yang mengharuskan pengusiran, tetapi ada pelanggaran serius.”



Pada suatu ketika seorang perempuan yang suaminya menetap jauh dari rumah menjadi hamil oleh seorang kekasih. Ia berkata kepada seorang bhikkhu yang berhubungan dengan keluarganya, “Yang Mulia, tolonglah aku melakukan aborsi.” “Baiklah,” ia berkata, dan membantunya melakukan aborsi. Anak itu mati. Bhikkhu itu menjadi gelisah … “Engkau telah melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran.”


Pada suatu ketika seorang laki-laki tertentu memiliki dua istri, satu mandul dan yang satu lagi subur. Yang mandul berkata kepada seorang bhikkhu yang berhubungan dengan keluarganya, “Jika istri yang lain melahirkan seorang putra, Yang Mulia, maka ia akan menjadi istri utama. Sudilah membuatnya melakukan aborsi.” “Baiklah,” ia berkata, dan melakukannya. Anak itu mati, tetapi si ibu tidak mati. Bhikkhu itu menjadi gelisah … “Engkau telah melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran.”



Pada suatu ketika seorang laki-laki tertentu memiliki dua istri, satu mandul dan yang satu lagi subur. Yang mandul berkata kepada seorang bhikkhu yang berhubungan dengan keluarganya, “Jika istri yang lain melahirkan seorang putra, Yang Mulia, maka ia akan menjadi istri utama. Sudilah membuatnya melakukan aborsi.” “Baiklah,” ia berkata, dan melakukannya. Si ibu mati, tetapi anak itu tidak mati. Bhikkhu itu menjadi gelisah … “Tidak ada pelanggaran yang mengharuskan pengusiran, tetapi ada pelanggaran serius.”



Pada suatu ketika seorang laki-laki tertentu memiliki dua istri, satu mandul dan yang satu lagi subur. Yang mandul berkata kepada seorang bhikkhu yang berhubungan dengan keluarganya, “Jika istri yang lain melahirkan seorang putra, Yang Mulia, maka ia akan menjadi istri utama. Sudilah membuatnya melakukan aborsi.” “Baiklah,” ia berkata, dan melakukannya. Keduanya mati … keduanya tidak mati. Bhikkhu itu menjadi gelisah … “Tidak ada pelanggaran yang mengharuskan pengusiran, tetapi ada pelanggaran serius.”


Pada suatu ketika seorang perempuan yang sedang hamil berkata kepada seorang bhikkhu yang berhubungan dengan keluarganya, “Yang Mulia, tolonglah aku melakukan aborsi.” “Baiklah, hancurkanlah” ia berkata. Ia menghancurkannya dan mengalami aborsi. Bhikkhu itu menjadi gelisah … “Engkau telah melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran.”


Pada suatu ketika seorang perempuan yang sedang hamil berkata kepada seorang bhikkhu yang berhubungan dengan keluarganya, “Yang Mulia, tolonglah aku melakukan aborsi.” “Baiklah, panaskanlah tubuhmu” ia berkata. Ia memanaskan tubuhnya dan mengalami aborsi. Bhikkhu itu menjadi gelisah … “Engkau telah melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran.”


Pada suatu ketika seorang perempuan mandul berkata kepada seorang bhikkhu yang berhubungan dengan keluarganya, “Sudilah memberiku obat, Yang Mulia, untuk membantu agar aku hamil.” “Baiklah,” ia berkata, dan ia memberikannya obat. Ia mati. Bhikkhu itu menjadi gelisah … “Tidak ada pelanggaran yang mengharuskan pengusiran, tetapi ada pelanggaran perbuatan salah.”


Pada suatu ketika seorang perempuan subur berkata kepada seorang bhikkhu yang berhubungan dengan keluarganya, “Sudilah memberiku obat, Yang Mulia, untuk membantu agar aku tidak hamil.” “Baiklah,” ia berkata … “Tidak ada pelanggaran yang mengharuskan pengusiran, tetapi ada pelanggaran perbuatan salah.”


Pada suatu ketika para bhikkhu dari kelompok enam menggelitik seorang bhikkhu dari kelompok tujuh belas untuk membuatnya tertawa. Karena tidak dapat bernapas, ia mati. Mereka menjadi gelisah … “Tidak ada pelanggaran yang mengharuskan pengusiran.”


Pada suatu ketika para bhikkhu dari kelompok tujuh belas mengalahkan seorang bhikkhu dari kelompok enam, dengan niat untuk melakukan prosedur legal melawannya. Ia mati. Mereka menjadi gelisah … “Tidak ada pelanggaran yang mengharuskan pengusiran.”


Pada suatu ketika seorang bhikkhu pengusir makhluk halus membunuh sesosok makhluk halus. Ia menjadi gelisah … “Tidak ada pelanggaran yang mengharuskan pengusiran, tetapi ada pelanggaran serius.”


Pada suatu ketika seorang bhikkhu mengutus bhikkhu kedua ke sebuah tempat kediaman yang dihuni oleh makhluk halus buas. Makhluk halus itu membunuhnya. Bhikkhu pertama menjadi gelisah … “Tidak ada pelanggaran bagi seorang yang tidak bertujuan pada kematian.”


Pada suatu ketika seorang bhikkhu mengutus bhikkhu kedua ke sebuah tempat kediaman yang dihuni oleh makhluk halus buas, dengan tujuan untuk membunuhnya. Makhluk halus itu membunuhnya … Makhluk halus itu tidak membunuhnya. Bhikkhu pertama menjadi gelisah … “Tidak ada pelanggaran yang mengharuskan pengusiran, tetapi ada pelanggaran serius.”


Pada suatu ketika seorang bhikkhu mengutus bhikkhu kedua ke hutan belantara yang didiami oleh binatang buas. Binatang itu membunuhnya. Bhikkhu pertama menjadi gelisah … “Tidak ada pelanggaran bagi seorang yang tidak bertujuan pada kematian.”


Pada suatu ketika seorang bhikkhu mengutus bhikkhu kedua ke hutan belantara yang didiami oleh binatang buas, dengan tujuan untuk membunuhnya. Binatang itu membunuhnya … Binatang itu tidak membunuhnya. Bhikkhu pertama menjadi gelisah … “Tidak ada pelanggaran yang mengharuskan pengusiran, tetapi ada pelanggaran serius.”


Pada suatu ketika seorang bhikkhu mengutus bhikkhu kedua ke hutan belantara yang didiami oleh kriminal. Kriminal itu membunuhnya. Bhikkhu pertama menjadi gelisah … “Tidak ada pelanggaran bagi seorang yang tidak bertujuan pada kematian.”


Pada suatu ketika seorang bhikkhu mengutus bhikkhu kedua ke hutan belantara yang didiami oleh kriminal, dengan tujuan untuk membunuhnya. Kriminal itu membunuhnya … Kriminal itu tidak membunuhnya. Bhikkhu pertama menjadi gelisah … “Tidak ada pelanggaran yang mengharuskan pengusiran, tetapi ada pelanggaran serius.”


Pada suatu ketika seorang bhikkhu membunuh seseorang, dengan menganggapnya sebagai mereka … membunuh orang lainnya, dengan menganggapnya sebagai mereka … membunuh seseorang, dengan berpikir bahwa mereka adalah yang lain … memnbunuh seorang lainnya, dengan berpikir bahwa mereka adalah yang lain. Para bhikkhu menjadi gelisah … “Engkau telah melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran.”


Pada suatu ketika seorang bhikkhu dirasuki oleh makhluk halus. Bhikkhu lainnya memukulnya. Ia tewas. Bhikkhu lain itu menjadi gelisah … “Tidak ada pelanggaran bagi seorang yang tidak bertujuan pada kematian.”


Pada suatu ketika seorang bhikkhu dirasuki oleh makhluk halus. Bhikkhu lainnya memukulnya, dengan tujuan untuk membunuhnya. Ia tewas … Ia tidak tewas. Bhikkhu kedua itu menjadi gelisah … “Tidak ada pelanggaran yang mengharuskan pengusiran, tetapi ada pelanggaran serius.”


Pada suatu ketika seorang bhikkhu membabarkan khotbah tentang surga kepada seorang yang berperilaku baik. Ia menjadi tertarik dan mati. Bhikkhu itu menjadi gelisah … “Tidak ada pelanggaran bagi seorang yang tidak bertujuan pada kematian.”


Pada suatu ketika seorang bhikkhu membabarkan khotbah tentang surga kepada seorang yang berperilaku baik, dengan tujuan untuk membunuhnya. Ia menjadi tertarik dan mati … Ia menjadi tertarik, tetapi tidak mati. Bhikkhu itu menjadi gelisah … “Tidak ada pelanggaran yang mengharuskan pengusiran, tetapi ada pelanggaran serius.”


Pada suatu ketika seorang bhikkhu membabarkan khotbah tentang neraka kepada seorang yang mengarah menuju neraka. Ia menjadi ketakutan dan mati. Bhikkhu itu menjadi gelisah … “Tidak ada pelanggaran bagi seorang yang tidak bertujuan pada kematian.”


Pada suatu ketika seorang bhikkhu membabarkan khotbah tentang neraka kepada seorang yang mengarah menuju neraka, dengan tujuan untuk membunuhnya. Ia menjadi ketakutan dan mati … Ia menjadi ketakutan, tetapi tidak mati. Bhikkhu itu menjadi gelisah … “Tidak ada pelanggaran yang mengharuskan pengusiran, tetapi ada pelanggaran serius.”


Pada suatu ketika para bhikkhu dari Āḷavī menebang sebatang pohon sewaktu melakukan pekerjaan pembangunan. Seorang bhikkhu berkata kepada bhikkhu kedua, “Tebanglah sambil berdiri di sini.” Ia melakukannya. Pohon itu jatuh menimpanya, dan ia tewas. Bhikkhu pertama menjadi gelisah … “Tidak ada pelanggaran bagi seorang yang tidak bertujuan pada kematian.”


Pada suatu ketika para bhikkhu dari Āḷavī menebang sebatang pohon sewaktu melakukan pekerjaan pembangunan. Seorang bhikkhu berkata kepada bhikkhu kedua, “Tebanglah sambil berdiri di sini,” dengan tujuan untuk membunuhnya. Ia melakukannya. Pohon itu jatuh menimpanya, dan ia tewas … Pohon itu jatuh menimpanya, tetapi ia tidak tewas. Bhikkhu pertama menjadi gelisah … “Tidak ada pelanggaran yang mengharuskan pengusiran, tetapi ada pelanggaran serius.”


Pada suatu ketika para bhikkhu dari kelompok enam membakar sebuah hutan. Orang-orang terbakar dan mati. Para bhikkhu menjadi gelisah … “Tidak ada pelanggaran bagi seorang yang tidak bertujuan pada kematian.”


Pada suatu ketika para bhikkhu dari kelompok enam membakar sebuah hutan, bertujuan menyebabkan kematian. Orang-orang terbakar dan mati … Orang-orang terbakar, tetapi tidak mati. Para bhikkhu menjadi gelisah … “Tidak ada pelanggaran yang mengharuskan pengusiran, tetapi ada pelanggaran serius.”


Pada suatu ketika seorang bhikkhu mendatangi tempat eksekusi, dan berkata kepada si algojo, “Jangan menyiksanya. Bunuhlah dengan satu pukulan.” “Baiklah, Yang Mulia,” ia berkata, dan ia membunuhnya dengan satu pukulan. Bhikkhu itu menjadi gelisah … “Engkau telah melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran.”


Pada suatu ketika seorang bhikkhu mendatangi tempat eksekusi, dan berkata kepada si algojo, “Jangan menyiksanya. Bunuhlah dengan satu pukulan.” Dengan berkata, “Tidak, saya tidak bisa,” ia mengeksekusinya. Bhikkhu itu menjadi gelisah … “Tidak ada pelanggaran yang mengharuskan pengusiran, tetapi ada pelanggaran perbuatan salah.”


Pada suatu ketika seseorang yang tangan dan kakinya telah terpotong berada di rumah sanak saudaranya, dikelilingi oleh sanak-saudaranya. Seorang bhikkhu berkata kepada orang-orang itu, “Apakah kalian ingin membiarkannya meninggal dunia?”

“Ya, Yang Mulia.”

“Berilah ia dadih.”

Mereka memberinya dadih dan ia meninggal dunia. Bhikkhu itu menjadi gelisah … “Engkau telah melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran.”


Pada suatu ketika seseorang yang tangan dan kakinya telah terpotong berada di rumah sanak saudaranya, dikelilingi oleh sanak-saudaranya. Seorang bhikkhunī berkata kepada orang-orang itu, “Apakah kalian ingin membiarkannya meninggal dunia?”

“Ya, Yang Mulia.”

“Berilah ia pencahar asin.”

Mereka memberinya pencahar asin dan ia meninggal dunia. Bhikkhunī itu menjadi gelisah … Kemudian ia memberitahu para bhikkhunī, yang kemudian memberitahu para bhikkhu, yang kemudian memberitahu Sang Buddha. “Para bhikkhu, bhikkhunī itu telah melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran.”

Pelanggaran ketiga yang mengharuskan pengusiran selesai

Komentar [0]