Memuat

Terjemahan [6]

Aturan Latihan tentang Keberpihakan dalam Perpecahan

Kisah Asal-mula

Pada suatu ketika Sang Buddha sedang menetap di Rājagaha di Hutan Bambu, taman suaka tupai. Saat itu Devadatta sedang melakukan perpecahan di dalam Sangha, memecah otoritas. Para bhikkhu berkata, “Devadatta berbicara berlawanan dengan Ajaran dan latihan. Bagaimana mungkin ia melakukan perpecahan di dalam Sangha?”

Tetapi Kokālika, Kaṭamodakatissaka, Khaṇḍadeviyā-putta, dan Samuddadatta berkata kepada para bhikkhu itu, “Tidak, Para Mulia, Devadatta berbicara sesuai dengan Ajaran dan latihan. Dan ia berbicara dengan penerimaan dan persetujuan kami. Ia mengetahui tentang kami dan berbicara mewakili kami, dan kami menyetujui hal ini.”

Para bhikkhu yang memiliki sedikit keinginan mengeluhkan dan mengkritik mereka, “Bagaimana mungkin para bhikkhu ini dapat mendukung perbuatan Devadatta dalam memecah Sangha?”

Mereka menegur para bhikkhu itu dalam berbagai cara dan kemudian memberitahu Sang Buddha. Segera setelah itu Beliau mengumpulkan Sangha dan menanyai para bhikkhu: “Benarkah, para bhikkhu, bahwa ada para bhikkhu yang mendukung hal ini?”

“Benar, Yang Mulia.”

Sang Buddha menegur mereka… “Para bhikkhu, bagaimana mungkin orang-orang dungu ini dapat mendukung hal ini? Hal ini akan mempengaruhi keyakinan orang-orang…” … “Dan, para bhikkhu, aturan latihan ini harus dibacakan sebagai berikut:

Aturan akhir

‘Bhikkhu itu mungkin memiliki satu, dua, atau tiga bhikkhu yang memihaknya dan mendukungnya, dan mereka mungkin berkata, “Para Mulia, jangan mengoreksi bhikkhu ini. Ia berbicara sesuai dengan Ajaran dan latihan. Dan ia berbicara dengan penerimaan dan persetujuan kami. Ia mengetahui tentang kami dan berbicara mewakili kami, dan kami menyetujui hal ini.” Para bhikkhu harus mengoreksi bhikkhu-bhikkhu tersebut dengan cara seperti ini, “Tidak, Para Mulia, bhikkhu ini berbicara berlawanan dengan Ajaran dan latihan. Dan jangan menyetujui perpecahan di dalam Sangha. Berdiamlah bersama Sangha, karena Sangha yang bersatu—dalam kerukunan, dalam keharmonisan, dengan pembacaan bersama—adalah damai.” Jika bhikkhu-bhikkhu ini masih melanjutkan seperti sebelumnya, maka para bhikkhu harus mendesaknya hingga tiga kali untuk membuat mereka berhenti. Jika kemudian mereka berhenti, maka itu baik. Jika mereka tidak berhenti, maka mereka melakukan pelanggaran yang mengharuskan penskorsan.’”

Definisi

Itu:

bhikkhu itu yang melakukan perpecahan di dalam Sangha.

Mungkin memiliki bhikkhu-bhikkhu:

mungkin memiliki para bhikkhu lain.

Yang memihaknya:

mereka memiliki pandangan yang sama, keyakinan yang sama, kepercayaan yang sama dengannya.

Yang mendukungnya:

mereka memujinya dan memihaknya.

Satu, dua, atau tiga:

Ada satu, atau dua, atau tiga. Mereka mungkin mengatakan, “Para Mulia, jangan mengoreksi bhikkhu ini. Ia berbicara sesuai dengan Ajaran dan latihan. Dan ia berbicara dengan penerimaan dan persetujuan kami. Ia mengetahui tentang kami dan berbicara mewakili kami, dan kami menyetujui hal ini.”

Para bhikkhu itu:

para bhikkhu yang memihaknya.

Para bhikkhu:

para bhikkhu lainnya, mereka yang melihat atau mendengar tentang hal itu. Mereka harus mengoreksinya seperti berikut ini:

“Tidak, Para Mulia, bhikkhu ini berbicara berlawanan dengan Ajaran dan latihan. Dan jangan menyetujui perpecahan di dalam Sangha. Berdiamlah bersama Sangha, karena Sangha yang bersatu—dalam kerukunan, dalam keharmonisan, dengan pembacaan bersama—adalah damai.”

Dan mereka harus mengoreksinya untuk kedua kali dan ketiga kalinya. Jika mereka berhenti, maka itu baik. Jika mereka tidak berhenti, maka mereka melakukan pelanggaran perbuatan salah. Jika mereka yang mendengar tentang hal ini tidak mengatakan apa pun, maka mereka melakukan pelanggaran perbuatan salah.

Para bhikkhu itu, bahkan jika mereka harus ditarik ke dalam Sangha, harus dikoreksi seperti berikut ini:

“Tidak, Para Mulia, bhikkhu ini berbicara berlawanan dengan Ajaran dan latihan. Dan jangan menyetujui perpecahan di dalam Sangha. Berdiamlah bersama Sangha, karena Sangha yang bersatu—dalam kerukunan, dalam keharmonisan, dengan pembacaan bersama—adalah damai.”

Mereka harus mengoreksinya untuk kedua kali dan ketiga kalinya. Jika mereka berhenti, maka itu baik. Jika mereka tidak berhenti, maka mereka melakukan pelanggaran perbuatan salah.

Harus mendesak mereka:

“Dan, para bhikkhu, mereka harus didesak seperti berikut ini. Seorang bhikkhu yang kompeten dan mampu harus memberitahu Sangha:

‘Mohon, Para Mulia, aku memohon Sangha untuk mendengarkan. Bhikkhu ini dan ini memihak dan mendukung bhikkhu itu yang melakukan perpecahan di dalam Sangha. Dan mereka masih terus melakukannya. Jika baik menurut Sangha, maka Sangha harus mendesak mereka untuk membuat mereka berhenti. Ini adalah usul.

Mohon, Para Mulia, aku memohon Sangha untuk mendengarkan. Bhikkhu ini dan ini memihak dan mendukung bhikkhu itu yang melakukan perpecahan di dalam Sangha. Dan mereka masih terus melakukannya. Sangha mendesak mereka untuk membuat mereka berhenti. Bhikkhu mana pun yang menyetujui mendesak mereka untuk membuat mereka berhenti harus berdiam diri. Bhikkhu mana pun yang tidak menyetujui silakan berbicara.

Untuk kedua kalinya aku menyampaikan persoalan ini: … Untuk ketiga kalinya aku menyampaikan persoalan ini: Mohon, Yang Mulia, aku memohon Sangha untuk mendengarkan. Bhikkhu ini dan ini memihak dan mendukung bhikkhu itu yang melakukan perpecahan di dalam Sangha. Dan mereka masih terus melakukannya. Sangha mendesak mereka untuk membuat mereka berhenti. Bhikkhu mana pun yang menyetujui mendesak mereka untuk membuat mereka berhenti harus berdiam diri. Bhikkhu mana pun yang tidak menyetujui silakan berbicara.

Sangha telah mendesak bhikkhu ini dan ini untuk membuat mereka berhenti. Sangha menyetujuinya dan oleh karena itu berdiam diri. Aku akan mengingatnya demikian.’”

Setelah usul itu, maka mereka melakukan pelanggaran perbuatan salah. Setelah tiap-tiap dari dua pengumuman pertama, mereka melakukan pelanggaran serius. Ketika pengumuman terakhir selesai, mereka melakukan pelanggaran yang mengharuskan penskorsan. Bagi seorang yang melakukan pelanggaran yang mengharuskan penskorsan, maka pelanggaran perbuatan salah dan pelanggaran serius dibatalkan. Dua atau tiga dapat didesak bersama-sama, tetapi tidak lebih dari itu.

Mereka melakukan pelanggaran yang mengharuskan penskorsan:

… Oleh karena itu, juga, disebut “pelanggaran yang mengharuskan penskorsan”.

Permutasi

Jika itu adalah prosedur hukum yang sah, dan mereka menyadarinya demikian, dan mereka tidak berhenti, maka mereka melakukan pelanggaran yang mengharuskan penskorsan.

Jika itu adalah prosedur hukum yang sah, tetapi mereka tidak dapat memastikannya, dan mereka tidak berhenti, maka mereka melakukan pelanggaran yang mengharuskan penskorsan.

Jika itu adalah prosedur hukum yang sah, tetapi mereka menyadarinya sebagai tidak sah, dan mereka tidak berhenti, maka mereka melakukan pelanggaran yang mengharuskan penskorsan.

Jika itu adalah prosedur hukum yang tidak sah, tetapi mereka menyadarinya sebagai sah, maka mereka melakukan pelanggaran perbuatan salah.

Jika itu adalah prosedur hukum yang tidak sah, tetapi mereka tidak dapat memastikannya, maka mereka melakukan pelanggaran perbuatan salah.

Jika itu adalah prosedur hukum yang tidak sah, dan mereka menyadarinya demikian, maka mereka melakukan pelanggaran perbuatan salah.

Tidak ada pelanggaran

Tidak ada pelanggaran: jika mereka tidak didesak; jika mereka berhenti; jika mereka gila; jika mereka kehilangan akal sehat; jika mereka dikuasai oleh kesakitan; jika mereka adalah pelaku pertama.

Aturan latihan tentang keberpihakan dalam perpecahan, yang kesebelas, selesai.

Komentar [0]