Kisah Asal-mula
Pada suatu ketika, saat Sang Buddha sedang menetap di Rājagaha di Hutan Bambu, para bhikkhu Mettiya dan Bhūmajaka sedang turun dari Puncak Hering ketika mereka melihat dua ekor kambing sedang melakukan hubungan seksual. Mereka berkata satu sama lain, “Ayo kita menamai kambing jantan itu Dabba orang Malla dan kambing betina itu bhikkhunī Mettiyā. Kita dapat mengatakan, ‘Sebelumnya kami mengatakan apa yang kami dengar, tetapi sekarang kami melihat Dabba berhubungan seksual dengan bhikkhunī Mettiyā.’” Maka mereka memberi nama-nama itu kepada kedua kambing tersebut dan memberitahu para bhikkhu, “Sebelumnya kami mengatakan apa yang kami dengar, tetapi sekarang kami melihat Dabba berhubungan seksual dengan bhikkhunī Mettiyā.”
Para bhikkhu menjawab, “Jangan berkata seperti itu. Yang Mulia Dabba tidak akan melakukan itu.”
Para bhikkhu memberitahu Sang Buddha. Segera setelah itu Sang Buddha mengumpulkan Sangha dan menanyai Dabba: “Dabba, apakah engkau ingat melakukan apa yang dikatakan oleh para bhikkhu ini?”
“Yang Mulia, Engkau mengetahui seperti apa aku.”
Untuk kedua kali dan ketiga kalinya Sang Buddha mengajukan pertanyaan yang sama dan memperoleh jawaban yang sama. Kemudian Beliau berkata, “Dabba, para Dabba tidak memberikan jawaban berkelit demikian. Jika engkau melakukannya, katakanlah demikian; jika tidak, maka katakan tidak.”
“Sejak aku lahir, Yang Mulia, aku tidak ingat pernah melakukan hubungan seksual bahkan di dalam mimpi, apalagi ketika terjaga.”
“Baiklah, para bhikkhu, panggil para bhikkhu itu untuk mempertanggungjawabkan.” Dan Sang Buddha bangkit dari dudukNya dan memasuki tempat kediamanNya.
Para bhikkhu kemudian menanyai Mettiya dan Bhūmajaka, yang memberitahu mereka apa yang telah terjadi. Para bhikkhu berkata, “Jadi kalian menuduh Yang Mulia Dabba dengan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran, menggunakan dalih persoalan hukum yang tidak berhubungan?”
“Benar.”
Para bhikkhu yang memiliki sedikit keinginan mengeluhkan dan mengkritik mereka, “Bagaimana mungkin Mettiya dan Bhūmajaka menuduh Yang Mulia Dabba dengan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran, menggunakan dalih persoalan hukum yang tidak berhubungan?”
Mereka menegur para bhikkhu itu dalam berbagai cara dan kemudian memberitahu Sang Buddha. Segera setelah itu Sang Buddha mengumpulkan Sangha dan menanyai para bhikkhu itu: “Benarkah, para bhikkhu, bahwa kalian melakukan hal ini?”
“Benar, Yang Mulia.”
Sang Buddha menegur mereka … “Orang-orang dungu, bagaimana mungkin kalian dapat melakukan hal ini? Hal ini akan mempengaruhi keyakinan orang-orang …” … “Dan, para bhikkhu, aturan latihan ini harus dibacakan sebagai berikut:
Aturan akhir
‘Jika seorang bhikkhu yang marah dan tidak senang, menggunakan persoalan hukum yang tidak berhubungan, sebagai dalih untuk menuduh seorang bhikkhu melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran, dengan tujuan untuk membuatnya meninggalkan kehidupan monastik, dan kemudian setelah beberapa lama, apakah ditanyai atau tidak, menjadi jelas bahwa persoalan hukum itu adalah tidak berhubungan dan digunakan sebagai dalih, dan ia mengakui niat buruknya, maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penskorsan.’”
Definisi
Seorang:
siapa pun …
Bhikkhu:
… Seorang bhikkhu yang telah diberikan penahbisan penuh oleh Sangha yang sepakat melalui prosedur sah yang terdiri dari satu usul dan tiga pengumuman yang tidak dapat dibatalkan dan lengkap – bhikkhu jenis inilah yang dimaksudkan dalam kasus ini.
Seorang bhikkhu:
bhikkhu lainnya.
Marah:
kesal, tidak puas, jengkel, memiliki kebencian, bermusuhan.
Tidak senang:
karena kekesalan itu, kebencian itu, ketidakpuasan, dan kejengkelan itu, maka ia menjadi tidak senang.
Persoalan hukum yang tidak berhubungan:
Ini adalah tidak berhubungan sehubungan dengan pelanggaran atau tidak berhubungan sehubungan dengan persoalan hukum.
Bagaimanakah suatu persoalan hukum adalah tidak berhubungan dengan persoalan hukum? Sebuah persoalan hukum yang muncul dari perselisihan adalah tidak berhubungan dengan persoalan hukum yang muncul dari tuduhan, persoalan hukum yang muncul dari pelanggaran, dan persoalan hukum yang muncul dari urusan. Sebuah persoalan hukum yang muncul dari tuduhan adalah tidak berhubungan dengan persoalan hukum yang muncul dari pelanggaran, persoalan hukum yang muncul dari urusan, dan persoalan hukum yang muncul dari perselisihan. Sebuah persoalan hukum yang muncul dari pelanggaran adalah tidak berhubungan dengan persoalan hukum yang muncul dari urusan, persoalan hukum yang muncul dari perselisihan, dan persoalan hukum yang muncul dari tuduhan. Persoalan hukum yang muncul dari urusan adalah tidak berhubungan dengan persoalan hukum yang muncul dari perselisihan, persoalan hukum yang muncul dari tuduhan, dan persoalan hukum yang muncul dari pelanggaran. Adalah dengan cara ini bahwa sebuah persoalan hukum adalah tidak berhubungan dengan persoalan hukum.
Bagaimanakah suatu persoalan hukum adalah berhubungan dengan persoalan hukum? Sebuah persoalan hukum yang muncul dari perselisihan adalah berhubungan dengan persoalan hukum yang muncul dari perselisihan. Sebuah persoalan hukum yang muncul dari tuduhan adalah berhubungan dengan persoalan hukum yang muncul dari tuduhan. Sebuah persoalan hukum yang muncul dari pelanggaran mungkin berhubungan atau tidak berhubungan dengan persoalan hukum yang muncul dari pelanggaran.
Bagaimanakah sebuah persoalan hukum yang muncul dari pelanggaran adalah tidak berhubungan dengan persoalan hukum yang muncul dari pelanggaran? Suatu pelanggaran yang mengharuskan pengusiran sehubungan dengan hubungan seksual adalah tidak berhubungan dengan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran sehubungan dengan pencurian, pelanggaran yang mengharuskan pengusiran sehubungan dengan manusia, dan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran sehubungan dengan kualitas melampaui manusia. Suatu pelanggaran yang mengharuskan pengusiran sehubungan dengan pencurian adalah tidak berhubungan dengan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran sehubungan dengan manusia, pelanggaran yang mengharuskan pengusiran sehubungan dengan kualitas melampaui manusia, dan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran sehubungan dengan hubungan seksual. Suatu pelanggaran yang mengharuskan pengusiran sehubungan dengan manusia adalah tidak berhubungan dengan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran sehubungan dengan kualitas melampaui manusia, pelanggaran yang mengharuskan pengusiran sehubungan dengan hubungan seksual, dan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran sehubungan dengan pencurian. Suatu pelanggaran yang mengharuskan pengusiran sehubungan dengan kualitas melampaui manusia adalah tidak berhubungan dengan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran sehubungan dengan hubungan seksual, pelanggaran yang mengharuskan pengusiran sehubungan dengan pencurian, dan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran sehubungan dengan manusia. Adalah dengan cara ini bahwa sebuah persoalan hukum yang muncul dari pelanggaran adalah tidak berhubungan dengan persoalan hukum yang muncul dari pelanggaran.
Bagaimanakah sebuah persoalan hukum yang muncul dari pelanggaran adalah berhubungan dengan persoalan hukum yang muncul dari pelanggaran? Suatu pelanggaran yang mengharuskan pengusiran sehubungan dengan hubungan seksual adalah berhubungan dengan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran sehubungan dengan hubungan seksual. Suatu pelanggaran yang mengharuskan pengusiran sehubungan dengan pencurian adalah berhubungan dengan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran sehubungan dengan pencurian. Suatu pelanggaran yang mengharuskan pengusiran sehubungan dengan manusia adalah berhubungan dengan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran sehubungan dengan manusia. Suatu pelanggaran yang mengharuskan pengusiran sehubungan dengan kualitas melampaui manusia adalah berhubungan dengan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran sehubungan dengan kualitas melampaui manusia. Adalah dengan cara ini bahwa sebuah persoalan hukum yang muncul dari pelanggaran adalah berhubungan dengan persoalan hukum yang muncul dari pelanggaran.
Suatu persoalan hukum yang muncul dari urusan adalah berhubungan dengan persoalan hukum yang muncul dari urusan. Adalah dengan cara ini bahwa sebuah persoalan hukum adalah berhubungan dengan persoalan hukum.
Menggunakan sebagai dalih:
Dalih: ada sepuluh jenis dalih—dalih kasta, dalih nama, dalih keluarga, dalih karakteristik, dalih pelanggaran, dalih mangkuk-makanan, dalih jubah, dalih penahbis, dalih guru, dalih tempat kediaman.
- Dalih kasta: seorang bhikkhu melihat seorang bangsawan melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran. Jika ia kemudian menuduh bangsawan lainnya, dengan berkata, “Aku telah melihat seorang bangsawan. Engkau telah melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran. Engkau bukan seorang petapa, bukan seorang monastik Sakya. Engkau dikeluarkan dari upacara uposatha, dari upacara undangan, dan dari prosedur hukum Sangha,” maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penskorsan untuk setiap kalimatnya.
- Seorang bhikkhu melihat seorang brahmana … Seorang bhikkhu melihat seorang pedagang … Seorang bhikkhu melihat seorang pekerja melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran. Jika ia kemudian menuduh pekerja lainnya, dengan berkata, “Aku telah melihat seorang pekerja. Engkau telah melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran. Engkau bukan seorang petapa, bukan seorang monastik Sakya. …” maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penskorsan untuk setiap kalimatnya.
- Dalih nama: seorang bhikkhu melihat seseorang yang bernama Buddharakkhita … Dhammarakkhita … Saṅgharakkhita melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran. Jika ia kemudian menuduh orang lain yang bernama Saṅgharakkhita, dengan berkata, “Aku telah melihat Saṅgharakkhita. Engkau telah melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran. Engkau bukan seorang petapa, bukan seorang monastik Sakya. …” maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penskorsan untuk setiap kalimatnya.
- Dalih keluarga: seorang bhikkhu melihat seseorang yang nama keluarganya adalah Gotama … Moggallāna … Kaccāyana … Vāsiṭṭha melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran. Jika ia kemudian menuduh orang lain yang bernama Vāsiṭṭha, dengan berkata, “Aku telah melihat Vāsiṭṭha. Engkau telah melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran. Engkau bukan seorang petapa, bukan seorang monastik Sakya. …” maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penskorsan untuk setiap kalimatnya.
- Dalih karakteristik: seorang bhikkhu melihat seseorang yang tinggi … pendek … berkulit gelap … berkulit cerah melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran. Jika ia kemudian menuduh seorang berkulit cerah lainnya, dengan berkata, “Aku telah melihat seorang berkulit cerah. Engkau telah melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran. Engkau bukan seorang petapa, bukan seorang monastik Sakya. …” maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penskorsan untuk setiap kalimatnya.
- Dalih pelanggaran: seorang bhikkhu melihat seseorang melakukan suatu pelanggaran ringan. Jika ia kemudian menuduhnya melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran, dengan berkata, “Engkau bukan seorang petapa, bukan seorang monastik Sakya. …” maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penskorsan untuk setiap kalimatnya.
- Dalih mangkuk-makan: seorang bhikkhu melihat seseorang membawa sebuah mangkuk besi … sebuah mangkuk tanah berwarna hitam … sebuah mangkuk tanah biasa melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran. Jika ia kemudian menuduh seorang lainnya yang membawa sebuah mangkuk tanah biasa, dengan berkata, “Aku telah melihat seseorang membawa mangkuk tanah biasa. Engkau telah melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran. Engkau bukan seorang petapa, bukan seorang monastik Sakya. …” maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penskorsan untuk setiap kalimatnya.
- Dalih jubah: seorang bhikkhu melihat seorang pemakai jubah kain-usang … memakai jubah yang diberikan oleh perumah tangga, melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran. Jika ia kemudian menuduh seorang lainnya yang memakai jubah yang diberikan oleh perumah tangga, dengan berkata, “Aku telah melihat seorang yang memakai jubah yang diberikan oleh perumah tangga. Engkau telah melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran. Engkau bukan seorang petapa, bukan seorang monastik Sakya. …” maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penskorsan untuk setiap kalimatnya.
- Dalih penahbis: seorang bhikkhu melihat siswa dari seorang penahbis melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran. Jika ia kemudian menuduh siswa lainnya dari penahbis itu, dengan berkata, “Aku telah melihat siswa si penahbis itu. Engkau telah melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran. Engkau bukan seorang petapa, bukan seorang monastik Sakya. …” maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penskorsan untuk setiap kalimatnya.
- Dalih guru: seorang bhikkhu melihat murid dari seorang guru melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran. Jika ia kemudian menuduh murid lainnya dari guru itu, dengan berkata, “Aku telah melihat murid si guru itu. Engkau telah melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran. Engkau bukan seorang petapa, bukan seorang monastik Sakya. …” maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penskorsan untuk setiap kalimatnya.
- Dalih tempat tinggal: seorang bhikkhu melihat seorang yang berdiam di suatu tempat kediaman tertentu melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran. Jika ia kemudian menuduh seorang lainnya yang menetap di tempat kediaman itu, dengan berkata, “Aku telah melihat seorang yang menetap di tempat kediaman itu. Engkau telah melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran. Engkau bukan seorang petapa, bukan seorang monastik Sakya. Engkau dikeluarkan dari upacara uposatha, dari upacara undangan, dan dari prosedur hukum Sangha,” maka ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penskorsan untuk setiap kalimatnya.
Melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran:
melakukan salah satu di antara empat.
Menuduh:
menuduhnya atau membuatnya dituduh.
Untuk membuatnya meninggalkan kehidupan monastik:
untuk membuatnya meninggalkan kebhikkhuan, meninggalkan status monastik, meninggalkan moralitasnya, meninggalkan manfaat kehidupan monastik.
Dan kemudian setelah beberapa lama:
pada momen, pada saat, pada detik setelah ia menjatuhkan tuduhan.
Ia ditanyai:
ia ditanyai tentang dasar-dasar tuduhannya.
Tidak:
ia tidak berbicara dengan siapa pun.
Persoalan hukum:
ada empat jenis persoalan hukum: persoalan hukum yang muncul dari perselisihan, persoalan hukum yang muncul dari tuduhan, persoalan hukum yang muncul dari pelanggaran, persoalan hukum yang muncul dari urusan.
Digunakan sebagai dalih:
ia menggunakan dalih tertentu di antara dalih-dalih yang disebutkan di atas.
Dan ia mengakui niat buruknya:
“Apa yang kukatakan adalah kosong,” “Apa yang kukatakan adalah salah,” “Apa yang kukatakan adalah tidak nyata,” “Aku mengatakannya tanpa mengetahuinya.”
Ia melakukan pelanggaran yang mengharuskan penskorsan:
… Oleh karena itu, juga, disebut “satu pelanggaran yang mengharuskan penskorsan”.
Permutasi
Melakukan sendiri tuduhan
Seorang bhikkhu melihat bhikkhu kedua melakukan pelanggaran yang mengharuskan penskorsan, dan bhikkhu pertama menganggapnya sebagai pelanggaran yang mengharuskan penskorsan. Jika ia kemudian menuduhnya melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran, dengan berkata, “Engkau bukan seorang petapa, bukan seorang monastik Sakya. Engkau dikeluarkan dari upacara uposatha, dari upacara undangan, dan dari prosedur hukum Sangha,” dengan demikian menggunakan pelanggaran yang tidak berhubungan sebagai dalih, maka ia melakukan satu pelanggaran yang mengharuskan penskorsan untuk setiap kalimatnya.
Seorang bhikkhu melihat bhikkhu kedua melakukan pelanggaran yang mengharuskan penskorsan, tetapi bhikkhu pertama menganggapnya sebagai pelanggaran serius … tetapi bhikkhu pertama menganggapnya sebagai pelanggaran yang mengharuskan penebusan … tetapi bhikkhu pertama menganggapnya sebagai pelanggaran yang mengharuskan pengakuan … tetapi bhikkhu pertama menganggapnya sebagai pelanggaran perbuatan salah … tetapi bhikkhu pertama menganggapnya sebagai pelanggaran ucapan salah. Jika ia kemudian menuduhnya melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran, dengan berkata, “Engkau bukan seorang monastik …” dengan demikian menggunakan pelanggaran yang tidak berhubungan sebagai dalih, maka ia melakukan satu pelanggaran yang mengharuskan penskorsan untuk setiap kalimatnya.
Seorang bhikkhu melihat bhikkhu kedua melakukan pelanggaran serius, dan bhikkhu pertama menganggapnya sebagai pelanggaran serius … tetapi bhikkhu pertama menganggapnya sebagai pelanggaran yang mengharuskan penebusan … tetapi bhikkhu pertama menganggapnya sebagai pelanggaran yang mengharuskan pengakuan … tetapi bhikkhu pertama menganggapnya sebagai pelanggaran perbuatan salah … tetapi bhikkhu pertama menganggapnya sebagai pelanggaran ucapan salah … tetapi bhikkhu pertama menganggapnya sebagai pelanggaran yang mengharuskan penskorsan. Jika ia kemudian menuduhnya melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran, dengan berkata, “Engkau bukan seorang monastik …” dengan demikian menggunakan pelanggaran yang tidak berhubungan sebagai dalih, maka ia melakukan satu pelanggaran yang mengharuskan penskorsan untuk setiap kalimatnya.
Seorang bhikkhu melihat bhikkhu kedua melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan … pelanggaran yang mengharuskan pengakuan … pelanggaran perbuatan salah … pelanggaran ucapan salah, dan bhikkhu pertama menganggapnya sebagai pelanggaran ucapan salah … tetapi bhikkhu pertama menganggapnya sebagai pelanggaran yang mengharuskan penskorsan … tetapi bhikkhu pertama menganggapnya sebagai pelanggaran serius … tetapi bhikkhu pertama menganggapnya sebagai pelanggaran yang mengharuskan penebusan … tetapi bhikkhu pertama menganggapnya sebagai pelanggaran yang mengharuskan pengakuan … tetapi bhikkhu pertama menganggapnya sebagai pelanggaran perbuatan salah. Jika ia kemudian menuduhnya melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran, dengan berkata, “Engkau bukan seorang petapa, bukan seorang monastik Sakya. Engkau dikeluarkan dari upacara uposatha, dari upacara undangan, dan dari prosedur hukum Sangha,” dengan demikian menggunakan pelanggaran yang tidak berhubungan sebagai dalih, maka ia melakukan satu pelanggaran yang mengharuskan penskorsan untuk setiap kalimatnya.
Rangkaian permutasi ini harus dihubungkan dengan memasangkan hal-hal satu demi satu.
Menyuruh orang lain untuk melakukan tuduhan
Seorang bhikkhu melihat bhikkhu kedua melakukan pelanggaran yang mengharuskan penskorsan, dan bhikkhu pertama menganggapnya sebagai pelanggaran yang mengharuskan penskorsan. Jika ia kemudian membuatnya dituduh melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran, dengan berkata, “Engkau bukan seorang monastik ….” dengan demikian menggunakan pelanggaran yang tidak berhubungan sebagai dalih, maka ia melakukan satu pelanggaran yang mengharuskan penskorsan untuk setiap kalimatnya.
Seorang bhikkhu melihat bhikkhu kedua melakukan pelanggaran yang mengharuskan penskorsan, tetapi bhikkhu pertama menganggapnya sebagai pelanggaran serius … tetapi bhikkhu pertama menganggapnya sebagai pelanggaran yang mengharuskan penebusan … tetapi bhikkhu pertama menganggapnya sebagai pelanggaran yang mengharuskan pengakuan … tetapi bhikkhu pertama menganggapnya sebagai pelanggaran perbuatan salah … tetapi bhikkhu pertama menganggapnya sebagai pelanggaran ucapan salah. Jika ia kemudian membuatnya dituduh melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran, dengan berkata, “Engkau bukan seorang monastik …” dengan demikian menggunakan pelanggaran yang tidak berhubungan sebagai dalih, maka ia melakukan satu pelanggaran yang mengharuskan penskorsan untuk setiap kalimatnya.
Seorang bhikkhu melihat bhikkhu kedua melakukan pelanggaran serius, dan bhikkhu pertama menganggapnya sebagai pelanggaran serius … tetapi bhikkhu pertama menganggapnya sebagai pelanggaran yang mengharuskan penebusan … tetapi bhikkhu pertama menganggapnya sebagai pelanggaran yang mengharuskan pengakuan … tetapi bhikkhu pertama menganggapnya sebagai pelanggaran perbuatan salah … tetapi bhikkhu pertama menganggapnya sebagai pelanggaran ucapan salah … tetapi bhikkhu pertama menganggapnya sebagai pelanggaran yang mengharuskan penskorsan. Jika ia kemudian membuatnya dituduh melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran, dengan berkata, “Engkau bukan seorang monastik …” dengan demikian menggunakan pelanggaran yang tidak berhubungan sebagai dalih, maka ia melakukan satu pelanggaran yang mengharuskan penskorsan untuk setiap kalimatnya.
Seorang bhikkhu melihat bhikkhu kedua melakukan pelanggaran yang mengharuskan penebusan … pelanggaran yang mengharuskan pengakuan … pelanggaran perbuatan salah … pelanggaran ucapan salah, dan bhikkhu pertama menganggapnya sebagai pelanggaran ucapan salah … tetapi bhikkhu pertama menganggapnya sebagai pelanggaran yang mengharuskan penskorsan … tetapi bhikkhu pertama menganggapnya sebagai pelanggaran serius … tetapi bhikkhu pertama menganggapnya sebagai pelanggaran yang mengharuskan penebusan … tetapi bhikkhu pertama menganggapnya sebagai pelanggaran yang mengharuskan pengakuan … tetapi bhikkhu pertama menganggapnya sebagai pelanggaran perbuatan salah. Jika ia kemudian membuatnya dituduh melakukan pelanggaran yang mengharuskan pengusiran, dengan berkata, “Engkau bukan seorang petapa, bukan seorang monastik Sakya. Engkau dikeluarkan dari upacara uposatha, dari upacara undangan, dan dari prosedur hukum Sangha,” dengan demikian menggunakan pelanggaran yang tidak berhubungan sebagai dalih, maka ia melakukan satu pelanggaran yang mengharuskan penskorsan untuk setiap kalimatnya.
Tidak ada pelanggaran
Tidak ada pelanggaran: jika ia menuduh atau membuatnya dituduh sesuai dengan persepsi pribadinya sendiri; jika ia gila; jika ia adalah pelaku pertama.
Aturan latihan tentang dalih (yang tidak berhubungan), yang kesembilan, selesai.
Komentar [0]